Cerita Iptu Maharrani Setyadevi, Polwan Muda dengan Segudang Prestasi yang Kini Bertugas di Mapolres Cimahi
Wanita tangguh jadi istilah yang tepat disematkan kepada Iptu Maharrani Setyadevi Hartanto S.Tr.K. Diusianya yang baru menginjak 29 tahun, perempuan muda ini telah memiliki segudang prestasi yang membanggakan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Cimahi - Wanita tangguh jadi istilah yang tepat disematkan kepada Iptu Maharrani Setyadevi Hartanto S.Tr.K. Diusianya yang baru menginjak 29 tahun, perempuan muda ini telah memiliki segudang prestasi yang membanggakan.
Tak Hanya di instansi kepolisian, namun juga bagi orang-orang terdekatnya. Betapa tidak, perempuan kelahiran Sragen, 19 Mei 1995 ini memiliki karir yang melesat.
Mengawali karirnya, Maharrani merupakan siswi Akademi Kepolisian yang lulus pada tahun 2018. Seusai lulus, Srikandi ini kemudian ditugaskan di Badan Intelijen dan Keamanan (Baintelkam) Mabes Polri pada tahun 2018-2019.
Tahun 2019-2020, ibu anak satu ini bertugas di Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Barat. Kemudian, tahun 2020 hingga saat ini, Maharrani bertugas sebagai Kepala Unit Tindak Pidana Tertentu (Kanit Tipiter).
Tak Hanya itu, Maharrani juga sempat bergabung dalam Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror se-Jawa Barat.
"Paling berkesan, beberapa waktu ke belakang saya pernah bergabung dalam Satgas Densus 88 AT se-Jawa Barat," Iptu Maharrani saat ditemui di Mapolres Cimahi, Selasa 3 September 2024.
"Bahkan, hingga saat ini saya masih dipertanyakan di Satgaswil Densus 88 AT," sambungnya.
Maharrani mengaku, pengalamannya di Satgaswil Densus 88 AT Jawa Barat itu menjadi hal yang paling berkesan bagi dirinya selama bertugas di kepolisian.
"Di situ saya banyak belajar tentang terorisme, tidak hanya pada tersangkanya saja, tapi efek atau dampak bagi anak istrinya setelah anggota keluarganya diamankan ataupun ikut tindak pidana tersebut," ungkap Maharrani.
"Sejauh ini, sudah sekitar 8 tersangka teroris yang pihaknya amankan," sambungnya.
Ditanya terkait aksi tembak-menembak selama bertugas di kepolisian, Maharrani menyebut, hal itu bersifat situasional dan tidak bisa dilakukan sembarangan.
"Kalau memang situasinya sudah betul-betul mendesak dan tepat, maka kita bisa melakukannya," ucapnya.
Kendati demikian, lanjut Maharrani, selama menjadi polisi wanita (Polwan) banyak kesenangan yang dia rasakan ketimbang kesulitan.
Menurutnya, banyak kontribusi yang dirinya bisa berikan untuk masyarakat, mulai dari bisa melindungi, mengayomi, melayani hingga menyelesaikan beragam persoalan di masyarakat.
"Yang menjadi tantangan bagi kami polisi perempuan, kita punya keluarga dan anak yang harus kita jaga dan kita rawat," ucapnya.
"Tetapi di sisi lain, kita juga harus melaksanakan tugas secara profesional baik di kantor maupun di lapangan," sambungnya.
Tak hanya itu, sebagai bagian dari Reserse tantangan yang harus dihadapi seorang Maharrani adalah menyelesaikan semua perkara yang ada di masyarakat.
"Alhamdulillah kita bisa membantu masyarakat dengan ikhlas," ucapnya.
Maharrani juga bersyukur lantaran semua yang dijalaninya merupakan sebuah pengalaman yang luar biasa bagi para Polwan.
"Alhamdulillah semua yang kita kerjakan diungkap dengan baik dan memberikan kepuasan bagi masyarakat," ucapnya.
Maharrani pun berpesan kepada seluruh Polwan yang ada di Indonesia untuk jangan sekali-kali takut untuk terus berkarya dan tetap berdedikasi terhadap negara dan masyarakat.
"Tetap semangat dimanapun kalian berada, insyaallah niat baik akan jadi baik," pungkas Maharrani.***
Editor : JakaPermana
