ESDM Jabar Telusuri Antrean Solar Subang

ESDM Jabar Telusuri Antrean Solar Subang
ANTREAN SOLAR: Ketahanan stok BBM di Jabar diklaim masih mencukupi, tetapi antrean kendaraan untuk mendapatkan solar di Subang dan sekitarnya menjadi persoalan yang perlu ditelusuri.(ILUSTRASI)

INILAH Subang - Antrean kendaraan untuk mendapatkan solar di Subang dan sekitarnya menjadi tanda tanya di tengah klaim ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) Jawa Barat masih mencukupi. Di satu sisi, pasokan disebut terus mengalir melalui jaringan pipa. Di sisi lain, antrean panjang membutuhkan penjelasan mengenai distribusi dan pembagian alokasi di lapangan.

Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Barat berencana berkoordinasi dengan Pertamina untuk menelusuri penyebab kondisi tersebut. Kepastian stok secara umum dinilai belum cukup untuk menjelaskan mengapa antrean solar terjadi di sejumlah wilayah.

Kepala Dinas ESDM Jabar Tulus Arifan mengatakan, hingga Selasa (21/10), pihaknya belum menerima laporan kelangkaan BBM di sejumlah daerah. Berdasarkan koordinasi dengan Pertamina, distribusi BBM di Jawa Barat, terutama Bandung Raya, ditopang jaringan pipa yang memungkinkan pasokan mengalir secara berkelanjutan.

"Di Jawa Barat, khususnya Bandung, penyaluran menggunakan jaringan pipa sehingga pasokan terus mengalir. Berdasarkan informasi yang kami terima, ketahanan stok BBM jenis gasoline atau bensin saat ini sekitar enam sampai tujuh hari," ujar Tulus.

Sistem tersebut, kata dia, turut menopang ketersediaan Pertamax, Pertalite, dan solar di Bandung Raya. Jawa Barat juga dinilai memiliki keunggulan dibandingkan sejumlah provinsi yang masih mengandalkan pengiriman melalui jalur laut dan berpotensi menghadapi hambatan distribusi.

"Terkait kondisi BBM hari ini, di Jawa Barat, pusat penyalurannya berada di Bandung. Karena itu, kondisi Jawa Barat relatif aman. Karena sistem penyaluran BBM di wilayah ini menggunakan pipa. Berbeda dengan beberapa provinsi lain yang masih mengandalkan kapal, sehingga berpotensi mengalami gangguan distribusi," ucapnya.

Meski demikian, kondisi distribusi yang relatif aman belum menjawab persoalan antrean solar di Subang dan sekitarnya. Informasi lebih terperinci mengenai alokasi dan wilayah penyaluran masih dibutuhkan untuk mengetahui apakah terdapat persoalan distribusi di kawasan tersebut.

Tulus menyebut, berdasarkan informasi yang diterimanya, ketahanan stok bensin diperkirakan mencapai enam hingga tujuh hari apabila terjadi gangguan pasokan. Adapun stok solar di Bandung Raya disebut dapat bertahan hingga 13 hari.

"Pasokan terus mengalir melalui sistem pipa. Jadi, ketersediaannya terus terjaga. Namun, jika terjadi gangguan, ketahanan stok yang tersedia diperkirakan bisa mencapai enam sampai tujuh hari. Kalau solar, ketahanannya lebih lama, bahkan mencapai 13 hari berdasarkan informasi yang kami terima," paparnya.

Angka ketahanan stok tersebut menjadi gambaran kondisi pasokan yang diterima Dinas ESDM Jabar. Namun, untuk menjelaskan antrean di wilayah tertentu, perlu ditelusuri pula bagaimana BBM dialokasikan dan disalurkan hingga ke stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).  (yuliantono/gin)


Editor : Inilahkoran