Gandeng Hipmi Kota Cimahi, Wakil Wali Kota Tawarkan Sejumlah Gagasan ini
Pemkot Cimahi membuka peluang kerja sama dengan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Hipmi Kota Cimahi untuk mengoptimalkan pemanfaatan aset milik pemerintah daerah yang selama ini tidak produktif.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Cimahi - Pemkot Cimahi membuka peluang kerja sama dengan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Hipmi Kota Cimahi untuk mengoptimalkan pemanfaatan aset milik pemerintah daerah yang selama ini tidak produktif.
Pernyataan tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Cimahi Adhitia Yudhistira usai menghadiri pelantikan pengurus Hipmi Kota Cimahi periode 2025-2028 di Gedung R Harsoyo, Kelurahan Setiamanah, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi, Sabtu 14 Juni 2025 malam.
Menurut Adhitia, selain mendorong peningkatan kapasitas UMKM lokal, langkah tersebut diharapkan mampu mempercepat realisasi visi dan misi kepemimpinan Kota Cimahi tanpa bergantung penuh pada anggaran daerah (APBD).
"Saat Muscab Hipmi 23 Mei 2025 lalu saya banyak menyampaikan dan menawarkan gagasan yang bisa dikerjasamakan antara Pemkot dan Hipmi Kota Cimahi," kata Adhitia.
Adhitia menyebut, aset seperti Baros Information Technology and Creative Center (BITC), Cimahi Techno Park (CTP), dan sejumlah pasar milik pemerintah Kota Cimahi berpotensi dikembangkan bersama HIPMI.
"Daripada kita terus-menerus konsentrasi menggunakan program yang bersumber dari APBD, akhirnya juga tidak optimal, tidak maksimal hasilnya," sebutnya.
Selain pengelolaan aset, Pemkot Cimahi juga menargetkan scale up terhadap 1.000 UMKM sebagai program prioritas dan ini juga bisa disinergikan dengan HIPMI Kota Cimahi melalui pendekatan inkubasi usaha.
"UMKM naik kelas ini sistemnya harus menggunakan sebuah sistem inkubasi. Kalau inkubasi, infrastruktur inkubatornya harus ada. Saya mencanangkan Pasar Atas itu menjadi pusat inkubasi UMKM," ujarnya.
Untuk mendorong UMKM naik kelas, terang Adhitia, perlu ada indikator dan data yang jelas.
"UMKM ini kan usaha mikro, kecil, menengah dan di situ ada parameternya. Kalau disebut scale up, naik kelas berarti dari mikro ke kecil, dari kecil ke menengah. Tolak ukurnya harus ada, datanya harus ada," katanya.
Tak cuma itu, Adhitia juga menyoroti kegiatan pelatihan, seminar, hingga bootcamp selama ini sering dilakukan namun belum mampu menjangkau efektivitas naik kelas UMKM secara nyata.
"Selama ini kan kalau saya perhatikan pelatihan sering, seminar sering, bootcamp juga sering, tapi kita tidak bisa menjamah dan memastikan berapa sebenarnya yang sudah naik kelas di Kota Cimahi," katanya.
Selanjutnya, sambung Adhitia, dirinya menawarkan kolaborasi untuk menyiapkan 10.000 SDM siap kerja yang juga merupakan bagian dari janji politik Wali Kota dan Wakil Wali Kota Cimahi.
"Ini juga diharapkan terjadi sebuah kesinambungan antara Hipmi Kota Cimahi dengan Pemerintah Kota Cimahi untuk membantu kami menyelesaikan janji politik yang sudah kami tuangkan di dalam visi, misi serta program unggulan," tandasnya.
Ketua Umum Hipmi Kota Cimahi Aria Putra Perdana mengatakan, usai pelantikan dirinya bakal mencoba untuk berkomunikasi dengan pemerintah terkait apa saja yang bisa dikolaborasikan.
"Sejauh ini silaturahmi antara Hipmi dan Pemkot Cimahi masih bagus, tapi ke depan kita akan berkomunikasi antara pengusaha dan pemerintah," kata Aria.
Disinggung terkait kontribusi Hipmi Kota Cimahi untuk pendapatan asli daerah (PAD) Kota Cimahi, Aria menuturkan, dari 88 pengurus dan pengusaha yang ada di HIPMI Cimahi omzet yang didapat mereka hampir mencapai Rp10 hingga Rp100 juta per bulan.
"Kalau kita gabung semua bisa sampai Rp10 juta sampai Rp100 miliar di kepengurusan BPC Hipmi Kota Cimahi. Makanya saya bilang ini semua potensi tinggal bagaimana caranya mereka juga bisa semakin besar," ujarnya.
Editor : Doni Ramdhani
