Dari Gubuk Reyot ke Harapan Baru: Kisah Keluarga Kar’an dan Tangan Dermawan 'Bos Koi'
Keluarga Kar’an dan Tati di Banjar, Jawa Barat, akhirnya keluar dari rumah reyot setelah mendapat bantuan dari Hartono Soekwanto, pengusaha asal Bandung yang dikenal sebagai “Bos Koi”. Bersama Baznas dan Jabar Bergerak, rumah baru mereka kini tengah dibangun.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Banjar - Di tengah hidup yang serba kekurangan, harapan bisa datang dari arah yang tak terduga. Begitulah yang dialami keluarga Kar’an (64) dan Tati (61) di Kota Banjar, Jawa Barat.
Setelah bertahun-tahun tinggal di rumah hampir ambruk bersama 11 anggota keluarga, mereka akhirnya mendapat uluran tangan dari pengusaha asal Bandung yang datang langsung membawa harapan baru —sebuah rumah layak huni dan kehidupan yang lebih manusiawi.
Selama tiga tahun terakhir, Kar’an (64) dan Tati (61) tinggal di gubuk berdinding bilik bambu di Dusun Cibeureum, Desa Balokang. Dindingnya lapuk, atapnya bocor, dan lantainya tanah. Di ruang sempit itu, tiga keluarga hidup berdesakan, tidur berdempetan setiap malam, menahan dingin dan kebocoran yang kian parah.
“Kalau ada uang, kami beli beras. Kalau tidak, ya makan singkong atau apa saja yang ada,” ujar Kar’an lirih, mengenang hari-hari sulit itu. Bantuan beras dari pemerintah yang dulu mereka terima pun telah lama terhenti.
Kisah pilu itu akhirnya sampai ke tangan Hartono Soekwanto, pengusaha asal Bandung yang dikenal sebagai “Bos Koi”. Dia mengetahui kondisi keluarga Kar’an dari unggahan media sosial dan berita daring. Tanpa banyak pikir panjang, Hartono memutuskan untuk datang langsung ke Banjar.
“Aduh, Bapak, Ibu, saya khawatir melihat rumahnya,” ujar Hartono ketika melihat langsung gubuk yang nyaris roboh itu pada Rabu (22/10/2025). “Izinkan saya bangunkan rumah baru, ya. Sementara, tinggal dulu di kontrakan.”
Ucapan itu bukan sekadar janji. Hari itu juga, Hartono menyewa rumah kontrakan agar keluarga Kar’an bisa tinggal aman selama pembangunan rumah baru berlangsung. “Saya merasa lega. Rumah lama sudah dibongkar, rumah baru sedang dibangun. Setidaknya mereka tidak perlu takut lagi setiap hujan datang,” ujarnya.
Niat baik Hartono pun mendapat sambutan dari warga dan pemerintah setempat. Bantuan dari berbagai pihak pun mengalir.
Baznas Kota Banjar memberikan dana awal sebesar Rp10 juta melalui program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu), sementara Hartono menyumbang Rp25 juta untuk pembangunan. Gerakan Jabar Bergerak turut menjadi fasilitator agar pembangunan berjalan lancar.
“Saya ingin menebar kebaikan. Semoga keluarga ini bisa bangkit dan suatu hari nanti membantu orang lain,” kata Hartono. “Terima kasih juga untuk warga dan pemerintah desa yang ikut membantu.”
Kini, di atas tanah tempat gubuk tua itu berdiri, fondasi rumah baru mulai kokoh dibangun. Dinding-dinding bata mulai menggantikan bilik bambu yang dulu nyaris runtuh. Kar’an dan Tati menyaksikan setiap bata disusun dengan mata berkaca-kaca—bukan karena sedih, tapi karena bahagia.***
Editor : Gin gin T Ginulur

