Dari Kaki Gunung Geulis, Warga Gambung Menjaga Mata Air Lewat Tradisi Hajat Huluwotan

Di kaki Gunung Geulis, Kampung Gambung, Desa Mekarsari, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung, ada sebuah tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dari Kaki Gunung Geulis, Warga Gambung Menjaga Mata Air Lewat Tradisi Hajat Huluwotan
Masyarakat Kampung Gambung melalui tradisi tahunan Napak Tilas Hajat Huluwotan 2026 di Di kaki Gunung Geulis, Sabtu (10/10/2026).

INILAHKORAN.ID - Di kaki Gunung Geulis, Kampung Gambung, Desa Mekarsari, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung, ada sebuah tradisi yang tak sekadar diwariskan dari generasi ke generasi.

Di balik ritual adat dan pertunjukan seni Sunda, tersimpan pesan penting tentang hubungan manusia dengan alam: menjaga mata air berarti menjaga kehidupan.

Pesan itulah yang kembali ditegaskan masyarakat Kampung Gambung melalui tradisi tahunan Napak Tilas Hajat Huluwotan 2026, Sabtu (10/10/2026) kemarin.

Bagi warga setempat, Hajat Huluwotan bukan sekadar perayaan adat. Tradisi ini menjadi ungkapan rasa syukur atas keberadaan sumber air yang selama ini menopang kehidupan masyarakat, sekaligus pengingat agar hutan dan lingkungan di sekitarnya tetap terjaga.

Kegiatan yang dipusatkan di kawasan mata air kaki Gunung Geulis itu berlangsung dengan memadukan ritual adat, nilai spiritual, kesenian tradisional, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.

Rangkaian acara diawali dengan ritual pembersihan mata air. Setelah itu, masyarakat mengikuti upacara adat dan menyaksikan berbagai pertunjukan seni di Lapang Gambung. 

Lengser dan Singa Depok turut memeriahkan suasana, disusul penampilan kelompok seni lokal. Pada malam hari, masyarakat dijadwalkan menikmati pagelaran Wayang Golek.

Namun, di balik kemeriahan tersebut, ada pesan yang ingin terus diwariskan kepada generasi muda.

Kepala Desa Mekarsari Ferry Januar Pribadi menegaskan, esensi Hajat Huluwotan terletak pada kesadaran masyarakat untuk menjaga sumber mata air dengan merawat hutan yang menjadi kawasan penyangganya.

“Intinya, dalam acara Hajat Huluwotan yang kami gelar Sabtu kemarin itu punya nilai esensi yang kita tanamkan kepada generasi penerus adalah bagaimana kita menjaga sumber mata air ini guna memberikan kehidupan kepada warga kami dengan cara menjaga hutannya,” kata Ferry, di Kecamatan Pasirjambu, Minggu (11/10/2026).

Bagi masyarakat Kampung Gambung, keberadaan mata air bukan perkara sepele. Air menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari yang keberlangsungannya sangat bergantung pada kondisi lingkungan.

Tokoh masyarakat Kampung Gambung, Supriatna, menyebut sumber air di kawasan tersebut dikenal dengan nama Ci Cai Sirah Gunung Geulis atau Curug Gunung Geulis.

Menurut dia, sumber air itu tetap mengalir ketika musim kemarau, meskipun debitnya sempat mengecil. Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa sumber air perlu dijaga agar manfaatnya tetap dirasakan masyarakat.

Kesadaran itu pula yang membuat tradisi Hajat Huluwotan terus dipertahankan. Masyarakat tidak hanya mengenang jasa para pendahulu, tetapi juga berupaya menjaga warisan alam yang menjadi penopang kehidupan kampung.

Napak tilas menjadi bentuk penghormatan kepada para sesepuh yang telah mewariskan tradisi tersebut. Melalui kegiatan ini, generasi penerus diajak memahami bahwa kelestarian alam bukan semata tanggung jawab pemerintah, melainkan juga bagian dari kewajiban bersama.

Ferry menjelaskan, Hajat Huluwotan telah berlangsung secara turun-temurun dengan peran penting para sesepuh Kampung Gambung. Tradisi ini juga menyimpan jejak sejarah penyebaran agama Islam pada masa lalu.

Nilai-nilai tersebut tercermin dalam sejumlah perlengkapan adat yang memiliki makna filosofis.

Kelapa muda atau dawegan, misalnya, melambangkan kekuatan. Sementara kambing hitam atau embe hideung mengandung pesan tentang pentingnya hideng, yakni memiliki inisiatif dan kesadaran untuk menjaga sumber mata air serta hutan di sekitarnya.

Filosofi itu menunjukkan bahwa tradisi bukan hanya soal menjalankan ritual, melainkan juga menyampaikan pesan kehidupan melalui simbol-simbol yang diwariskan leluhur.

“Semoga acara ini tetap lestari secara turun-temurun untuk generasi penerus kami,” ujar Ferry.

Seiring perkembangan zaman, cakupan pelaksanaan Hajat Huluwotan mengalami perubahan. Jika dahulu tradisi ini melibatkan seluruh wilayah Desa Mekarsari, kini pelaksanaannya berfokus pada tiga RW yang masih memanfaatkan sumber mata air dari kawasan tersebut.

Sementara itu, RW lainnya telah memiliki sumber air masing-masing.

Meski cakupannya berubah, nilai utama Hajat Huluwotan tetap dipertahankan. Tradisi ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk kembali mengingat pentingnya sumber air sekaligus memperkuat ikatan sosial di lingkungan kampung.

Nilai kebersamaan itu juga terlihat dalam rangkaian acara yang melibatkan warga dari berbagai kalangan. Setelah pertunjukan Lengser dan Singa Depok, masyarakat mengikuti makan bersama yang dikenal dengan istilah Sangu Salamet.

Selanjutnya, kelompok-kelompok seni dari wilayah Kecamatan Pasirjambu dijadwalkan tampil hingga menjelang waktu Asar. Pada malam harinya, pagelaran Wayang Golek menjadi bagian dari upaya menjaga kesenian tradisional agar tetap dekat dengan kehidupan masyarakat.

Koordinator Acara Hajat Huluwotan, Firman Budiman, mengatakan panitia sengaja merangkai kegiatan dengan memadukan unsur keagamaan, adat, hiburan, dan pemberdayaan ekonomi.

Menurut dia, kegiatan ini juga menjadi ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memperkenalkan produk sekaligus meningkatkan pendapatan.

“Ini adalah UMKM yang ada di wilayah Pacira yang rutin hadir setiap tahunnya. Kegiatan ini memang ditujukan untuk menggerakkan roda perekonomian di wilayah Pacira,” kata Firman.

Di tengah upaya mempertahankan tradisi, Hajat Huluwotan juga memberikan ruang bagi aktivitas ekonomi masyarakat.

Pemerintah Desa Mekarsari menyediakan tempat berjualan bagi pelaku UMKM lokal. Dengan begitu, keramaian pengunjung tidak hanya menjadi bagian dari perayaan budaya, tetapi juga membuka peluang bagi warga untuk memperoleh penghasilan.

Ferry mengatakan, keterlibatan UMKM menjadi salah satu manfaat yang diharapkan terus tumbuh dari penyelenggaraan Hajat Huluwotan.

“Dengan adanya Hajat Huluwotan ini, tidak bisa dipungkiri juga membangkitkan nilai ekonomi. Para pelaku UMKM kecil di wilayah desa ini tertampung dan bisa berjualan karena pemerintah desa menyediakan tempat-tempat khusus,” tuturnya.

Perpaduan budaya dan ekonomi tersebut memperlihatkan bahwa tradisi lokal dapat memiliki peran lebih luas. Selain merawat identitas masyarakat, kegiatan adat juga bisa menjadi ruang pertemuan warga, panggung kesenian, dan kesempatan bagi usaha kecil untuk berkembang.

Ferry pun mengingatkan pentingnya mempertahankan budaya Sunda sebagai bagian dari identitas dan pedoman hidup masyarakat. Nilai silih asah, silih asuh harus terus tumbuh agar kebersamaan dan kepedulian antarsesama tetap terjaga.

Pada akhirnya, Napak Tilas Hajat Huluwotan bukan hanya tentang mengenang masa lalu. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa kehidupan masyarakat Kampung Gambung memiliki hubungan erat dengan alam yang mereka jaga.

Selama mata air masih mengalir, hutan tetap terpelihara, dan nilai-nilai leluhur diwariskan kepada generasi berikutnya, Hajat Huluwotan akan terus memiliki makna bagi masyarakat.

Sebab, warisan paling berharga dari para pendahulu bukan semata ritual yang dilaksanakan setiap tahun, melainkan kesadaran bahwa menjaga alam adalah cara menjaga kehidupan.


Editor : Doni Ramdhani