Farhan Minta Kasus Dugaan Keracunan Tak Hanya Berdasarkan Klaim Media Sosial

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan meminta dugaan keracunan makanan di restoran Jalan Pasirkaliki tak hanya didasarkan informasi yang beredar di media sosial.

Farhan Minta Kasus Dugaan Keracunan Tak Hanya Berdasarkan Klaim Media Sosial
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan saat menjelaskan penanganan dugaan keracunan makanan di sebuah restoran Jalan Pasirkaliki. (yogo triastopo)

INILAHKORAN.ID - Wali Kota Bandung Muhammad Farhan meminta dugaan keracunan makanan di restoran Jalan Pasirkaliki tidak hanya didasarkan pada informasi yang beredar di media sosial. 

Pemerintahan daerah melakukan verifikasi terhadap laporan korban dengan melibatkan Dinas Kesehatan (Dinkes), dan fasilitas pelayanan kesehatan.

Dia mengatakan, informasi mengenai dugaan ratusan orang mengalami keracunan masih dalam proses penyelidikan. Data yang beredar di media sosial menyebut sekitar 280 orang menjadi korban, namun jumlah itu belum dikonfirmasi Dinkes Kota Bandung.

"Belum banyak, saya belum tahu persis. Tapi itu sedang diverifikasi. Betul enggak segitu," kata Farhan, Kamis (8/10/2026).

Menurutnya, proses verifikasi dilakukan dengan menelusuri kondisi kesehatan warga yang melaporkan dugaan keracunan. Pemerintah juga akan mencocokkan data rumah sakit, guna memastikan identitas pasien serta keluhan kesehatan yang dialami.

"Investigasi kasus, baru kalau ada kasus baru. Pemantauan kondisi kesehatan kasus yang dilaporkan. Bekerja sama dengan pendataan rumah sakit untuk mengetahui identitas pasien yang mengeluhkan, termasuk dokter yang mendiagnosisnya," ucapnya.

Farhan menegaskan, setiap laporan dugaan keracunan perlu memiliki dasar yang jelas. Jika seseorang menyatakan mengalami keracunan setelah makan di restoran, tertentu berdasarkan diagnosis dokter maka identitas pasien, restoran hingga dokter yang memberikan diagnosis perlu diverifikasi.

"Harus tanggung jawab dong. Kalau saya bilang saya keracunan makan di restoran A karena kata dokter B, maka saya harus diidentifikasi, restoran A nya diidentifikasi, dokter B yang memberikan diagnosis harus diidentifikasi, dan memberikan pertanggungjawaban medisnya," ujar dia.

Selain menelusuri korban, Dinkes Kota Bandung juga menyusun analisis hipotesis kasus keracunan makanan. Perkembangan penanganan akan dipimpin Dinkes dengan laporan kepada Dinkes Provinsi Jawa Barat.

Dia mengatakan, pemeriksaan terhadap restoran masih berlanjut. Pemantauan dilakukan guna melihat apakah muncul laporan, atau kasus baru setelah dugaan keracunan ramai diperbincangkan.

"Itu sedang diselidiki terus. Karena kalau memang ada pengaduan, kenapa masih ada yang datang ke sana? Kita ingin tahu, coba kita selidiki dulu apa yang membuatnya. Kita akan datangi terus setiap hari memastikan apakah ada kasus baru atau tidak ada," tuturnya.

Menurut Farhan, respons terhadap laporan masyarakat di media sosial tetap diperlukan. Namun informasi yang beredar perlu diikuti proses pemeriksaan, agar langkah yang diambil memiliki dasar yang jelas.

"Setiap pengaduan yang ada di media sosial, seperti arahan pak gubernur di rapat koordinasi di Depok hari ini setiap kepala daerah harus sangat sensitif terhadap keluhan masyarakat di media sosial. Ini yang kita lakukan sekarang," ujar dia.

Di sisi lain, pemeriksaan Dinkes Kota Bandung menemukan sejumlah aspek dapur restoran yang masih perlu diperbaiki. Temuan itu mencakup area pencucian alat makan, penyimpanan bahan makanan beku dan dingin, penyimpanan minyak jelantah, bahan kimia hingga penggunaan masker oleh penjamah makanan.

Dia menyebut, pemeriksaan juga mencakup pengambilan sampel makanan. Sampel itu akan diuji di laboratorium guna memastikan ada atau tidaknya kontaminasi.

"Kita ambil sampel makanan, itu segala macam dites di lab. Dites di lab itu untuk mengetahui sesuatu terkontaminasi atau enggak. Mesti ada kultur," ucapnya.

Hasil pemeriksaan laboratorium tidak bisa diketahui secara instan karena membutuhkan proses kultur. Menurut Farhan, jenis kontaminasi dapat muncul secara bertahap sehingga membutuhkan waktu sebelum kesimpulan bisa ditarik.

"Ngambil makanan, dikultur dua jam. Di dua jam pertama ternyata keluar jenis A. Dua jam kedua jenis B. Dua jam ketiga jenis C. Nah itu kemudian diambil kesimpulannya apa, itu memang agak lama," tuturnya.

Farhan mengatakan, hasil akhir pemeriksaan akan menjadi dasar penentuan langkah lanjutan terhadap restoran. Pihaknya juga menegaskan, dapur restoran harus menjalani sterilisasi selama proses penanganan berlangsung.

"Malam ini saya tagih, mudah-mudahan saya bisa dapat laporan segera," pungkasnya.


Editor : Doni Ramdhani