Harga Melambung, Peternak Limbung

KETIKA harga telur dan daging ayam melambung, para peternak lokal justru mengeluh kesulitan menutupi biaya produksi. Benang kusut sedang menjerat rantai pangan.

Harga Melambung, Peternak Limbung
TERANCAM: Pekerja mengumpulkan telur di peternakan ayam petelur Desa Mento, Candiroto, Temanggung, Jawa Tengah, Rabu (14/10). Kementerian Pertanian menyebut sekitar 4,8 juta peternak mengeluhkan tekanan usaha akibat anjloknya harga ayam dan telur di tingkat produsen.(ANTARA FOTO)

Tabir ketimpangan harga ini tersingkap saat Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman melangkah di area peternakan PT Widodo Makmur Unggas, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (15/10).

Di sana, fakta pahit terpapar nyata. Amran mendapati jurang pemisah yang luar biasa lebar antara harga di kandang peternak dan harga di meja pasar.

Menurut dia, ketimpangan harga tersebut berdampak pada produsen maupun konsumen, sehingga penyebabnya perlu segera diurai.

Mentan menilai terdapat indikasi peran perantara yang tidak sehat, sehingga menyebabkan perbedaan harga yang signifikan antara tingkat peternak dan konsumen.

"Jadi yang berteriak produsen, kemudian juga konsumen. Artinya ada middleman yang tidak sehat dan kami sudah menyurat ke Bapak Kapolri," ujarnya lagi.

Ia menegaskan seluruh pihak yang terlibat dalam rantai perdagangan ayam dan telur, mulai dari hulu hingga hilir, tidak boleh melakukan kecurangan karena pemerintah akan menurunkan tim satuan tugas (satgas) untuk melakukan pemeriksaan.

"Sekali lagi, jangan ada yang nakal, kami cek dari bawah, dari hulu ke hilir. Nanti setelah itu kami simpulkan Satgas turun untuk mengecek satu-satu," katanya lagi.

Amran menyebutkan terdapat sekitar 4,8 juta peternak ayam di Indonesia yang kesejahteraan dan keberlangsungan usahanya perlu dijaga, termasuk melalui upaya menjaga ekosistem pasar agar tetap sehat.

"Tidak ada yang boleh tersakiti, terutama peternak kita. Peternak kita 4,8 juta, harus kita jaga bersama," ujarnya pula.

Sebagai salah satu upaya mengurai persoalan tersebut, Kementan mendatangi produsen, termasuk PT Widodo Makmur Unggas di Gunungkidul, untuk mengetahui kebutuhan dan tantangan yang dihadapi pelaku usaha peternakan.

Amran mengapresiasi pengusaha PT Widodo Makmur Unggas, Tumiyono, yang menurut dia telah berjuang selama puluhan tahun dalam menjalankan usahanya serta mempekerjakan banyak orang.

"Kami bersyukur salah satu pengusaha, Pak Tumiyono ini luar biasa sudah 32 tahun berjuang. Ini dijaga dengan baik supaya bisa eksis dan ini mempekerjakan banyak orang," kata Mentan pula.

Telur MBG Sementara itu Amran meminta penyesuaian harga pembelian telur untuk memenuhi kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi Rp26.500 per kilogram guna meningkatkan kesejahteraan peternak.

"MBG kami minta telur beli Rp26.500 (per kilogram), kami sudah bicara langsung Kepala Badan Gizi Nasional, Pak Sudaryono," kata Amran.

Ia mengapresiasi langkah BGN yang telah menindaklanjuti usulan tersebut dengan menerbitkan surat edaran (SE) terkait penyesuaian harga pembelian bahan pangan untuk program MBG, khususnya komoditas telur ayam.

"Beliau (Sudaryono) sudah mengirim surat edaran, tapi ada yang tidak patuh," ujarnya.

Menurut Amran, masih ditemukan telur ayam dari peternak yang dibeli dengan harga rendah untuk memenuhi kebutuhan Program MBG, yakni berkisar Rp20.000 hingga Rp21.000 per kilogram.

Menindaklanjuti kondisi tersebut, Kementan kembali berkoordinasi dengan BGN dan akan menurunkan satuan tugas (satgas) untuk menindaklanjuti persoalan ketidakpatuhan terhadap ketentuan harga pembelian telur.

"Kami bicara lagi kemarin, ternyata ada tidak patuh membeli, tetap dibeli dengan murah Rp20 ribu hingga Rp21 ribu. Itu tidak boleh terjadi, nanti Satgas turun, ini enggak benar," katanya.

Selain berkoordinasi dengan BGN, Kementan berupaya mempercepat pelaksanaan Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Jagung Pakan untuk membantu peternak unggas mandiri atau skala kecil.

"Pakan yang ada di pulau, SPHP diturunkan segera," ujarnya.

Kementan juga memperkuat penyediaan bahan baku dan ekosistem pakan ternak nasional untuk mendukung peternak serta menjaga stabilitas harga melalui penyediaan pakan oleh ID FOOD yang bersumber dari pemerintah.

"Itulah tujuan pemerintah kehadiran ID FOOD. Nah, ini menguntungkan peternak," katanya. (bsf)


Editor : Inilahkoran