Bingung Pilih Susu? Ini Panduan Memilih Susu Sesuai Kebutuhan

Memilih susu tak lagi cuma soal susu sapi. Ketahui perbandingan kalori, protein, dan nutrisi susu sapi vs susu nabati (kedelai, oat, almon) di sini.

Bingung Pilih Susu? Ini Panduan Memilih Susu Sesuai Kebutuhan
Memilih susu tak lagi cuma soal susu sapi. Ketahui perbandingan kalori, protein, dan nutrisi

INILAHKORAN.ID - Memilih susu kini tak lagi sekadar soal memilih susu sapi atau susu rendah lemak. 

Beragam pilihan susu nabati, mulai dari kedelai, gandum, almon, kelapa, hingga beras, membuat konsumen memiliki lebih banyak pilihan.

Selama beberapa dekade, susu murni kerap dihindari karena kandungan lemak jenuhnya dianggap dapat meningkatkan risiko penyakit jantung. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa lemak jenuh dari produk olahan susu tidak selalu memberikan dampak yang sama seperti lemak dari sumber makanan lainnya.

Pada kelompok susu sapi, perbedaan utama antara susu murni, susu rendah lemak, dan susu bebas lemak terdapat pada jumlah kalori dan lemak. Sementara kandungan protein, kalsium, vitamin D, dan vitamin B12 relatif serupa.

Dalam satu gelas, susu murni mengandung sekitar 150 kalori dengan 8 gram lemak total dan 5 gram lemak jenuh. susu rendah lemak 2 persen mengandung sekitar 122 kalori, 4 gram lemak total, dan 3 gram lemak jenuh. Sementara susu 1 persen memiliki sekitar 106 kalori dengan 2 gram lemak total. Adapun susu skim hanya mengandung sekitar 84 kalori dan nyaris tanpa lemak.

Sebuah penelitian dari University of Minnesota pada 2025, seperti dikutip dari National Geographic, Selasa (11/8/2026) juga menemukan adanya hubungan antara konsumsi susu tinggi lemak dan risiko penyakit jantung. Namun, temuan tersebut tidak berarti susu murni otomatis menjadi pilihan terbaik bagi semua orang.

Bagi mereka yang ingin membatasi asupan kalori dan lemak jenuh, susu rendah lemak atau susu skim tetap dapat menjadi pilihan. Sementara bagi yang menyukai susu murni, keseimbangan pola makan secara keseluruhan tetap penting, termasuk membatasi sumber lemak jenuh lainnya.

Selain susu sapi, susu nabati semakin populer karena alasan kesehatan, pola makan vegan, intoleransi laktosa, maupun pertimbangan lingkungan.

Namun, susu berlabel "nabati" tidak otomatis lebih sehat. Konsumen perlu memperhatikan label nutrisi dan memilih produk yang diperkaya kalsium serta vitamin D. Kandungan gula tambahan juga perlu diperiksa agar tidak berlebihan.

Salah satu pilihan yang cukup unggul dari sisi protein adalah susu kedelai. Dalam satu gelas, susu kedelai mengandung sekitar 70 kalori dan 7 gram protein, sehingga kandungan proteinnya mendekati susu sapi.

Ada pula susu gandum atau oat milk. jenis ini mengandung sekitar 120 kalori per gelas dan dikenal sebagai sumber beta-glucan, yaitu serat larut yang dapat membantu menjaga kesehatan jantung. Sejumlah penelitian juga menunjukkan konsumsi oat milk dapat membantu menurunkan kadar kolesterol total dan kolesterol LDL.

Sementara itu, susu almon memiliki kandungan kalori yang relatif rendah, sekitar 40 kalori per gelas, serta mengandung vitamin E. Namun, kandungan proteinnya jauh lebih rendah dibandingkan susu sapi maupun susu kedelai.

Dari sisi lingkungan, budidaya almon membutuhkan air dalam jumlah besar sehingga aspek keberlanjutan juga perlu menjadi pertimbangan.

Pilihan berikutnya adalah susu kelapa siap minum. Produk ini umumnya mengandung sekitar 45 kalori per gelas, tetapi rendah protein dan cenderung memiliki kandungan lemak jenuh lebih tinggi dibandingkan sejumlah susu nabati lainnya. Karena itu, konsumen sebaiknya memilih produk yang telah diperkaya vitamin dan mineral.

Sedangkan bagi orang yang memiliki alergi terhadap kedelai maupun kacang-kacangan, atau mengalami intoleransi laktosa, susu beras dapat menjadi salah satu alternatif. susu beras mengandung sekitar 113 kalori dan 2 gram lemak per gelas, meskipun kandungan proteinnya relatif rendah.

Pada akhirnya, tidak ada satu jenis susu yang paling sehat untuk semua orang. Pilihan terbaik bergantung pada kebutuhan nutrisi, kondisi kesehatan, preferensi makanan, serta pertimbangan lingkungan.

Kuncinya adalah membaca label kemasan. Perhatikan kandungan protein, kalsium, vitamin D, lemak jenuh, dan terutama gula tambahan.

Dengan memahami kandungan masing-masing produk, konsumen dapat memilih susu yang paling sesuai dengan kebutuhan tubuh, bukan sekadar mengikuti tren.


Editor : Ahmad Sayuti