Bulir Padi Menunggu Tangan Pewaris

SAWAH di Soreang masih terbentang, tetapi tenaga penggarap kian terbatas. Anak muda memilih pekerjaan lain, meninggalkan petani yang kian menua.

Bulir Padi Menunggu Tangan Pewaris
KIAN TERBATAS: Ketua Kelompok Tani Sejahtera Desa Pamekaran, Ade Rasmana (60), mengeluhkan tenaga kerja di sawah yang kian terbatas. Anak-anak muda lebih tertarik bekerja di pabrik. INILAH/Dani Rahmat Nugraha

Ade Rasmana sudah berpuluh-puluh tahun akrab dengan lumpur sawah. Pada usianya yang menginjak 60 tahun, dia masih menyaksikan padi ditanam dan dipanen di Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung. 

Namun, ada yang berubah dari tahun ke tahun. Orang-orang yang bekerja di sawah semakin sulit dicari, sementara anak-anak muda yang diharapkan meneruskan pekerjaan itu kian jarang terlihat.

Ketua Kelompok Tani Sejahtera Desa Pamekaran itu merasakan perubahan tersebut setiap musim tanam tiba. Pekerjaan menanam padi atau tandur yang semestinya melibatkan banyak tangan kini harus diselesaikan oleh pekerja yang jumlahnya terbatas.

Untuk menggarap satu hektare sawah, idealnya dibutuhkan sekitar 20 orang tenaga kerja. Kini, menurut Ade, pekerjaan yang sama terkadang hanya dikerjakan enam orang.

Mereka yang masih bersedia turun ke sawah rata-rata berusia di atas 50 tahun. Sementara itu, pekerja berusia di bawah 30 tahun semakin jarang ditemukan.

"Seperti untuk kebutuhan tandur, dalam satu hektare itu diperlukan sekitar 20 orang tenaga kerja. Tapi karena sulitnya mencari pekerja, satu hektare itu dikerjakan oleh sekitar enam orang saja," kaya Ade, kepada INILAH, Rabu (14/10). 

Memang, lanjut dia, rata-rata usia pekerja yang masih mau turun ke sawah di atas 50 tahun. "Jarang sekali yang masih muda di bawah 30 tahun," kata Ade 

Bagi Ade, persoalan ini bukan semata-mata tentang berkurangnya jumlah pekerja. Ada perubahan pilihan hidup yang membuat sawah semakin kehilangan tenaga muda. Bekerja di pabrik atau pertokoan dianggap lebih menarik karena pekerjaan dinilai lebih ringan dan penghasilannya lebih menjanjikan.

"Anak-anak muda sekarang sudah tidak tertarik untuk bekerja di sawah. Mereka lebih memilih kerja di pabrik dan pertokoan, mungkin dirasa lebih ringan serta upahnya besar," warga Kampung Mulyasari, Desa Cingcin, Kecamatan Soreang itu.

Ketika musim tanam datang, kebutuhan tenaga kerja tak bisa ditunda. Padi harus ditanam sesuai tahapan budidaya, tetapi jumlah pekerja yang tersedia tak selalu mencukupi. Para petani pun harus menyesuaikan jadwal dan membagi tenaga yang terbatas untuk menggarap sawah milik sejumlah pemilik maupun penggarap.

Tak jarang, pekerja didatangkan dari luar Kecamatan Soreang. Bahkan, untuk mengangkut hasil panen dari tengah sawah menuju tepi jalan, petani membutuhkan bantuan tenaga dari Kecamatan Banjaran.

Upah untuk memikul hasil panen itu mencapai Rp10.000 per karung. Ongkos tersebut menjadi bagian dari biaya yang harus diperhitungkan petani ketika tenaga kerja lokal semakin sulit diperoleh.

Pekerjaan di sawah memang tak seluruhnya bisa dilakukan dengan mudah. Sejumlah tahapan budidaya masih membutuhkan tenaga manusia, terutama ketika kondisi lahan menyulitkan penggunaan mesin. Ketika jumlah pekerja menyusut, petani harus mencari cara agar pekerjaan tetap selesai.

Di tengah situasi itu, biaya produksi menjadi tantangan tersendiri. Petani tak hanya memikirkan bagaimana padi tumbuh dengan baik, tetapi juga bagaimana seluruh pekerjaan bisa diselesaikan dengan tenaga dan biaya yang tersedia.

Harapan untuk mengurangi ketergantungan terhadap buruh sebenarnya terbuka melalui mekanisasi pertanian. Mesin dan peralatan modern dapat membantu mempercepat pekerjaan sekaligus mengurangi kebutuhan tenaga manusia.

Namun, bagi Ade, teknologi belum sepenuhnya menjadi jawaban. Kondisi sawah yang basah dan berlumpur membuat sejumlah mesin sulit digunakan. Dia  menilai, peralatan bantuan pemerintah perlu disesuaikan dengan karakteristik lahan agar benar-benar bisa dimanfaatkan petani.

"Karena lahan di Indonesia sama di luar negeri berbeda. Seperti di luar negeri itu lahan sawahnya kering dan berpasir. Nah, kalau di Indonesia lahannya basah, jadi kalau mesin masuk ke dalam lahan sawah, ya terperosok," katanya.

Pengalaman itu menunjukkan, persoalan pertanian tidak cukup diselesaikan dengan menyediakan mesin. Teknologi juga harus sesuai dengan kondisi lahan dan kebutuhan orang-orang yang menggunakannya.

Bagi petani seperti Ade, alat pertanian semestinya menjadi penolong ketika tenaga kerja sulit ditemukan. Jika tak sesuai dengan kondisi sawah, harapan untuk meringankan pekerjaan justru sulit diwujudkan.

Di luar persoalan tenaga kerja, petani Soreang juga menghadapi perubahan lingkungan tempat mereka menggantungkan penghidupan. Pembangunan kawasan terus berlangsung, sementara lahan pertanian yang tersisa semakin terbatas.

Ade merasakan dampaknya terhadap kegiatan bertani. Selain ruang garapan yang berkurang, ia juga mengeluhkan serangan hama yang semakin mengganggu. Salah satu hama yang disebutnya adalah kungkang.

"Pembangunan yang terus terjadi di kawasan Soreang, ya otomatis lahan garapan sawah kami juga terus berkurang. Dampak yang kami rasakan salah satunya serangan hama jadi lebih ganas, karena lahannya sedikit jadi hama lebih berkumpul. Selain itu, pendapatan kami pun terus menurun drastis," katanya.

Bagi petani penggarap, berkurangnya lahan berarti semakin terbatas pula ruang untuk menghasilkan pendapatan. Tekanan itu terasa lebih berat ketika biaya tenaga kerja harus diperhitungkan, sementara persoalan hama dapat memengaruhi hasil panen.

Berbagai persoalan tersebut datang bersamaan. Petani harus mempertahankan produktivitas, mencari pekerja, menyesuaikan penggunaan teknologi, dan menghadapi lahan yang terus menyusut.

Ade memimpin Kelompok Tani Sejahtera yang memiliki 45 anggota. Secara keseluruhan, mereka menggarap sekitar 25 hektare lahan. 

Namun, sebagian besar anggota kelompok bukan pemilik sawah, melainkan petani penggarap. Banyak pemilik lahan justru berasal dari luar Kabupaten Bandung.

Kondisi itu membuat keberlangsungan usaha tani bergantung pada kemampuan para penggarap mempertahankan produktivitas di lahan yang bukan milik sendiri. Mereka tetap harus mengolah tanah, menanam padi, dan menghadapi biaya produksi agar sawah terus menghasilkan.

Bagi Ade dan anggota kelompoknya, sawah bukan sekadar hamparan tempat padi tumbuh. Sawah menjadi sumber penghidupan yang harus dipertahankan, meski orang-orang yang bersedia menggarapnya semakin sedikit.

Pada usia ketika sebagian orang mulai mengurangi aktivitas fisik, Ade masih menyaksikan pekerjaan di sawah bergantung pada tenaga petani yang sebagian besar tak lagi muda. Sementara itu, generasi berikutnya belum banyak yang tertarik meneruskan pekerjaan tersebut. (dani rahmat nugraha/gin)


Editor : Inilahkoran