Dari Susu ke Kebangkitan Koperasi
Suara gemericik air terdengar dari halaman kantor Koperasi Unit Desa (KUD) Puspa Mekar, Jalan Sersan Bajuri No Km 07, Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong, KBB.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Suara gemericik air terdengar dari halaman kantor Koperasi Unit Desa (KUD) Puspa Mekar, Jalan Sersan Bajuri No Km 07, Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat.
Di antara suara air yang mengalir, sejumlah pekerja sibuk melakukan sterilisasi produk yang akan didistribusikan kepada sejumlah perusahaan besar.
Rutinitas itu berlangsung hampir setiap hari. Bagi para pekerja KUD Puspa Mekar, menjaga kebersihan bukan sekadar prosedur, melainkan bagian penting dari perjalanan panjang mempertahankan kepercayaan.
Setiap produk yang keluar harus dipastikan tetap memenuhi standar kualitas hingga sampai ke tangan perusahaan maupun konsumen.
Di balik aktivitas sederhana itu, tersimpan cerita panjang tentang sebuah koperasi yang pernah tumbuh pesat, kemudian jatuh hingga berada di titik paling sulit, sebelum akhirnya perlahan bangkit dengan sistem yang baru.
KUD Puspa Mekar menjadi salah satu gambaran tentang ketangguhan masyarakat peternak susu di kawasan Parongpong. Perjalanannya bermula pada 1989, ketika Koperasi Bunga Cihideung Indah bertransformasi dan membangun koperasi bersama 50 anggota pendiri.
Kala itu, para peternak lokal menghadapi persoalan klasik. Susu yang mereka hasilkan hanya bisa dijual kepada tengkulak, tanpa kepastian harga dan layanan kesehatan hewan yang memadai. Bahkan, produksi susu sempat mencapai 30 hingga 40 ton per hari. Namun, pertumbuhan yang cepat ternyata menyimpan persoalan di dalam sistem.
“Dulu, para peternak lokal hanya bisa menjual hasil susunya kepada tengkulak tanpa jaminan harga dan layanan kesehatan hewan yang memadai,” kata Ketua KUD Puspa Mekar, Djatnika (59), saat ditemui di kantornya.
Keinginan untuk berdiri di atas kaki sendiri kemudian menjadi tenaga penggerak koperasi. Perlahan, jumlah produksi meningkat dan KUD Puspa Mekar memasuki masa keemasan.
“Bahkan, pertumbuhan cepat yang sempat dicapai, sampai menyentuh angka 30 hingga 40 ton susu per hari pada masa keemasannya, ternyata menyimpan kelemahan sistemik,” ujarnya.
Struktur organisasi yang berbasis kelompok membuat koperasi rentan ketika persaingan semakin ketat. Di saat yang sama, pengendalian kualitas mulai melemah. Masalah kemudian datang bertubi-tubi.
“Satu per satu kelompok besar anggota pindah ke pesaing, disusul penolakan pasar akibat kualitas yang tidak konsisten, hingga akhirnya koperasi terpuruk drastis menjadi hanya mampu memproduksi 2 ton per hari dengan beban utang yang mencekik,” ujarnya.
Koperasi yang pernah memproduksi puluhan ton susu setiap hari itu pun harus menghadapi kenyataan pahit. Produksi anjlok, aset fisik hilang, utang menumpuk, sementara pesaing justru bermunculan dari lingkungan sendiri.
Namun, titik terendah itu justru menjadi awal perubahan. Pada 2006, pengurus di bawah pimpinan Djatnika mengambil keputusan besar. Bersama Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) dan KPSBU Lembang, sistem perantara kelompok dihapus.
Pelayanan kemudian dilakukan secara langsung dari koperasi kepada setiap anggota. Bukan langkah yang instan. Namun, bagi Djatnika, sistem baru itu menjadi fondasi yang lebih kokoh.
“Ini jalan yang lambat namun kokoh,” ucapnya.
Perubahan tersebut sekaligus mengubah cara koperasi bekerja. Sistem pelayanan langsung dan jemput bola membuat pengelolaan kualitas menjadi lebih terukur. Peternak tidak lagi bergantung pada perantara untuk mendapatkan pembinaan.
"Pengelolaan kualitas menjadi mutlak, karyawan bertanggung jawab penuh kepada manajemen, dan setiap peternak mendapatkan pembinaan langsung tanpa perantara,” tegasnya.
Perjalanan menuju kemandirian kemudian memasuki babak baru pada 1 November 2013. KUD Puspa Mekar bertekad berdiri mandiri sepenuhnya. Tetapi persoalan baru muncul dari sisi keuangan.
Koperasi belum memiliki catatan keuangan usaha yang berdiri sendiri. Akses permodalan pun terbatas. Dalam kondisi seperti itu, mendapatkan kepercayaan lembaga keuangan bukan perkara mudah.
Di tengah situasi tersebut, bank bjb hadir menjadi salah satu bagian dari perjalanan kebangkitan koperasi.
Karena saat itu koperasi belum memenuhi persyaratan administrasi perbankan, bjb memberikan fasilitas kredit kepada pengurus. Dana tersebut kemudian diputar untuk memperkuat modal kerja koperasi dengan jangka waktu pengembalian yang panjang.
Kepercayaan itu akhirnya berbuah hasil. Fasilitas kredit tersebut lunas pada 2023, sekaligus membuka babak kemitraan yang lebih luas antara KUD Puspa Mekar dan bjb.
Belum sempat sepenuhnya bernapas lega, tantangan kembali datang. Pada 2022, wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) menyerang ternak. Populasi sapi di lingkungan koperasi ikut terdampak dan produksi susu turun drastis. Dari sekitar 15 ton per hari, produksi merosot menjadi hanya 8 ton per hari.
Bagi koperasi yang baru saja bangkit dari keterpurukan, penurunan itu bukan sekadar angka. Di baliknya ada peternak yang harus mempertahankan ternaknya, biaya penanganan wabah yang membengkak, serta arus kas yang harus tetap berjalan.
Di masa sulit tersebut, dukungan permodalan kembali menjadi penyangga. Melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR), bank bjb membantu menyediakan akses permodalan untuk memulihkan populasi ternak sekaligus menjaga arus kas koperasi. Biaya penanganan wabah yang mencapai ratusan juta rupiah perlahan dapat dihadapi. (*)
Editor : Doni Ramdhani
