Farhan Soroti Data Kasus HIV/AIDS Bandung
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Angka kasus HIV/AIDS di Kota Bandung yang cenderung stagnan belum tentu menandakan penyebaran penyakit itu terkendali. Di balik data yang tak banyak berubah, masih ada kemungkinan kasus yang belum terungkap dan belum terjangkau layanan kesehatan.
Kondisi inilah yang menjadi perhatian Wali Kota Bandung Muhammad Farhan. Ia menilai, keterbatasan data membuat pemerintah belum memiliki gambaran akurat mengenai situasi HIV/AIDS di masyarakat, padahal informasi tersebut penting untuk menentukan langkah pencegahan dan penanganan.
“Kondisinya cenderung stagnan. Angkanya tidak banyak berubah. Hal itu yang saya khawatirkan karena selalu ada kasus baru, tetapi pada saat yang sama juga ada kematian,” kata Farhan, Senin (12/10).
Menurut Farhan, kondisi tersebut belum sejalan dengan target penanggulangan HIV/AIDS, yakni tidak ada kasus baru, tidak ada kematian akibat HIV/AIDS, serta tidak ada stigma terhadap orang yang hidup dengan HIV.
Ia menduga angka yang tercatat belum sepenuhnya menggambarkan keadaan sebenarnya. Seperti fenomena gunung es, kasus yang teridentifikasi hanya sebagian dari persoalan yang mungkin terjadi di masyarakat.
“Saya juga meyakini bahwa persoalan HIV/AIDS ini seperti fenomena gunung es. Kasus yang terdata belum tentu menggambarkan seluruh kasus yang sebenarnya terjadi di masyarakat,” ucapnya.
Keterbatasan informasi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan yang tepat sasaran. Tanpa gambaran yang memadai, upaya pencegahan berisiko tidak menjangkau orang-orang yang membutuhkan informasi, pemeriksaan, maupun layanan kesehatan.
Karena itu, Farhan mendorong penguatan sosialisasi dan pemeriksaan HIV secara sukarela. Ia menegaskan, pemeriksaan tidak boleh dipaksakan atau dijadikan kewajiban bagi masyarakat.
“Kita perlu mencari berbagai cara agar masyarakat bersedia memeriksakan diri secara sukarela,” ujar dia.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperluas akses pemeriksaan tanpa membuat masyarakat merasa tertekan. Kesediaan menjalani tes juga berkaitan dengan rasa aman, terutama bagi mereka yang khawatir akan menghadapi perlakuan berbeda setelah mengetahui status kesehatannya.
Farhan menjelaskan, situasi epidemi HIV/AIDS dapat ditelaah menggunakan sejumlah indikator, termasuk prevalensi pada kelompok tertentu. Ia menyebut indikator satu persen ibu hamil terinfeksi HIV dan lima persen masyarakat dari kelompok berisiko terinfeksi HIV/AIDS. Namun, menurutnya, kondisi di Kota Bandung belum dapat diukur secara akurat berdasarkan indikator tersebut.
(yogo triastopo/gin)
Editor : Inilahkoran
