Pengamat Nilai Konvergensi Fiber Optik (FTTH) dan FWA 5G adalah Kunci Pemerataan Akses Internet di Indonesia

Para pengamat telekomunikasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) menegaskan, masa depan akses internet broadband nasional terletak pada strategi hybrid yang menggabungkan keunggulan fiber-to-the-home (FTTH) dengan efisiensi biaya dari Fixed Wireless Access (FWA) berbasis 5G. 

Pengamat Nilai Konvergensi Fiber Optik (FTTH) dan FWA 5G adalah Kunci Pemerataan Akses Internet di Indonesia
Salah seorang pengamat telekomunikasi ITB Mohammad Ridwan Effendi menjelaskan, FTTH tetap merupakan golden standard untuk area perkotaan yang padat, menawarkan stabilitas tertinggi, kecepatan maksimal, dan latensi sangat rendah (2-5 ms) yang ideal untuk aplikasi sensitif waktu seperti online gaming dan perdagangan. (istimewa)

INILAHKORAN.ID - Para pengamat telekomunikasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) menegaskan, masa depan akses internet broadband nasional terletak pada strategi hybrid yang menggabungkan keunggulan fiber-to-the-home (FTTH) dengan efisiensi biaya dari Fixed Wireless Access (FWA) berbasis 5G. 

Mereka menilai, pendekatan itu dinilai sebagai solusi paling rasional dan cepat untuk mengatasi kesenjangan digital di Indonesia.

Salah seorang pengamat telekomunikasi ITB Mohammad Ridwan Effendi menjelaskan, FTTH tetap merupakan golden standard untuk area perkotaan yang padat, menawarkan stabilitas tertinggi, kecepatan maksimal, dan latensi sangat rendah (2-5 ms) yang ideal untuk aplikasi sensitif waktu seperti online gaming dan perdagangan.

Namun, di wilayah rural dan kepulauan, tantangan last mile (segmen terakhir menuju rumah pelanggan) menyebabkan biaya pemasangan infrastruktur fiber optik melonjak tinggi.

"Biaya penyebaran FTTH didominasi oleh pekerjaan sipil seperti penggalian, yang dapat menyumbang hingga 80% dari total biaya. Ini membuat investasi di daerah terpencil menjadi tidak efisien secara bisnis," ujar Ridwan.

Di sinilah FWA berbasis 5G New Radio (NR) hadir sebagai pelengkap strategis. Analisis biaya menunjukkan bahwa CAPEX awal untuk menggelar FWA kurang dari 10% dari biaya membangun jaringan FTTH penuh, karena menghilangkan kebutuhan penggalian tanah yang masif.

FWA 5G didukung inovasi seperti Massive MIMO dan Beamforming, yang memungkinkan koneksi nirkabel stabil dengan kapasitas tinggi. Penggunaan pita frekuensi menengah (Mid-Band), seperti pita 1,4 GHz yang baru dilelang oleh Kominfo, dikategorikan sebagai Sweet Spot karena menawarkan keseimbangan optimal antara jangkauan luas dan kecepatan yang memadai (100-500 Mbps).

"FWA 5G, dengan latensi sekitar 20-30 ms, sangat unggul untuk kebutuhan broadband mayoritas rumah tangga, seperti streaming 4K, yang hanya membutuhkan sekitar 25 Mbps. Teknologi ini adalah jawaban untuk segera mempercepat pemerataan akses di luar pusat ekonomi utama," tambah Ian Joseph Matheus Edward.

Sedankan, Daniel Wiyogo Dwiputro menyebutkan dengan momentum hadirnya layanan FWA pasca-lelang frekuensi, para pengamat menyimpulkan bahwa fokus industri harus bergeser dari persaingan menjadi konvergensi infrastruktur.

"Strategi hybrid yang tangguh ini bukan hanya efisien secara bisnis, tetapi merupakan kunci untuk memastikan inklusi digital yang merata. Dengan demikian, kualitas akses internet dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat Indonesia tanpa terkendala hambatan geografis," ujar Daniel.


Editor : Doni Ramdhani