Cerita Dibalik Karya Kreatif Lukisan Pir Terbelah dan Wajah Kucing Karya Dua Remaja Tuna Rungu Asal Brunei Darussalam 

Puluhan sorot tatapan tajam pengunjung tertuju pada setiap lukisan yang terpajang dipamerkan di sebuah ruangan yang baru saja diresmikan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Arif Havas Oegroseno dan Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail.

Cerita Dibalik Karya Kreatif Lukisan Pir Terbelah dan Wajah Kucing Karya Dua Remaja Tuna Rungu Asal Brunei Darussalam 
Puluhan sorot tatapan tajam pengunjung tertuju pada setiap lukisan yang terpajang dipamerkan di sebuah ruangan yang baru saja diresmikan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Arif Havas Oegroseno dan Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail.

INILAHKORAN, Ngamprah - Puluhan sorot tatapan tajam pengunjung tertuju pada setiap lukisan yang terpajang dipamerkan di sebuah ruangan yang baru saja diresmikan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Arif Havas Oegroseno dan Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail.

Seolah menghipnotis bagi siapa saja yang datang, lukisan dengan beragam aliran mulai surealis, representatif, naturalisme, dan aliran lukisan lainnya ternyata hasil karya seniman disabilitas se-Asia Tenggara.

Lebih dari 20 lukisan dipamerkan pada event internasional Masagi#2: ASEAN Disability Art Exhibition "Silent Memories, Resonant World" yang digelar di Galeri Panyawangan, Bale Seni Barli, Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat mulai 30 Agustus hingga 27 September 2025.

Tak hanya sekadar melihat, banyak dari pengunjung mengabadikan lukisan-lukisan yang tak semuanya bisa dinikmati orang awam. Seperti potret wajah kucing yang terbentuk dari polesan kuas dengan warna bermacam-macam. Ada pula lukisan berbentuk 'absurd' yang cuma bisa dinikmati segelintir orang. 

Kemudian gambar buah pir, yang buat orang tak menyelami seni sampai ke dasarnya cuma pir yang dituangkan ke permukaan kanvas. 

Lukisan buah pir terbelah itu diketahui merupakan karya Awangku Mohammad Imaduddin Rahman Bin Pangeran H. Norahalim, seorang pemuda Brunei Darussalam.

Imad, begitu ia disapa, punya seorang saudara yang juga melukis kucing dan turut dipajang di galeri seni Barli itu. Lukisan kucing lahir dari tangan dingin Awangku Mohammad Ilhamuddin Rahman Bin Pangeran H. Norahalim

"lukisan pir ini karya anak saya, Imad dan satu lagi yang kucing karya anak saya juga, Ilham. Kami dari Brunei," kata orangtua Imad dan Ilham, Ir. Hj. Mila Triesyana Lahmuddin saat ditemui.

Mila menyebut, kedua putra kesayangannya merupakan penyandang tuna rungu. Namun segala keterbatasan yang dimiliki, tak mampu membendung jiwa kreatif dan produktif keduanya. 

Sebab menurutnya, karya tak melulu harus lahir dari mereka yang berpenampilan dan punya kondisif fisik sempurna.

Mila bercerita awal karya kedua anaknya bisa dipajang di galeri seni yang ada di kawasan Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) itu setelah ada permintaan pengiriman tiga karya. 

"Jadi setelah dipilih dari 3 karya itu, karena semua peserta mengirimkan 3 karya, anak saya terpilih yang lukisannya buah pir dan kucing. Kebetulan anak saya tuna rungu," kata Mila. 

Di balik karya luar biasa yang memanjakan mata, Mila mengungkapkan kisah di sepanjang proses kreatifnya. Sebagai anak disabilitas, Imad dan Ilham punya kecenderungan suasana hati yang tak melulu stabil.

"Proses kreatifnya enggak lama, tapi ikut mood karena mereka anak disabilitas. Jadi karena mood yang berubah-ubah, jadi kalau mereka mau buat (melukis), kalau enggak ya enggak. Itu tantangannya," ungkapnya.

Pelaksana Harian Bale Seni Barli, Efi Gunawan mengatakan, galeri seni lukis tersebut tak berdiri sendiri. Nantinya bakal disuguhkan culture park, creative hub, hingga wadah khusus untuk menawarkan beragam makanan tradisional dan kesenian Jawa Barat. 

"Jadi Bale Seni Barli ini ada culture parkz creative hub, wisata edukasi, ada booth makanan tradisional, penampilan kesenian seperti tarian dan musik," kata Efi. 

"Jadi di sini kami ingin menggabungkan wajah baru dari Bale Seni Barli," sambungnya.

"Ini merupakan satu upaya yang luar biasa ya. Karena ini adalah suatu seni yang dilakukan oleh masyarakat yang disabilitas dari seluruh Asia Tenggara," kata Wamenlu Arif Havas saat ditemui disela acara.

"Jadi tidak hanya Indonesia, tapi juga dari negara-negara lain," sambungnya.

Menurutnya, ada sejumlah pesan dari pameran seni rupa ini. Pertama, kegiatan ini tidak hanya lokal namun juga sudah di level internasional.

"Yang kedua, ini juga menunjukkan para kaum disabilitas itu bukan berarti mereka tidak bisa berekspresi seni gitu ya. Dan kalau kita lihat dari hasil karya ini luar biasa semua, sangat detail dan ekspresif," tuturnya.

Tak cuma itu, Arif mengakui ada satu hal yang membuat mereka sejajar dan bahkan lebih dari orang-orang yang tidak memiliki persoalan fisik atau khusus.

"Oleh karena itu, kegiatan seperti ini harus di upskill tidak hanya di tingkat Asia Tenggara, tapi mungkin juga di tingkat luas, lebih luas lagi global gitu ya," ujarnya.*** 


Editor : JakaPermana