Bukan Sekadar Belajar di Kelas, Siswa SMAN 6 Tasik Praktik Budidaya Magot hingga Ayam

Siswa SMAN 6 Tasikmalaya belajar mengolah sampah organik, membudidayakan magot, serta memelihara ikan dan ayam melalui program kokurikuler sejak 2025.

Bukan Sekadar Belajar di Kelas, Siswa SMAN 6 Tasik Praktik Budidaya Magot hingga Ayam
Siswa SMAN 6 Tasikmalaya saat mengolah sampah organik menjadi kompos, pupuk organik cair, hingga magot. N Nurohman

INILAHKORAN.ID – Pembelajaran di SMAN 6 Tasikmalaya tak hanya berlangsung di dalam kelas. Sejumlah siswa terlibat langsung dalam pengelolaan sampah organik, budidaya magot, pemeliharaan ikan, hingga peternakan ayam sebagai bagian dari pendidikan karakter dan pengembangan keterampilan praktis.

Program yang dimulai sejak 2025 ini dirancang untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekaligus membekali siswa dengan pengalaman yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat, maupun dunia kerja.

Koordinator Kokurikuler SMAN 6 Tasikmalaya, Nandar Setiamulyadi, mengatakan program tersebut sejalan dengan penguatan pendidikan karakter, termasuk nilai-nilai Pancawaluya yang dikembangkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pembelajaran terkait perubahan iklim.

"Selaras juga dengan kebijakan pemerintah, Permendikdasmen ada kurikulum perubahan iklim, ada Pancawaluya-nya di Pemprov Jawa Barat, itu selaras dengan yang ada di kita," ujar Nandar, Senin (12/10/2026).

Melalui kegiatan kokurikuler, siswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga mempraktikkan pemilahan dan pengolahan sampah organik, pembuatan kompos, budidaya magot, serta pemeliharaan ikan dan ayam.

"Kita kembangkan melalui program kokurikuler. Harapannya yang paling utama bagaimana menerapkan pendidikan karakter di sekolah, hingga terjun ke masyarakat bisa diterapkan oleh siswa," lanjutnya.

Dalam pelaksanaannya, sekolah menerapkan jadwal piket untuk merawat ikan, ayam, dan magot. Saat ini, praktik tersebut masih melibatkan dua kelas sebagai proyek percontohan, dengan dukungan guru, manajemen sekolah, dan pengelola kantin.

Bagi siswa, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk mengasah kemampuan melalui pengalaman langsung. Mereka dapat mengenal proses budidaya sekaligus memahami pentingnya perawatan hewan dan pengelolaan sampah.

Salah seorang siswi, Nazla Latisha, menilai kegiatan tersebut membantu siswa mengembangkan keterampilan yang tidak cukup diperoleh melalui pembelajaran teori.

"Ini bisa melatih skil yang ada dalam diri siswa, misalnya budidaya, perawatan ayam dan ikan. Tidak hanya teori tapi praktek langsung," kata Nazla.

Ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi bekal ketika memasuki dunia kerja maupun saat beraktivitas di tengah masyarakat, termasuk dalam mengembangkan keterampilan budidaya magot.

"Bermanfaat sekali untuk nanti di lapangan kerja atau di lingkungan masyarakat," ujarnya.

Hal senada disampaikan siswa lainnya, Shaffal Ulla Bani. Ia mengaku bangga dapat mengikuti kegiatan yang memadukan kepedulian terhadap lingkungan dengan praktik peternakan dan budidaya.

"Saya bangga masuk sekolah SMAN 6, jarang-jarang sekolah SMA mengadakan peternakan dan pengolahan sampah," kata Shaffal.

Menurutnya, pengalaman yang diperoleh di sekolah dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan berpotensi dikembangkan menjadi kegiatan produktif setelah lulus.

"Kita dapat pengalaman untuk diterapkan di masyarakat. Harapannya ketika sudah keluar bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari, mengelola magot, ikan serta ayam bisa menjadi sampingan juga ketika nanti sudah bekerja," tuturnya.

Melalui program kokurikuler ini, SMAN 6 Tasikmalaya berupaya menjadikan lingkungan sekolah sebagai ruang belajar yang menghubungkan pendidikan karakter dengan praktik nyata. Dengan begitu, kepedulian terhadap lingkungan diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan yang dibawa siswa ke tengah masyarakat.


Editor : Ahmad Sayuti