Festival Jalur Rempah Cirebon Digelar, Dorong Jamu Tradisional Jadi Penggerak Ekonomi

Festival Jalur Rempah Episode 3 Tahun 2026 kembali digelar melalui Cirebon Cultural Wellness Workshop Jamu Tradisional dan Jamu Perawatan Pengantin.

Festival Jalur Rempah Cirebon Digelar, Dorong Jamu Tradisional Jadi Penggerak Ekonomi
Wakil Wali Kota Cirebon Siti Farida Rosmawati membuka Festival Jalur Rempah Episode 3 di Keraton Kacirebonan sebagai upaya melestarikan tradisi jamu dan mendorong ekonomi kreatif. (maman suharman)

INILAHKORAN.ID - Pemerintahan Kota Cirebon kembali menggelar Festival Jalur Rempah Episode 3 Tahun 2026 melalui Cirebon Cultural Wellness Workshop jamu Tradisional dan Jamu Perawatan Pengantin di Keraton Kacirebonan. 

Kegiatan itu menjadi upaya melestarikan tradisi jamu sekaligus mendorongnya menjadi bagian dari pengembangan ekonomi kreatif.

Festival tersebut merupakan kolaborasi antara Pemerintahan Kota Cirebon, Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (HARPI) Melati Kota Cirebon, Keraton Kacirebonan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta sejumlah mitra.

Wakil Wali Kota Cirebon Siti Farida Rosmawati mengatakan, penyelenggaraan Festival Jalur Rempah yang telah memasuki episode ketiga menunjukkan komitmen bersama dalam menjaga warisan budaya leluhur.

Menurutnya, jamu tradisional tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga berpotensi menjadi peluang ekonomi di tengah meningkatnya tren gaya hidup alami atau back to nature.

"Festival Jalur Rempah yang sudah memasuki Episode 3 ini menjadi bukti keseriusan kita bersama dalam melestarikan kebudayaan dan keterampilan warisan leluhur," kata Farida, Rabu (29/7/2026).

Dia menambahkan, para perias pengantin memiliki peran strategis dalam mengembangkan potensi tersebut. Dengan memadukan keterampilan tata rias dan pengetahuan tentang jamu tradisional. Termasuk pelaku usaha dapat menghadirkan layanan yang lebih bernilai sekaligus menjaga identitas budaya Indonesia.

"Kolaborasi antara HARPI Melati, Keraton Kacirebonan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta sektor industri merupakan sinergi yang tepat agar budaya lokal memiliki nilai ekonomi dan mampu meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha jasa pernikahan," ujarnya.

Sementara, Ketua HARPI Melati Kota Cirebon Wiwit Widyawati mengatakan, workshop tersebut diikuti 75 peserta dari wilayah Ciayumajakuning.

Dia menyebut Festival Jalur Rempah bukan hanya menjadi ajang mengenang kejayaan jalur rempah Nusantara, tetapi juga momentum melestarikan tradisi meracik jamu sebagai warisan budaya Indonesia.

"Kami berharap peserta mendapatkan pengetahuan dan keterampilan baru serta semakin bangga terhadap kekayaan budaya bangsa. Semoga kolaborasi ini terus berlanjut dalam berbagai kegiatan pelestarian budaya," katanya.

Sedangkan, Sultan Keraton Kacirebonan X Pangeran Sultan Abdul Gani Natadiningrat menegaskan Cirebon sejak dahulu merupakan salah satu jalur perdagangan rempah karena letaknya di kawasan pesisir dan memiliki kerajaan.

Menurutnya, sejarah tersebut menjadi alasan kuat untuk terus menghidupkan kembali tradisi rempah agar tidak hanya menjaga nilai budaya, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

"Sejak dahulu Cirebon merupakan jalur rempah. Kami berharap kegiatan ini tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga mampu memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat," pungkasnya. 


Editor : Doni Ramdhani