Genjot Infrastruktur lewat Pembiayaan Kreatif

Genjot Infrastruktur lewat Pembiayaan Kreatif
HADIRI MUSCAB: Wali Kota Bogor Dedie A Rachim saat menghadiri Muscab X Gapensi Kota Bogor di IICC Botani, Kecamatan Bogor Tengah, Kamis (15/10).(INILAH/RIZKI MAULUDI)

INILAH, Bogor - Pemotongan dana transfer daerah sekitar Rp300 miliar menjadi tantangan bagi Pemerintah Kota Bogor dalam menjaga laju pembangunan.

Di tengah efisiensi anggaran, pemerintah daerah dituntut tetap menggerakkan ekonomi sekaligus melanjutkan proyek infrastruktur yang dibutuhkan masyarakat.

Untuk menyiasati keterbatasan tersebut, Pemkot Bogor mulai mengandalkan skema creative financing atau pembiayaan kreatif di luar anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).

Kemitraan dengan swasta, program tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR), hingga dukungan pemerintah pusat menjadi alternatif pembiayaan pembangunan.

Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim, mengatakan strategi tersebut diperlukan agar pembangunan tidak sepenuhnya bergantung pada kemampuan fiskal daerah.

Hal itu disampaikannya saat menghadiri Musyawarah Cabang (Muscab) X BPC Gapensi Kota Bogor di IPB International Convention Center, Kecamatan Bogor Tengah, Kamis (15/10).

Menurut Dedie, sejumlah proyek strategis di Kota Bogor telah memanfaatkan sumber pembiayaan di luar APBD. Salah satunya pembangunan ramp off Ciawi 2, yakni akses keluar Tol Bocimi di Ciawi, yang didukung dana CSR Sinarmas Group hampir Rp120 miliar.

Skema serupa juga diterapkan dalam rencana pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Galuga dan Kayumanis. Masing-masing proyek disebut memiliki nilai investasi sekitar Rp2 triliun, dengan kapasitas yang disampaikan mencapai 1.500 ton per hari. Investasi swasta menjadi sumber pembiayaan utama, sementara APBD dialokasikan untuk kebutuhan seperti pembebasan lahan dan akses jalan. (rizki mauludi/gin)


Editor : Inilahkoran