Salah Kaprah! YAICI Sebut 67,6% Balita di KBB Konsumsi Kental Manis Sebagai Susus
YAICI dan PP Muslimat NU mengungkap 67,6% balita di KBB salah mengonsumsi kental manis sebagai susu
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Pemahaman keliru mengenai penggunaan kental manis di kalangan masyarakat Kabupaten Bandung Barat (KBB) dinilai masih sangat mengkhawatirkan.
Data terbaru mengungkapkan fakta sebanyak 67,6 persen balita di KBB masih mengonsumsi kental manis sebagai minuman pokok atau pengganti susu murni.
Sebaliknya, hanya 32,4 persen yang telah menggunakannya secara tepat, yakni sekadar sebagai pelengkap atau topping makanan. Kondisi ini menjadi sorotan utama dalam upaya penanganan angka stunting yang masih tercatat tinggi di Jawa Barat.
Wakil Bupati Bandung Barat, Asep Ismail mengatakan, urgensi perbaikan pola konsumsi ini sejalan dengan langkah strategis memberantas kemiskinan ekstrem dan menekan angka stunting yang menjadikan daerah ini salah satu yang tertinggi di provinsi.
"Kami menyambut baik kedatangan Pimpinan Pusat Muslimat NU dan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) untuk memperkuat edukasi gizi," kata Asep disela kegiatan, Selasa (21/7/2026).
"Kami telah memerintahkan Asisten Daerah, Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial untuk berkolaborasi penuh dengan struktur ormas hingga ke tingkat paling bawah," sambungnya.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan KBB, dr. Enung Masruroh menjelaskan, akar masalah kental manis ini kerap disamakan dengan susu padahal kandungan gulanya mencapai 40 hingga 60 persen.
"Ini bukan susu murni. Jika dikonsumsi berlebihan sebagai pengganti minuman pokok, risiko kerusakan gizi, obesitas, hingga diabetes sangat nyata," jelas Enung.
Apalagi, lanjut Enung, tren obesitas pada anak dan remaja di Bandung Barat kini cenderung meningkat.
"Edukasi yang digalakkan menekankan agar produk ini hanya digunakan sebagai penyedap sesekali, bukan kebutuhan harian," ucapnya.
Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU, dr. Erna Yulia Sofihara menambahkan, konsumsi gula berlebih membuat anak cepat merasa kenyang sehingga menolak asupan gizi lain yang lebih lengkap, salah satu pemicu gizi buruk dan stunting.
"Melalui jaringan kuat Muslimat NU yang menjangkau hingga ke tingkat RT/RW, kampanye 'kental manis bukan susu' terus didorong," kata Erna.
Sekretaris Jenderal YAICI, Satria Yudistira mengungkapkan, hasil survei nasional menunjukkan kesalahan persepsi ini masih menjangkau 67,7 persen masyarakat, dengan Jawa Barat memiliki angka di atas rata-rata nasional.
"Program berkelanjutan pun disiapkan melalui sistem 'ketok tular' kader agar pemahaman benar tentang gizi menurun ke generasi berikutnya demi mencetak sumber daya manusia yang sehat dan cerdas," kata Satria.
Editor : Ahmad Sayuti

