Dari Hobi ke PON, Kisah Pilot UAV Angkatan Laut yang Sukses di Dunia Aeromodelling

Letnan Satu Laut (Lettu Laut) Oscar Panji mewakili Pusdik Arhanud Batu Malang dan dipercaya Danpusdik untuk berlaga pada Lomba Aeromodelling dalam rangka HUT ke-79 Arhanud TNI AD tahun 2025 di kawasan Gunung Bohong, Cimahi pada Sabtu 6 Desember 2025.

Dari Hobi ke PON, Kisah Pilot UAV Angkatan Laut yang Sukses di Dunia Aeromodelling
Letnan Satu Laut (Lettu Laut) Oscar Panji mewakili Pusdik Arhanud Batu Malang dan dipercaya Danpusdik untuk berlaga pada Lomba Aeromodelling dalam rangka HUT ke-79 Arhanud TNI AD tahun 2025 di kawasan Gunung Bohong, Cimahi pada Sabtu 6 Desember 2025.

INILAHKORAN.ID - Siapa yang tak kenal aeromodelling, sebuah kegiatan membuat dan menerbangkan model pesawat terbang, baik yang dikendalikan jarak jauh maupun terbang bebas dan seringkali dianggap hanya sebagai hobi. 

Kendati demikian, dibalik itu tersembunyi sejarah panjang yang berakar dari eksperimen awal manusia memahami prinsip penerbangan, bahkan menjadi olahraga dirgantara yang tumbuh seiring dengan perkembangan penerbangan sipil dan militer.
 
Di Indonesia, aeromodelling pertama kali muncul di lingkungan TNI Angkatan Udara melalui Kepanduan Pramuka Dirgantara. Kegiatannya dimulai sejak tahun 1946, bersamaan dengan pembuatan pesawat layang pertama di Yogyakarta oleh komunitas Aeromodeller dan Pandu Udara, sebelum berkembang ke kota-kota besar seperti Bandung, Surabaya, Malang, dan Surakarta.
 
Sebagai cabang olahraga, aeromodelling pernah menjadi lomba eksibisi di Pekan Olahraga Nasional (PON) mulai 1978 sampai PON XI 1981, sebelum hilang dari ajang PON sampai tahun 2000 di PON XV Jawa Timur. Selain PON, komunitas juga mengikuti acara-acara yang diadakan PB FASI seperti Jambore Aero Sport dan Safari FASI.
 
Salah satu atlet aeromodelling, Letnan Satu Laut (Lettu Laut) Oscar Panji misalnya. Dia mewakili Pusdik Arhanud Batu Malang lantaran dipercaya Danpusdik untuk berlaga pada Lomba Aeromodelling dalam rangka HUT ke-79 Arhanud TNI AD tahun 2025 di kawasan Gunung Bohong, Cimahi pada Sabtu 6 Desember 2025.
 
"Intinya aeromodelling itu adalah dasar untuk penerbangan," ujar Oscar yang juga atlet dengan nomor registrasi INA 1406 dari Jawa Tengah. 

"Kalau kita mendadak disuruh menerbangkan pesawat, langsung bisa – mungkin karena kebetulan saya juga pilot Unmanned Aerial Vehicle (UAV) di Skuadron 700 Angkatan Laut," sambungnya.
 
Oscar mengaku mulai terjun ke dunia aeromodelling sejak menjadi bintara tahun 2009-2010, dan resmi menjadi atlet pada 2017 setelah memiliki registrasi nasional. 

"Sampai saat ini, koleksi medali Oscar sudah mencapai 30 buah, termasuk emas dari Kejurnas Aeromodelling terakhir di Cepu, Jawa Tengah, dan bahkan medali dari kejuaraan dunia," ujarnya.
 
Selain sebagai olahraga positif yang dipertandingkan di PON, Oscar menuturkan, aeromodelling juga memberi manfaat ilmu yang berharga. 

"Jadi peserta bisa belajar kekompakan, berbagi pengetahuan tentang pesawat, teknik terbang, take-off, landing, trik menjatuhkan bom, dan membaca angin," ujarnya.
 
Ilmu tersebut, lanjut Oscar, bahkan memiliki relevansi strategis, seperti yang terlihat di konflik di Ukraina, Palestina, maupun di Papua yang menggunakan drone. 

"Ilmu yang bisa diambil salah satunya adalah drop bombing," jelasnya.
 
Meskipun sering dianggap hobi yang mahal, Oscar mengungkapkan ada cara untuk membuatnya terjangkau. 

"Di sini ada ketentuan homemade (membuat sendiri), sehingga lebih murah jika memanfaatkan berbagai platform dengan harga terjangkau," katanya.
 
Dengan prestasi yang sudah diraih, Oscar mengaku tidak puas sampai situ. Targetnya ke depan adalah meraih medali emas di PON dan Porprov tahun 2026.

"Saya targetkan medali emas di PON dan Porprov 2026," tandasnya. *** 


Editor : Ahmad Sayuti