IKA Unpad Diajak Berkolaborasi Membangun Bandung

IKA Unpad Diajak Berkolaborasi Membangun Bandung
DORONG KONTRIBUSI: Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mendorong IKA Unpad berkontribusi dalam pembangunan Kota Bandung melalui kolaborasi berbagai bidang keahlian.(ISTIMEWA)

INILAH, Bandung – Pembangunan kota bukan pekerjaan seorang pemimpin semata. Di balik upaya menyelesaikan persoalan perkotaan, dibutuhkan gagasan, keahlian, dan keterlibatan banyak pihak agar setiap program dapat terus berjalan serta memberikan manfaat bagi masyarakat.

Semangat kolaborasi itulah yang disampaikan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan saat menghadiri Musyawarah Provinsi (Musprov) Ikatan Alumni Universitas Padjadjaran (IKA Unpad) Jawa Barat sekaligus pelantikan pengurus provinsi di rooftop Gedung DPRD Provinsi Jawa Barat, Minggu, 18 Oktober 2026.

Farhan mendorong para alumni Unpad dari berbagai bidang keahlian untuk mengambil bagian dalam pembangunan Kota Bandung. Menurutnya, jejaring alumni yang tersebar di beragam profesi memiliki potensi besar untuk memperkaya gagasan sekaligus memperkuat upaya pemerintah daerah dalam menjawab persoalan kota.

Bagi Farhan, pembangunan yang baik bukanlah program yang melekat pada sosok pemimpin tertentu. Lebih dari itu, program harus menjadi kepentingan bersama sehingga keberlanjutannya tidak bergantung pada siapa yang sedang memimpin.

“Hal yang terpenting adalah bagaimana program-program ini menjadi legacy bagi Kota Bandung, bukan legacy bagi wali kotanya,” ujar Farhan dalam keterangan persnya.

Dia menilai, keberlanjutan menjadi salah satu kunci dalam menyelesaikan persoalan perkotaan. Pergantian kepemimpinan semestinya tidak membuat program yang telah dirintis terhenti. Karena itu, dibutuhkan kesepahaman antara pemerintah, akademisi, komunitas, dan berbagai unsur masyarakat untuk menjaga kesinambungan pembangunan.

Salah satu pendekatan yang disoroti Farhan adalah menghubungkan program-program yang selama ini berjalan agar tidak bekerja secara terpisah. Ia mencontohkan pengelolaan sampah organik, pertanian perkotaan melalui program Buruan Sae, serta Dapur Sehat Atasi Stunting (Dapur Dahsat).

Ketiga bidang tersebut, menurutnya, memiliki peluang untuk saling mendukung. Sampah organik rumah tangga dapat diolah menjadi bahan yang bermanfaat bagi pertanian perkotaan. Hasil pertanian kemudian dapat dimanfaatkan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan pangan, termasuk dalam program yang berkaitan dengan penanganan stunting.

Dengan keterhubungan tersebut, satu program tidak hanya menyelesaikan persoalannya sendiri, tetapi juga berpotensi membantu mengatasi masalah lain.

“Kalau kita bisa menghubungkan program-program ini, maka satu persoalan bisa membantu menyelesaikan persoalan yang lain. Kita harus berpikir sebagai sebuah sistem, bukan bekerja sendiri-sendiri,” tuturnya.

Bagi Farhan, kolaborasi menjadi ruang bagi setiap pihak untuk memberikan kontribusi sesuai dengan kapasitasnya. Alumni perguruan tinggi, termasuk Unpad, memiliki bekal pengetahuan dan pengalaman yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pembangunan daerah.

Kontribusi tersebut tidak harus selalu diwujudkan melalui keterlibatan langsung dalam pemerintahan. Sumbangan pemikiran, pertukaran pengalaman, maupun kerja sama lintas bidang juga dapat membantu melahirkan pendekatan baru dalam menghadapi persoalan perkotaan. (gin)


Editor : Inilahkoran