Dedi Mulyadi di Antara Angka dan Persepsi

SURVEI SMRC memotret kepemimpinan Gubernur Jabar Dedi Mulyadi.Sejumlah indikator mencatat penilaian berbeda.

Dedi Mulyadi di Antara Angka dan Persepsi
PENILAIAN POSITIF: Gubernur Jabar Dedi Mulyadi mendapat penilaian positif dari kalangan opinion leaders, dalam survei kualitas kepemimpinan nasional yang dilakukan SMRC.(ANTARA FOTO)

Seorang pemimpin selalu berhadapan dengan dua cermin: apa yang dikerjakannya dan bagaimana orang lain memandangnya. Keduanya tidak selalu memantulkan gambar yang sama.

Namun, dari sana, publik bisa membaca bagaimana kepemimpinan tumbuh dalam persepsi, diuji oleh penilaian, dan dipertanyakan melalui ukuran yang beragam.

Nama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi muncul dalam survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) bertajuk Opinion Leaders: Kepemimpinan Nasional Demokratik-Transformatif.

Penelitian yang berlangsung pada September 2026 itu berusaha memotret kualitas sejumlah tokoh nasional menjelang Pemilihan Presiden 2029.

Dedi memperoleh nilai rata-rata 7,0 dari skala 0–10.

Angka itu menjadi satu potongan dari gambaran yang lebih luas tentang dirinya di mata para pemimpin opini.

Bukan seluruh cerita tentang seorang gubernur, melainkan rekaman penilaian dari kelompok responden yang terdiri atas akademisi, ilmuwan, dan jurnalis.

Pendiri SMRC Saiful Mujani melihat adanya keselarasan antara penilaian kalangan pemimpin opini terhadap Dedi dan kecenderungan dukungan publik yang ia amati dalam survei nasional.Baginya, pertemuan dua persepsi tersebut menjadi salah satu temuan penting penelitian.

Saiful Mujani mengatakan, Dedi Mulyadi memiliki keselarasan penilaian positif antara opinion leader dan masyarakat luas. Menurutnya, tingkat kesukaan publik terhadap Dedi dalam sejumlah survei nasional bahkan berada di atas 90 persen.

“Tidak ada yang bisa, yang menyamai Dedi Mulyadi untuk kesejajaran antara opinion leader, evaluasi opinion leader dengan evaluasi massa secara umum,” ujar Saiful dalam keterangannya, Kamis (15/10).

Di balik angka rata-rata itu, terdapat sejumlah ukuran yang tidak sepenuhnya bergerak pada garis yang sama. Kemampuan memimpin memperoleh nilai 7,3.

Penerimaan atau acceptability dan karakter pluralis-inklusif masingmasing mendapat 7,2. Empati berada pada angka 7,1, sedangkan komitmen terhadap demokrasi memperoleh nilai 7,0.

Dua indikator lain mencatat angka 6,7: integritas dan kapabilitas atau kompetensi.

Angka-angka tersebut membentuk potret yang berlapis. Ada dimensi yang mendapat penilaian lebih tinggi, ada pula yang memperoleh nilai berbeda.

Survei itu tidak menghapus perbedaan tersebut, justru memperlihatkannya.

Bagi pakar politik Universitas Padjadjaran (Unpad) Muradi, pengalaman bekerja dan kedekatan pendekatan dengan masyarakat ikut membentuk cara publik memandang Dedi. Menurutnya, pengalaman dapat memengaruhi cara seorang pemimpin membaca keinginan masyarakat dan meresponsnya.

“Kalau survei pakar pasti ada pendekatan kualitatif dan kuantitatif.

Penilaian terhadap KDM (Dedi Mulyadi), misalnya, karena dia dianggap paham maunya publik,” ujar Muradi saat dihubungi, Kamis (15/10).

Pengalaman, dalam pandangan Muradi, bukan sekadar catatan perjalanan seseorang. Pengalaman juga membentuk cara berhadapan dengan persoalan dan membangun komunikasi dengan masyarakat.

Ia menilai, hal itu menjadi salah satu alasan pendekatan Dedi dianggap lebih mudah diterima dibandingkan sejumlah tokoh lain.

“Jadi, itu salah satu alasan, kenapa dia punya pendekatan yang jauh lebih nyaman. Karena dia punya pengalaman bekerja dan juga memiliki pendekatan berbasis pengalaman (experience) tadi. Kan berbeda, misalnya, dengan beberapa orang lain. Kalau tidak salah, di situ ada nama Anies (Baswedan), ada Uceng (Zainal Arifin Mochtar),” ucapnya.

Namun, persepsi bukan sesuatu yang berhenti pada satu titik. Ia bisa bertahan, berubah, atau berjarak dari kenyataan yang kelak terlihat. Karena itu, Muradi menekankan pentingnya konsistensi dalam kepemimpinan, terutama ketika penilaian positif dikaitkan dengan kemungkinan perjalanan politik menuju 2029.

“Banget sih menurut saya. Ya, ini tinggal menjaga konsistensi saja,” kata Muradi ketika ditanya apakah penilaian positif pada sejumlah indikator tersebut dapat menjadi modal bagi Dedi menuju Pilpres 2029.

Survei SMRC melibatkan 200 responden, terdiri atas 166 akademisi atau ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu dan 34 jurnalis.

Sejumlah nama yang tercantum sebagai responden antara lain Komaruddin Hidayat, Hikmahanto Juwana, Dewi Fortuna Anwar, Asvi Warman Adam, dan Kuskridho Ambardi.

Responden dipilih melalui metode snowball sampling, yakni perekrutan berdasarkan jejaring atau rekomendasi responden sebelumnya. Cara ini membuat hasil penelitian menggambarkan penilaian dari kelompok yang terlibat, tetapi tidak dapat digeneralisasi secara statistik untuk mewakili seluruh kalangan pemimpin opini di Indonesia.

SMRC menggunakan konsep kepemimpinan demokratik- transformatif yang mencakup kualitas personal, komitmen terhadap demokrasi, serta kemampuan mendorong perubahan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dengan kerangka itu, penilaian tidak hanya diarahkan pada kemampuan seseorang memimpin, tetapi juga pada nilai-nilai yang mendasari kepemimpinannya.

Meski demikian, angka tetap memiliki batas. Nilai dalam survei merupakan penilaian responden terhadap indikator yang ditetapkan, bukan pengukuran langsung atas kepuasan masyarakat atau keberhasilan program pemerintahan Dedi di Jawa Barat.

Persepsi para pemimpin opini dan pengalaman warga atas kebijakan pemerintah merupakan dua hal yang dapat saling bersinggungan, tetapi tidak otomatis identik.

(yuliantono/gin)


Editor : Inilahkoran