Farhan Siapkan Solusi Parkir Kebon Jati

Farhan Siapkan Solusi Parkir Kebon Jati
PARKIR LIAR: Kendaraan tampak terparkir di kawasan permukiman di tengah persoalan parkir liar di Kebon Jati, Kota Bandung.(ILUSTRASI)

INILAH, Bandung - Gang-gang sempit di kawasan Kebon Jati, Kota Bandung, ikut menanggung persoalan parkir yang muncul setelah penertiban di jalan utama.

Kendaraan yang sebelumnya parkir di sepanjang jalan kini dilaporkan berpindah ke lingkungan permukiman, sehingga kenyamanan warga berpotensi terganggu.

Situasi tersebut mendorong Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mencari solusi jangka panjang. Salah satu rencana yang disiapkan adalah mencari investor untuk membangun fasilitas parkir baru agar kendaraan para pekerja dapat tertampung tanpa terus membebani permukiman.

"Kami berharap dapat mencari investor yang bersedia membangun fasilitas parkir baru. Dengan begitu, kebutuhan parkir para pekerja bisa ditangani secara lebih teratur dan tidak terus membebani kawasan permukiman warga," kata Farhan, Selasa (13/10).

Menurut Farhan, persoalan parkir di Kebon Jati telah dibicarakan bersama lurah dan ketua RW setempat. Berdasarkan keterangan yang diterimanya, tempat parkir yang selama ini beroperasi di kawasan tersebut dikelola warga setempat dan Karang Taruna.

"Itu merupakan keterangan dari para ketua RW. Silakan dikonfirmasi langsung kepada mereka mengenai pengelolaan parkir tersebut," ucapnya.

Farhan menduga, perpindahan kendaraan ke gang-gang permukiman berkaitan dengan penertiban parkir yang berlangsung bersamaan dengan pekerjaan pembangunan di kawasan Kebon Jati. Di sisi lain, kebutuhan parkir para pekerja di sekitar kawasan bisnis Paskal masih harus diakomodasi.

Banyaknya kendaraan yang ditinggalkan dalam waktu relatif lama membuat Farhan menduga karyawan yang bekerja di kawasan Paskal menjadi pengguna utama lahan parkir di luar kawasan bisnis tersebut.

"Kalau melihat jumlah kendaraan yang parkir dan lamanya kendaraan ditinggalkan, kemungkinan besar pengguna utamanya adalah para karyawan yang bekerja di kawasan Paskal," ujarnya.

Ia juga menyoroti dua kemungkinan penyebab para pekerja memilih parkir di luar kawasan tempat mereka bekerja. Biaya parkir di dalam kawasan Paskal dinilai mahal, sementara lahan parkir di dalam kawasan lebih diprioritaskan bagi pengunjung.

"Kedua, pengelola kawasan lebih mengutamakan tempat parkir di dalam bagi pengunjung. Akibatnya, para pekerja cenderung mencari tempat parkir di luar kawasan, termasuk di lingkungan permukiman warga," jelasnya.

Sebelum fasilitas parkir baru tersedia, Farhan meminta warga menyelesaikan persoalan tersebut melalui musyawarah. Kesepakatan bersama diharapkan dapat menjadi jalan keluar sementara tanpa merugikan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi.

(yogo triastopo/gin)


Editor : Inilahkoran