Di Beranda Sunyi, Mereka Merindukan Pulang
RUMAH Singgah Bandung menjadi tempat berteduh bagi warga telantar. Pendampingan membantu mereka bangkit dan menemukan harapan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Ada orang-orang yang tersisih bukan hanya dari rumah, tetapi juga dari kehidupan yang semestinya memberi mereka tempat. Mereka datang membawa luka, kehilangan, dan harapan yang tersisa.
Di Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung, para pendamping berusaha mengembalikan sesuatu yang kerap hilang lebih dahulu daripada tempat tinggal: rasa berharga sebagai manusia.
Cici Feby Retnowati masih mengingat seorang penghuni bernama Bahtiar yang pernah meninggalkan tulisan di dinding rumah singgah.
Kalimatnya sederhana, tetapi membekas dalam ingatan Cici, Koordinator Care Giver UPTD Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung itu.
“Terima kasih sudah menganggap saya manusia.”
Bagi Cici, tulisan tersebut menjadi salah satu kenangan paling membekas sejak dia bekerja di rumah singgah pada 2019. Bahtiar datang ketika kondisi psikologisnya menurun setelah tiga kali gagal menikah.
Dia sempat menjalani pengobatan di rumah sakit, tetapi kemudian ditolak keluarganya hingga akhirnya dibawa ke rumah singgah.
Penolakan itu membuat Bahtiar kehilangan kepercayaan diri. Dia bahkan merasa tidak pantas berteman dengan orang lain.
“Dia mengakui, ‘Saya orang gila, Bu. Ibu jangan berteman dengan saya.’ Saya bilang, enggak ada yang bilang Bapak orang gila, Bapak cuma sedang sakit,” tutur Cici.
Cici berusaha mendekatinya melalui percakapan dan berbagai kegiatan. Perlahan, Bahtiar mulai membuka diri. Dia kemudian mendapat kesempatan mengikuti pelatihan bengkel motor selama tiga bulan.
Pelatihan itu menjadi titik terang. Setelah menyelesaikannya, Bahtiar kembali ke rumah singgah dengan membawa sertifikat kelulusan. Dia menemui Cici dengan penuh semangat.
“Bu, saya sudah lulus. Nilainya B,” kata Bahtiar, seperti dikenang Cici.
Melihat kepercayaan dirinya mulai tumbuh, Cici mendorong Bahtiar untuk pulang menemui keluarga. Saat itu bertepatan dengan momentum Lebaran. Bahtiar membawa sertifikat dan perlengkapan hasil pelatihan dengan harapan dapat memulai kembali kehidupannya.
Namun, harapan itu kembali runtuh. Tiga hari kemudian, Bahtiar datang lagi ke rumah singgah dalam kondisi depresi. Dia tidak mau makan, lebih banyak berbaring, enggan mandi, bahkan buang air di tempat tidur.
Ketika petugas lain kesulitan membujuknya, Bahtiar hanya ingin dirawat Cici. Dia kemudian dimandikan, dikenakan pakaian yang lebih baik, dan dibujuk agar kembali bersemangat.
“Sekarang mandi dulu. Harus sehat dulu,” kata Cici ketika itu.
Keesokan harinya, Bahtiar meninggal dunia. Sebelum meninggal, dia meninggalkan tulisan terima kasih di dinding rumah singgah. Selain menyampaikan rasa terima kasih, dia juga menyebut nama Cici dan seorang petugas lainnya yang telah mendampinginya.
Bagi Cici, pengalaman itu menyisakan kesedihan sekaligus pengingat bahwa tidak semua orang yang datang ke rumah singgah berhasil menemukan jalan pulang.
Ada yang masih berharap kembali kepada keluarga, tetapi terbentur penolakan. Ada pula yang harus berjuang menghadapi persoalan kesehatan dan luka psikologis.
“Sedihnya ketika mereka meninggal sebelum bisa bertemu keluarganya, atau keluarganya enggak datang untuk mengurus. Kita sudah berusaha mendampingi, tapi ternyata waktunya enggak sampai mereka kembali ke keluarga,” ucapnya.
Di rumah singgah, Cici bersama 11 orang lainnya mendampingi penghuni menjalani aktivitas sehari-hari. Pekerjaan mereka dimulai sejak penghuni bangun tidur hingga kembali beristirahat, mulai dari membantu makan, mandi, berganti pakaian, minum obat, hingga mendampingi mereka ketika membutuhkan pelayanan kesehatan.
Tingkat ketergantungan setiap penghuni berbeda. Sebagian masih mampu melakukan aktivitas sendiri, sedangkan lainnya membutuhkan bantuan sebagian atau sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Namun, pekerjaan itu tidak semata-mata tentang perawatan fisik. Banyak penghuni datang dengan persoalan psikologis dan sosial yang membuat mereka merasa ditolak, bahkan menganggap dirinya sebagai orang buangan.
Karena itu, pendekatan terhadap setiap penghuni tidak bisa disamakan. Cici berusaha menempatkan mereka sebagai manusia yang setara, dengan menyesuaikan cara berkomunikasi terhadap karakter dan latar belakang masing-masing.
“Kita tidak boleh membuat mereka merasa lebih rendah. Kita anggap mereka sama seperti kita. Cara komunikasinya juga kita sesuaikan,” katanya.
Bagi Cici, kebahagiaan terbesar dari pekerjaannya adalah ketika melihat seseorang yang semula kehilangan harapan perlahan kembali percaya kepada dirinya sendiri dan mampu menjalani kehidupan dengan lebih mandiri.
Dari pengalaman mendampingi para penghuni, dia memegang satu keyakinan yang terus dibawanya dalam pekerjaan. “Menolong orang lain sama dengan menolong diri sendiri.”
Menelusuri Jalan Pulang
Kehidupan para penghuni rumah singgah tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari. Di balik setiap orang yang datang, terdapat persoalan yang perlu dipahami sebelum ditentukan langkah penanganan selanjutnya.
Di sinilah peran pekerja sosial menjadi penting. Jika Care Giver mendampingi aktivitas keseharian penghuni, pekerja sosial berupaya memahami persoalan mereka secara lebih menyeluruh, mulai dari kondisi keluarga, kebutuhan layanan, hingga kemungkinan untuk kembali menjalankan fungsi sosial di tengah masyarakat.
Irfan Ahmad Nugraha, Pekerja Sosial UPTD Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung, telah menjalani profesi tersebut sejak Januari 2016.
Menurutnya, pekerja sosial merupakan profesi humanistik yang tidak cukup hanya mengandalkan niat baik. Dibutuhkan pengetahuan, nilai, dan keterampilan untuk memahami persoalan seseorang serta menentukan intervensi yang tepat.
Ketika seseorang datang ke rumah singgah, proses pelayanan tidak berhenti pada penerimaan dan penyediaan tempat tidur. Pekerja sosial terlebih dahulu melakukan asesmen untuk mengetahui identitas, kondisi keluarga, persoalan, serta kebutuhan orang tersebut.
Penghuni datang melalui berbagai jalur. Ada yang datang sendiri, ditemukan saat penjangkauan, dilaporkan masyarakat, atau dirujuk pemerintah, rumah sakit, kepolisian, maupun unsur kewilayahan.
Setelah diterima, mereka menjalani asesmen, mendapatkan penjelasan mengenai hak dan kewajiban, serta memperoleh intervensi sesuai kebutuhan. Berikutnya, pekerja sosial menentukan rujukan atau terminasi berdasarkan kondisi masing-masing.
Proses itu menempatkan pekerja sosial sebagai penghubung antara orang-orang yang sedang berada dalam situasi rentan dan sistem pelayanan yang dapat membantu mereka.
Jika persoalannya berkaitan dengan kesehatan, pekerja sosial berkoordinasi dengan fasilitas kesehatan. Jika menyangkut administrasi kependudukan, koordinasi dilakukan dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil.
Kebutuhan pendidikan dapat ditangani bersama Dinas Pendidikan, sedangkan rehabilitasi sosial lanjutan bisa dilakukan melalui rujukan ke panti atau sentra milik Kementerian Sosial.
Bahkan, ketika seseorang datang tanpa identitas, pekerja sosial perlu menelusuri asal-usulnya. Koordinasi dengan Disdukcapil dapat memanfaatkan data biometrik untuk membantu menemukan identitas dan daerah asal.
Setelah itu, upaya pencarian keluarga dapat dilakukan melalui koordinasi dengan pemerintah daerah terkait. Namun, menemukan keluarga tidak selalu berarti menemukan rumah untuk pulang.
Ada keluarga yang menolak menerima kembali anggota keluarganya. Dalam keadaan lain, keterbatasan tempat rujukan membuat sebagian penghuni harus tinggal lebih lama di rumah singgah.
“Kalau keluarga menolak, kita edukasi dulu. Kita jelaskan pentingnya keluarga dalam proses pemulihan. Kalau memang sudah tidak memungkinkan, baru kita cari alternatif rujukan ke panti atau sentra,” kata Irfan.
Karena itu, penanganan setiap penghuni memerlukan proses yang berbeda. Ada yang membutuhkan layanan kesehatan, ada yang perlu ditelusuri identitas dan keluarganya, sementara sebagian lainnya memerlukan rehabilitasi sosial lanjutan.
Proses tersebut membutuhkan koordinasi lintas lembaga, sekaligus kesediaan untuk memahami keadaan setiap orang sebelum menentukan jalan keluar.
Bukan Tujuan Akhir
Kepala UPTD Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung, Handiyan, menjelaskan bahwa rumah singgah merupakan tempat penanganan bagi Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang telantar dan membutuhkan penanganan sebelum dirujuk ke sistem layanan yang sesuai.
Setiap penghuni terlebih dahulu diidentifikasi, kemudian menjalani asesmen untuk mengetahui kondisi dan kebutuhan sosialnya.
Hasil asesmen dituangkan dalam laporan sosial yang menjadi dasar bagi lembaga tujuan untuk menentukan apakah seseorang dapat diterima dan layanan apa yang paling sesuai.
“Highlight-nya sebenarnya asesmen,” kata Handiyan.
Pelayanan rehabilitasi sosial dasar di rumah singgah meliputi pemenuhan kebutuhan makan, pakaian, tempat tidur, konseling, asesmen, pemeriksaan kesehatan, serta pengantaran atau pendampingan ketika penghuni harus dirujuk. Rumah singgah juga memberikan bimbingan fisik, mental, dan spiritual.
Tiga bangunan digunakan untuk menampung para penghuni dari berbagai kelompok PPKS. Dalam lingkungan tersebut, identifikasi kondisi kesehatan dan kebutuhan setiap orang menjadi bagian penting agar pelayanan dapat diberikan sesuai keadaan mereka.
Sepanjang Januari hingga Oktober 2026, UPTD Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung telah menangani 1.062 klien dengan rata-rata lama tinggal sekitar 23 hari.
Handiyan menjelaskan, idealnya penghuni tidak tinggal terlalu lama. Namun, dalam praktiknya, sebagian orang menetap lebih panjang karena belum menemukan sistem rujukan yang tepat atau belum dapat kembali kepada keluarga.
Kondisi tersebut memperlihatkan, penanganan orang telantar tidak cukup hanya dengan menyediakan tempat beristirahat. Diperlukan kesinambungan pelayanan agar persoalan yang mereka hadapi dapat ditangani hingga menemukan jalan keluar.
Keluarga dan masyarakat pun memiliki peran penting dalam proses tersebut. Penerimaan dari lingkungan terdekat dapat menjadi bagian dari upaya seseorang untuk kembali menjalani kehidupan sosialnya.
Menurut Handiyan, tujuan akhir rehabilitasi sosial bukanlah membuat seseorang terus tinggal di rumah singgah, melainkan mengembalikannya agar dapat diterima dan kembali berada di tengah keluarga serta masyarakat.
Sebab, rumah singgah pada dasarnya merupakan tempat persinggahan. Di sana, seseorang diharapkan memperoleh pertolongan sebelum melanjutkan perjalanan hidupnya.
Tulisan Bahtiar di dinding rumah singgah menjadi pengingat, di balik setiap penghuni terdapat manusia dengan pengalaman, persoalan, dan harapan masing-masing. Mereka tidak hanya membutuhkan tempat tinggal, makanan, atau perawatan, tetapi juga kesempatan untuk kembali merasa berharga.
Bagi sebagian orang, jalan pulang mungkin terbuka melalui keluarga. Bagi yang lain, perjalanan itu membutuhkan waktu lebih panjang dan dukungan dari berbagai pihak.
Di antara semua upaya tersebut, ada satu hal yang semestinya tidak hilang: hak setiap manusia untuk diperlakukan dengan layak, bahkan ketika kehidupan telah membuatnya kehilangan hampir segala hal. (gin)
Editor : Inilahkoran
