Farhan Khawatir Kasus HIV/AIDS di Kota Bandung seperti Fenomena Gunung Es

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengkhawatirkan, jumlah kasus HIV/AIDS di Kota Bandung yang belum terpetakan secara akurat.

Farhan Khawatir Kasus HIV/AIDS di Kota Bandung seperti Fenomena Gunung Es
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyoroti pendataan kasus HIV/AIDS yang belum akurat. (yogo triastopo)

INILAHKORAN.ID - Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengkhawatirkan, jumlah kasus HIV/AIDS di Kota Bandung yang belum terpetakan secara akurat. Meski kasus terdata cenderung stagnan, jumlah sebenarnya di masyarakat diduga lebih besar daripada angka yang tercatat.

Dia mengatakan, persoalan utama penanganan HIV/AIDS saat ini adalah keterbatasan data yang belum mampu menggambarkan kondisi penyebaran secara presisi. Padahal data yang akurat, dibutuhkan sebagai dasar menentukan langkah pencegahan dan penanganan.

“Kondisinya cenderung stagnan. Angkanya tidak banyak berubah. Hal itu yang saya khawatirkan karena selalu ada kasus baru, tetapi pada saat yang sama juga ada kematian,” kata Farhan, Senin (12/10/2026).

Menurut dia, kondisi tersebut belum sesuai dengan target yang ingin dicapai yakni tidak ada kasus baru, tidak ada kematian akibat HIV/AIDS dan tidak ada stigma terhadap orang yang terinfeksi.

Farhan menilai, persoalan HIV/AIDS perlu mendapat perhatian serius karena kasus yang terdata belum tentu mencerminkan seluruh kasus di masyarakat. Kondisi penyebaran penyakit itu, diibaratkan seperti fenomena gunung es.

“Saya juga meyakini bahwa persoalan HIV/AIDS ini seperti fenomena gunung es. Kasus yang terdata belum tentu menggambarkan seluruh kasus yang sebenarnya terjadi di masyarakat,” ucapnya.

Dia mendorong penguatan sosialisasi dan pemeriksaan atau screening HIV/AIDS secara sukarela. Pemeriksaan ditegaskan, tidak boleh dipaksakan maupun dijadikan kewajiban bagi masyarakat.

“Kita perlu mencari berbagai cara agar masyarakat bersedia memeriksakan diri secara sukarela,” ujar dia.

Farhan menjelaskan, pengukuran situasi HIV/AIDS juga menggunakan indikator epidemiologis antara lain apabila satu persen ibu hamil terinfeksi HIV dan lima persen masyarakat dari kelompok berisiko terinfeksi HIV/AIDS. Namun kondisi di Kota Bandung, belum dapat diukur secara akurat berdasarkan indikator itu.

Selain pemeriksaan, sosialisasi akan dilakukan secara bertahap melalui pendekatan kewilayahan dengan melibatkan berbagai lembaga kesehatan. Upaya itu diharapkan meningkatkan kesadaran masyarakat, sekaligus mendorong warga mengakses layanan kesehatan tanpa takut mendapat stigma.

Dia menegaskan, penghapusan stigma menjadi salah satu target yang sedang dikejar. Masyarakat harus merasa aman ketika mencari informasi, menjalani pemeriksaan maupun mengakses layanan kesehatan.

“Saat ini, kita sedang berupaya mengejar target penghapusan stigma terlebih dahulu. Masyarakat harus merasa aman ketika mencari informasi, menjalani pemeriksaan maupun mengakses layanan kesehatan,” pungkasnya.


Editor : Doni Ramdhani