Dari Tangan Terampil, Parasut Menjelajah Dunia

PT Langit Biru Parasut merajut kemandirian parasut militer. Produk Indonesia kini membentangkan sayap ke pasar dunia.

Dari Tangan Terampil, Parasut Menjelajah Dunia
PARASUT MILITER: Seorang pekerja tengah menyelesaikan pembuatan parasut militer di PT Langit Biru Parasut Jalan Cilampeni Katapang Kabupaten Bandung.(INILAH/GIN GIN T GINULUR)

Helai-helai material itu kelak mengembang di langit, menopang tubuh penerjun atau mengantarkan logistik dari udara. Namun, bagi PT Langit Biru Parasut, setiap parasut yang diproduksi menyimpan cita-cita lebih besar: membawa industri pertahanan Indonesia terbang menuju kemandirian.

Cita-cita itu tidak tumbuh dalam semalam. Ada kajian panjang, pengetahuan yang dikumpulkan, dan keyakinan, Indonesia harus mampu membangun industri parasut militernya sendiri. 

Perjalanan tersebut mulai dirintis pada 2002, ketika PT Langit Biru Parasut mengkaji potensi pengembangan industri parasut di kawasan Asia, termasuk Indonesia.

Kajian berlangsung hingga 2007. Dua tahun kemudian, perusahaan mulai serius mengembangkan dan memproduksi parasut militer di dalam negeri.

Direktur Operasional PT Langit Biru Parasut Mecky Pangarepan menuturkan, langkah tersebut berangkat dari keinginan untuk membangun kemandirian industri pertahanan nasional, terutama dalam memenuhi kebutuhan parasut militer.

“Tujuannya membangun kemandirian industri parasut militer di dalam negeri,” ujar Mecky, kepada wartawan, Rabu (21/10).

Bersama Afri Novita, dia memilih menekuni industri yang menuntut ketelitian, penguasaan teknologi, dan pemenuhan standar khusus. Pilihan itu sekaligus menjadi bentuk kontribusi perusahaan terhadap penguatan industri pertahanan Indonesia.

“Kami memang mengkhususkan diri pada pembuatan parasut militer. Visi kami adalah mewujudkan kemandirian industri parasut militer nasional,” katanya.

Bagi Mecky, kemandirian bukan sekadar kemampuan menghasilkan barang sendiri. Industri nasional juga perlu memiliki pengetahuan, tenaga terampil, dan kapasitas produksi yang dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan pengguna. 

Langkah PT Langit Biru Parasut pun dijalankan dengan mengacu pada arahan Kementerian Pertahanan dan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan.

Cita-cita tersebut mengambil bentuk melalui beragam produk yang dikembangkan perusahaan. Parasut statik disiapkan untuk penerjunan personel, sementara parasut free fall dan parasut darurat atau emergency parachute melayani kebutuhan lain dalam penerbangan dan penerjunan militer.

Perusahaan juga memproduksi cargo delivery system, sistem pengiriman barang menggunakan parasut untuk mendukung kebutuhan logistik melalui udara. Produk ini dirancang menyesuaikan kebutuhan pesawat angkut militer, seperti A400 dan C-130J Super Hercules, serta mendukung penerjunan pasukan menggunakan pesawat CN.

“Jenis parasut yang kami produksi menyesuaikan kebutuhan militer,” kata Mecky.

Pengembangan produk, lanjut dia, diarahkan agar sesuai dengan alat angkut yang dimiliki TNI, khususnya TNI Angkatan Udara. Dengan demikian, kemampuan produksi tidak berhenti pada satu jenis parasut, tetapi terus mengikuti kebutuhan pengguna.

Setiap produk memiliki fungsi dan karakteristik tersendiri. Karena itu, proses pengembangan dan produksi menuntut perhatian terhadap spesifikasi teknis serta standar material yang digunakan.

Untuk parasut statik, kapasitas produksi PT Langit Biru dapat mencapai 1.500 hingga 2.000 unit per tahun apabila kegiatan produksi berjalan sejak awal tahun. Kemampuan pabrik dalam operasional harian mencapai tujuh hingga delapan set parasut.

Angka tersebut berdiri di atas keterampilan tenaga kerja yang terlibat dalam proses produksi. Ketika memperoleh pesanan dalam jumlah besar, perusahaan dapat merekrut sekitar 250 hingga 300 karyawan dengan sistem dua sif.

“Di daerah ini sudah tersedia tenaga kerja terampil yang kami latih,” kata Mecky.

Sementara itu, sekitar 50 tenaga ahli tetap bersiaga di pabrik ketika pesanan sedang berkurang. Keberadaan mereka menjadi bagian dari upaya menjaga kemampuan produksi agar tetap siap menghadapi permintaan berikutnya.

Industri parasut memang memiliki irama yang tidak selalu teratur. Pesanan dapat meningkat dalam periode tertentu, lalu melambat ketika kebutuhan pelanggan belum mendesak. Kondisi tersebut menuntut perusahaan menjaga keseimbangan antara kapasitas produksi, kesiapan tenaga kerja, dan keberlangsungan usaha.

Pasar Dunia

Setelah membangun kemampuan produksi di dalam negeri, PT Langit Biru Parasut mulai memperluas pandangan ke pasar internasional. Peluang itu antara lain terbuka melalui pameran pertahanan yang difasilitasi Kementerian Pertahanan.

Sepanjang 2024 dan 2025, perusahaan aktif mengikuti sejumlah pameran internasional. Dalam beberapa kesempatan, PT Langit Biru Parasut bergabung dengan Paviliun Indonesia untuk memperkenalkan produknya kepada calon pelanggan dari berbagai negara.

“Dari kegiatan tersebut, kami memperoleh calon pelanggan yang kemudian berkembang menjadi transaksi,” ujar Mecky.

Pameran menjadi ruang pertemuan antara kemampuan produksi Indonesia dan kebutuhan pasar global. Pertemuan dengan calon pelanggan membuka kesempatan bagi perusahaan untuk memperkenalkan produk, menjajaki kerja sama, dan mengembangkan pasar ekspor.

Mecky melihat peluang tersebut terbuka karena sistem parasut yang dikembangkan perusahaan merupakan bagian dari airborne system yang dapat disesuaikan dengan pesawat milik banyak negara.

“Kami memasarkan produk ke pasar internasional karena sistem parasut yang kami kembangkan kompatibel dengan pesawat yang dimiliki banyak negara,” katanya.

Produk PT Langit Biru Parasut kini telah menjangkau sejumlah negara, antara lain Turki, Malaysia, Uni Emirat Arab, negara-negara di kawasan Teluk dan Afrika, Australia, serta Amerika Serikat.

Jangkauan itu menjadi bagian dari perjalanan perusahaan membawa produk buatan Indonesia melampaui batas geografis. Sejauh ini, penjualan ke luar negeri terutama berasal dari produk parasut barang, meskipun peluang pasar untuk parasut personel juga terbuka.

Pengembangan teknologi turut mewarnai perjalanan tersebut. PT Langit Biru Parasut pernah memperoleh transfer teknologi parasut free fall dari Amerika Serikat, kemudian mengembangkannya untuk dipasarkan. Salah satu pemanfaatannya adalah untuk kegiatan terjun payung atau skydive di Amerika.

“Kami pernah memperoleh transfer teknologi parasut free fall dari Amerika Serikat, yang kemudian kami kembangkan dan pasarkan,” ujar Mecky.

Pengalaman tersebut menunjukkan, perjalanan industri dapat tumbuh melalui pertukaran pengetahuan. Teknologi yang diperoleh menjadi bekal untuk dikembangkan lebih lanjut, sekaligus membuka peluang bagi produk perusahaan menjangkau pengguna yang lebih luas.

Bagi industri pertahanan nasional, kemampuan seperti ini menjadi bagian penting dalam membangun daya saing. Produk tidak hanya harus mampu memenuhi kebutuhan pengguna dalam negeri, tetapi juga perlu memiliki kualitas dan spesifikasi yang dapat diterima di pasar internasional.

Tantangan Menunggu

Meski telah menembus pasar internasional, perjalanan bisnis parasut tidak selalu berlangsung mulus. Permintaan bergantung pada kebutuhan masing-masing negara, termasuk siklus penggantian peralatan yang telah digunakan.

Mecky mencontohkan Malaysia sebagai salah satu pasar yang memiliki peluang ketika memasuki masa penggantian atau penghentian penggunaan parasut lama.

“Ketika Malaysia mendekati masa penggantian atau penghapusan penggunaan parasut lama, kami mulai menjajaki peluang bersama perusahaan lokal di negara tersebut,” tuturnya.

Industri pertahanan juga memiliki aturan yang berbeda dari perdagangan pada umumnya. Peluang bisnis harus mempertimbangkan regulasi pemerintah dan hubungan bilateral. Penjualan dapat berlangsung melalui skema bisnis ke bisnis atau business to business (B2B), maupun antarpemerintah atau government to government (G2G).

“Setiap penjualan ke luar negeri wajib mengikuti aturan dan pelaporan kepada Kementerian Pertahanan,” kata Mecky.

Dinamika geopolitik turut menjadi faktor yang harus diperhitungkan. Pasar yang terbentang hingga kawasan Teluk dan Afrika, termasuk Mesir, membuat perusahaan perlu mencermati perubahan situasi di negara tujuan.

“Konflik geopolitik tidak selalu berdampak langsung terhadap permintaan parasut. Namun, situasi politik yang tidak stabil di negara tujuan ekspor dapat mengganggu kegiatan bisnis,” ujarnya.

Ketidakpastian itu menjadi pengingat, keberhasilan menembus pasar internasional bukan hanya perkara kemampuan menghasilkan produk. Perusahaan juga harus membaca kebutuhan pelanggan, memahami regulasi, dan menjaga hubungan bisnis di tengah perubahan situasi global.

Merajut Kemandirian 

Tantangan lain berada lebih dekat dengan proses produksi, yakni ketersediaan material. Sebelum sebuah parasut siap mengembang di udara, bahan bakunya harus memenuhi spesifikasi teknis yang ketat.

PT Langit Biru selama ini menjadi bagian dari rantai pasok industri parasut dunia. Material yang digunakan mengacu pada standar internasional, termasuk ketentuan yang dikembangkan Parachute Industry Association (PIA) di Amerika Serikat.

“Material yang digunakan harus memenuhi standar tertentu yang mengacu pada ketentuan industri internasional,” ujar Mecky.

Hingga kini, perusahaan belum menghadapi hambatan berarti dalam memperoleh bahan baku. Namun, ketergantungan terhadap material impor masih menjadi pekerjaan rumah bagi pengembangan industri dalam jangka panjang.

Harga material yang mengikuti pasar internasional turut memengaruhi harga jual parasut. Perusahaan harus menjaga keseimbangan antara pemenuhan standar, biaya produksi, dan daya saing produk.

Karena itu, membangun kemampuan memproduksi parasut di dalam negeri belum menjadi akhir perjalanan. Kemandirian juga membutuhkan rantai pasok yang kuat, termasuk kemampuan industri nasional menyediakan material sesuai spesifikasi yang diperlukan.

“Ke depan, kami ingin membangun rantai pasok di dalam negeri agar industri nasional juga dapat terlibat dalam memproduksi material yang dibutuhkan,” kata Mecky.

Harapan tersebut membutuhkan keterlibatan lebih banyak pelaku industri. Penguatan rantai pasok tidak hanya menyangkut kepentingan satu perusahaan, tetapi juga peluang bagi industri nasional untuk tumbuh bersama.

Mecky memandang kehadiran perusahaan lain sebagai perkembangan positif. Sejumlah perusahaan, seperti Aero di Kediri, Maju Mapan Abadi di Tulungagung, dan IPM di Bogor, turut mengembangkan industri parasut di Indonesia.

“Kami berharap semakin banyak pelaku usaha mengembangkan industri parasut. Indonesia merupakan negara besar yang memiliki potensi menghasilkan devisa melalui industri pertahanan,” ujarnya.

Bertambahnya pelaku industri dapat membuka ruang bagi terbentuknya ekosistem produksi yang lebih kuat. Kolaborasi dan rantai pasok yang kokoh akan membantu industri dalam negeri mengurangi ketergantungan pada material dari luar negeri sekaligus memperbesar peluang bersaing di pasar global.

Selama ini, parasut militer masih menjadi fokus utama PT Langit Biru. Namun, pandangan perusahaan mulai mengarah pada peluang lain, terutama kebutuhan sipil dan olahraga dirgantara.

“Kami sedang menjajaki peluang pengembangan parasut untuk kebutuhan sipil, khususnya olahraga dirgantara,” kata Mecky.

Potensi pasar internasional menjadi salah satu pertimbangan untuk mengembangkan produk tersebut. Perusahaan juga berencana menggandeng pihak-pihak yang memiliki minat membangun industri parasut olahraga.

“Ke depan, kami mempertimbangkan pembentukan divisi khusus untuk parasut sipil dan olahraga. Namun, saat ini fokus utama kami masih pada parasut militer,” tuturnya. (gin gin t ginulur)


Editor : Inilahkoran