Demi Kesehatan Sekolah Daring

Demi Kesehatan Sekolah Daring
BELAJAR DARING: Gubernur Bengkulu Helmi Hasan memberlakukan PJJ atau belajar daring bagi sekolah di daerah terdampak kabut asap.(ANTARA/BOYKE LEDY WATRA)

INILAH, Bengkulu - Kabut asap tak hanya mengaburkan pandangan, tetapi juga mengubah cara anak-anak menuntut ilmu. Ketika udara dinilai sangat tidak sehat dan berbahaya bagi kesehatan, ruang kelas harus memberi jalan bagi pembelajaran jarak jauh demi melindungi peserta didik dari risiko gangguan pernapasan.

Gubernur Bengkulu Helmi Hasan memberlakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar daring bagi sekolah-sekolah di wilayah terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kebijakan itu berlaku sejak surat edaran diterbitkan dan ditujukan kepada bupati serta wali kota se-Provinsi Bengkulu.

“Kegiatan proses belajar mengajar dapat melalui pembelajaran jarak jauh (PJJ) hanya untuk daerah wilayah terdampak dimulai dari surat edaran ini diterbitkan,” kata Helmi di Bengkulu, seperti dikutip dari ANTARA, Kamis (22/10).

Kebijakan tersebut menjadi upaya menjaga kegiatan pendidikan tetap berjalan tanpa mengabaikan keselamatan siswa. Daerah yang terdampak diminta menyesuaikan pelaksanaan pembelajaran dengan kondisi kabut asap di wilayah masing-masing.

Peralihan ke pembelajaran daring menjadi tanggung jawab setiap guru dan satuan pendidikan. Guru tetap diwajibkan merekap kehadiran peserta didik setiap hari selama kegiatan belajar berlangsung.

Meski siswa belajar dari rumah, aktivitas sekolah tidak sepenuhnya berhenti. Kepala sekolah, guru, dan staf administrasi tetap diwajibkan hadir di sekolah setiap hari selama jam kerja dengan mematuhi protokol kesehatan, termasuk mengenakan masker.

Pengaturan ini menempatkan sekolah pada dua tanggung jawab sekaligus: menjaga keberlangsungan proses belajar dan mengurangi risiko kesehatan akibat paparan asap. Pelaksanaan kebijakan pun perlu menyesuaikan tingkat dampak di setiap wilayah, sebab tidak seluruh daerah mengalami kondisi yang sama.

Helmi juga mengimbau masyarakat menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan. Imbauan tersebut menyasar warga yang berhadapan langsung dengan kondisi udara yang memburuk akibat kabut asap.

Sebelumnya, Wakil Gubernur Bengkulu Mian menyatakan wilayahnya tergolong aman dari kejadian karhutla. Pemerintah daerah juga disebut mampu mengeliminasi titik api di sejumlah wilayah terdampak.

Namun, Bengkulu tetap merasakan dampak kabut asap yang berasal dari provinsi lain. Kondisi ini memperlihatkan bahwa dampak kebakaran hutan dan lahan tidak selalu berhenti di wilayah tempat api berkobar.

Bagi dunia pendidikan, situasi tersebut menuntut penyesuaian agar kesehatan siswa dan tenaga pendidik tetap menjadi perhatian. Pembelajaran jarak jauh menjadi pilihan sementara bagi sekolah di wilayah terdampak, sementara pemantauan kondisi udara dan kepatuhan terhadap protokol kesehatan tetap diperlukan. (gin)


Editor : Inilahkoran