Diguyur Hujan Sepekan Terakhir, Potensi Bencana Longsor Ancam Warga Desa Cibedug Bandung Barat
Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Bandung Barat (KBB) selama sepekan terakhir menyebabkan bencana longsor yang menutup saluran air Leuwigede di Desa Cibedug, Kecamatan Rongga.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - hujan deras yang mengguyur Kabupaten Bandung Barat (KBB) selama sepekan terakhir menyebabkan bencana longsor yang menutup saluran air Leuwigede di Desa Cibedug, Kecamatan Rongga. Akibatnya, pasokan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari dan pertanian warga terancam.
Kepala Desa Cibedug Engkus Kustendi mengungkapkan, terdapat enam titik longsor yang menghambat aliran air di saluran Leuwigede.
Saluran ini merupakan sumber air utama yang berasal dari Sungai Cidadap, yang mengalir di wilayah selatan Bandung Barat.
"Longsor terjadi sekitar empat hari lalu dan menutup sumber air yang sangat penting bagi seluruh aktivitas warga Desa Cibedug," ujar Engkus saat dikonfirmasi.
Menurutnya, longsor yang menutup aliran Sungai Cidadap cukup parah, dengan panjang longsor bervariasi antara 3 hingga 12 meter. Material longsor yang menutupi saluran menyebabkan aliran air terputus total.
"Sampai saat ini, saluran masih tertutup material longsor dan ada potensi longsor susulan karena ada enam titik longsor. Dampaknya sangat besar bagi warga," jelasnya.
Saluran Leuwigede merupakan sumber air utama bagi warga untuk berbagai keperluan, mulai dari mandi, mencuci, hingga pengisian sumur resapan.
Selain itu, air dari saluran ini juga digunakan untuk mengairi lahan pertanian dan perikanan, yang menjadi mata pencaharian utama warga Desa Cibedug.
"Semua warga bergantung pada air dari saluran itu untuk kebutuhan air bersih, pertanian, perkebunan, dan perikanan. Meskipun saat ini masih musim hujan dan sumber air bersih relatif aman, namun jika tidak segera dibersihkan, longsor ini akan sangat merugikan warga," kata Engkus.
Selain masalah longsor yang menutup saluran air, Desa Cibedug juga terancam oleh potensi longsor dan pergerakan tanah.
Menurutnya, pergerakan tanah terparah terjadi pada bulan Maret 2024 lalu, yang menyebabkan beberapa kampung harus ditinggalkan karena tidak aman lagi.
"Di kampung yang terdampak pergerakan tanah itu juga beberapa kali terjadi longsor, tetapi tidak mengancam warga karena sudah ditinggalkan," tandasnya.
Editor : Doni Ramdhani
