Bikin Warga Mual, Limbah Dapur SPPG Pangenan Cirebon Diduga Cemari Lingkungan
Limbah dapur SPPG Pangenan Cirebon diduga mencemari lingkungan. Warga Desa Beringin Pangenan keluhkan bau menyengat dan air tanah tercemar.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Niat memberi asupan gizi justru berujung polusi. Operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Beringin, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, kini tengah dihujani kritik.
Dapur yang dikelola Yayasan Sada Bina Futura ini diduga kuat mencemari lingkungan hingga meresahkan warga sekitar. Warga menyebut kondisi tersebut telah berlangsung cukup lama dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Ketua Umum Forum Masyarakat Sipil untuk Keadilan dan Demokrasi (Formasi) Cirebon, Qorib Magelung Sakti, menilai persoalan tersebut sebagai indikasi adanya kelalaian dalam pengelolaan limbah.
“Ini bukan sekadar bau tidak sedap, tapi indikasi kuat adanya pengelolaan limbah yang tidak sesuai standar. Kalau dibiarkan, ini bisa menjadi ancaman serius bagi kesehatan warga,” ujarnya, Kamis (2/4/2026).
Menurutnya, program pemenuhan gizi seharusnya memberikan manfaat kesehatan, bukan justru menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan sekitar.
“Program gizi seharusnya menyehatkan, bukan malah menciptakan sumber penyakit. Ini menjadi ironi,” tegasnya.
Selain bau, FORMASI juga menyoroti dugaan kebocoran pada sistem penampungan limbah. Kebocoran tersebut diduga menyebabkan limbah merembes ke lingkungan warga dan berpotensi mencemari air tanah serta sumur.
Qorib mengingatkan, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit berbasis lingkungan, seperti diare, infeksi saluran pernapasan, dan gangguan kulit. “Jangan tunggu ada korban. Pemerintah harus hadir dan bertindak tegas,” ucapnya.
Di sisi lain, warga terdampak mengaku telah lama merasakan gangguan. Abdul Gani, seorang warga mengatakan, bau limbah kerap tercium terutama pada malam hari.
“Baunya sangat menyengat, sampai membuat mual. Aktivitas dapur yang bising juga menambah gangguan,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala SPPG Desa Beringin, Wahyu Cahyanuddin mengaku telah melakukan sejumlah upaya perbaikan.
“Kami sudah berupaya memperbaiki kondisi yang ada. Ke depan, akan dilakukan pengurukan serta penyedotan limbah secara berkala setiap dua minggu,” jelasnya.
Dia menambahkan, pengaturan waktu operasional akan dilakukan untuk meminimalkan gangguan terhadap warga.
“Kami akan mengatur jam operasional, termasuk aktivitas pencucian peralatan, agar tidak mengganggu lingkungan sekitar,” tutupnya. ***
Editor : Gin gin T Ginulur
