Dari Perut Bumi, Tumbuh Harapan di Kamojang
PANAS bumi tak hanya menghasilkan listrik. Energinya juga menghidupkan usaha warga Kamojang
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Hendro berjongkok di antara bedeng cabai, memetik sebutir cengek yang masih hijau. Buah kecil itu menyimpan rupa berbeda. Cengek domba menyerupai tanduk, sementara cengek stroberi berbentuk lebih buntet, mirip buah stroberi.
“Kalau cengek domba, bentuknya menyerupai tanduk,” ujarnya, seperti dikutip dari ANTARA, Kamis (22/10).
Di lereng Kamojang, perbatasan Kabupaten Bandung dan Garut, cabai rawit bukan sekadar tanaman kebun. Komoditas itu menjadi bagian dari ikhtiar warga merawat kehidupan dari tanah yang mereka garap.
Lahan seluas sekitar 100 tumbak atau 1.400 meter persegi itu dikelola Hendro bersama Kelompok Tani Hutan Cikondang. Panen cengek yang baru empat kali dilakukan menunjukkan hasil yang terus meningkat.
Awalnya enam kilogram pada panen pertama, lalu delapan kilogram pada panen kedua, kemudian 14 kilogram pada panen ketiga, hingga 18 kilogram pada panen terakhir. Setiap pekan, dia memetik hasil kerja yang tumbuh perlahan.
Di bedeng lain, kentang tumbuh bersisian dengan cabai keriting yang masa panennya hampir berakhir. Tanah tak dibiarkan menganggur.
Ketika satu tanaman selesai memberikan hasil, tanaman lain bersiap mengisi ruang. Begitulah Hendro menjaga kebunnya tetap produktif, merawat harapan dari satu musim ke musim berikutnya.
Lulusan SMK itu dijuluki local hero oleh PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Kamojang. Sebutan tersebut bukan semata karena ia tekun mengolah lahan, melainkan juga karena kesediaannya berbagi pengetahuan dengan petani lain melalui program pemberdayaan masyarakat.
Salah satu pengetahuan yang dia praktikkan berawal dari sesuatu yang kerap dianggap tak berharga: limbah organik. Di ujung lahan, sebuah gudang fermentasi menjadi tempat Hendro meracik pupuk.
Kotoran ayam, sapi, dan domba dicampur dengan jerami, pangkasan daun kidayang, serta sisa panen kubis. Bahan-bahan itu disatukan dengan perbandingan satu banding satu antara kotoran dan hijauan, lalu diaduk dan didiamkan selama 21 hari hingga satu bulan.
Namun, perjalanan pupuk itu tidak berhenti pada fermentasi. Adonan yang masih basah kemudian dibawa ke fasilitas pengering berpemanas uap panas bumi, sebuah teknologi yang membuat energi dari dalam bumi dapat dirasakan manfaatnya hingga ke kebun.
Bagi sebagian orang, panas bumi identik dengan sumur uap, pipa-pipa raksasa, dan pembangkit listrik. Di Kamojang, energi itu memiliki wajah lain: pupuk organik yang siap menyuburkan tanah.
Sepanjang jaringan pipa PLTP Kamojang, terdapat steam trap, katup yang berfungsi membuang kondensat dan kelebihan uap agar aliran menuju turbin tetap kering. Sisa energi panas bersuhu sekitar 60–70 derajat Celsius dimanfaatkan melalui pipa-pipa kecil di ruang tertutup untuk mengeringkan pupuk organik bernama GeO-Fert.
Perubahan waktunya terasa nyata. Pupuk yang sebelumnya membutuhkan penjemuran hingga 14 hari di bawah matahari kini dapat kering dalam waktu sekitar 12 jam.
Melalui program GeO-Fert, sekitar 230 ton limbah organik diolah setiap tahun menjadi 193,8 ton pupuk. Bagi Hendro, hasil inovasi tersebut bukan sekadar angka produksi. Pupuk menjadi bagian dari upaya menjaga kesuburan lahan sekaligus memanfaatkan bahan yang sebelumnya berpotensi terbuang.
Di kebunnya, pupuk dasar cukup diberikan sekali, kemudian dilanjutkan dengan pemupukan susulan, baik melalui tabur maupun kocor, setiap dua minggu. Pengetahuan tentang pengolahan limbah dan pemupukan kini menjadi bagian dari cara ia mengelola pertanian.
Di Kamojang, panas bumi tidak hanya menghasilkan listrik. Energi yang tersisa juga membantu petani mengolah sumber daya di sekitar mereka menjadi sesuatu yang bernilai.
Menyeberangi Negeri
Kisah serupa tumbuh dari perkebunan kopi. Pada ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut, Kamojang memiliki lingkungan yang mendukung pertumbuhan kopi. Namun, cuaca pegunungan menyimpan tantangan tersendiri. Ketika hujan turun berhari-hari, biji kopi sulit kering dan proses pascapanen menjadi lebih panjang.
Muhammad Ramdhan Reza Nurfadilah, yang akrab disapa Mang Deden, mengenal betul perjalanan kopi dari kebun hingga cangkir. Dia membuka kedai kopi sejak 2015 sebelum kemudian diajak PGE bereksperimen mengembangkan proses pengolahan kopi dengan memanfaatkan panas bumi.
Hampir setahun dia mencoba lebih dari 20 metode fermentasi. Percobaan demi percobaan mengantarkannya pada tiga proses yang dinilai paling sesuai dengan karakter pengeringan menggunakan energi panas bumi.
Bersama petani, PGE mengembangkan Geothermal Dry House sejak 2018. Fasilitas ini mampu mempercepat proses pengeringan kopi hingga tiga kali lipat dibandingkan metode sebelumnya. Inovasi tersebut bahkan memperoleh paten sederhana pada 2024.
Dari proses pengolahan itu, lahirlah Canaya, merek kopi yang namanya diambil dari ungkapan bahasa Sunda can aya, yang berarti belum ada. Nama tersebut mencerminkan semangat menghadirkan sesuatu yang baru dari tanah Kamojang.
Hasilnya tidak berhenti di pasar lokal. Kopi Canaya telah menembus pasar ekspor hingga 20 ton ke Jepang, Jerman, dan Afrika. Sepanjang 2024, program kopi yang melibatkan 312 petani dari 18 kelompok tani dengan lahan sekitar 80 hektare itu mencatatkan omzet Rp863,9 juta.
Di balik perjalanan tersebut, ada sosok Aki Undang. Pada usia 73 tahun, ia telah enam tahun menjadi roaster utama dalam usaha kopi yang diinisiasi Deden.
Deden, lulusan SMK Farmasi, kini mengelola Indonesia Geothermal Coffee Process, mulai dari produksi hingga pemasaran. Dia juga kerap diundang ke berbagai ajang kopi nasional dan internasional.
Kolaborasi mereka mempertemukan pengalaman lintas generasi: Deden mewakili generasi milenial, sementara Hendro menjadi gambaran petani muda Gen Z yang mulai mengambil peran di sektor pertanian.
Aki Undang, dengan pengalaman dan ketekunannya, menjadi pengingat, inovasi tidak harus memutus hubungan dengan generasi sebelumnya. Justru dari pertemuan pengalaman dan gagasan baru, usaha lokal dapat tumbuh lebih jauh.
Dapur Ibu-ibu
Manfaat panas bumi juga sampai ke dapur ibu-ibu di sekitar Kamojang. Tety (61) menjalankan beragam peran sebagai kader PKK Desa Talun, Kecamatan Ibun, kepala sekolah, sekaligus Ibu RW.
Bersama kelompok perempuan di lingkungannya, dia mengolah hasil kebun menjadi camilan yang dikeringkan menggunakan geothermal dehydrator, mesin pengering pangan bertenaga panas bumi.
Jika sebelumnya proses pengeringan membutuhkan waktu hingga tujuh hari di bawah sinar matahari, kini pekerjaan tersebut dapat diselesaikan sekitar lima jam.
Dalam enam bulan, kelompok usaha yang dikelola Tety telah memasarkan lebih dari 5.500 kemasan produk dengan omzet mencapai Rp90 juta. Angka itu memperlihatkan bagaimana teknologi pengolahan dapat membantu usaha rumahan meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas peluang pasar.
Di antara produk yang dihasilkan terdapat teng-teng beras ketan gula aren dari kelompok usaha perempuan Yayasan An-Nur Ibun. Ada pula sebring kulit singkong berbumbu seblak dari Kelompok Wanita Tani Mekar Sari.
Kulit singkong yang kerap berakhir sebagai sampah kini mendapat kehidupan baru. Setelah diolah dan diberi bumbu, bahan yang sebelumnya kurang dilirik itu berubah menjadi camilan dengan tampilan modern, bahkan dipasarkan melalui akun Instagram.
Di tangan warga, kreativitas bertemu dengan teknologi. Hasil kebun tidak lagi hanya dijual dalam bentuk mentah, tetapi diolah menjadi produk dengan nilai tambah.
Erwandi, perwakilan PGE Area Kamojang yang menangani pemberdayaan masyarakat menjelaskan, pendampingan dilakukan untuk membekali warga dengan pengetahuan agar mereka mampu mengembangkan hasil panen menjadi produk bernilai jual lebih tinggi.
Upaya itu juga merambah sektor perikanan. Air pegunungan yang terlalu dingin untuk kolam budidaya dihangatkan menggunakan uap panas bumi.
Dalam riset kecil yang membandingkan kolam biasa dengan kolam berpenghangat, bobot ikan pada masa pemeliharaan yang sama meningkat dari 220 gram menjadi 330 gram. Masa panen pun tercatat sekitar 25 persen lebih cepat.
Ikan hasil budidaya kemudian diolah oleh kelompok ibu-ibu menjadi ikan asin dan abon. Sekali lagi, panas bumi berperan dalam rantai produksi, mulai dari mendukung pertumbuhan ikan hingga membantu mengeringkan hasil olahan.
Pupuk organik, kopi, produk pangan, dan perikanan menjadi empat cabang usaha dalam ekosistem pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan PGE Area Kamojang. Program tersebut dinamai Kanyaah, kata dalam bahasa Sunda yang berarti kasih sayang.
Hingga kini, program Kanyaah telah menjangkau 14.976 penerima manfaat. PGE Area Kamojang juga meraih penghargaan PROPER Emas sebanyak 15 kali berturut-turut, sebagai apresiasi atas kinerja pengelolaan lingkungan dan upaya pemberdayaan masyarakat. (gin)
Editor : Inilahkoran
