Inilah Rekomendasi Calon Pemimpin Kab Bandung Hasil FGD Al-Furqon Institute
Al-Furqon Institute menggelar Forum Grup Discussion (FGD) dengan tema "Mengembangkan Kepemimpinan yang Responsif, Inklusif dan Berorientasi pada Pembangunan Berkelanjutan di Kabupaten Bandung", di Bojongsoang, Kabupaten Bandung.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung,- Al-Furqon Institute menggelar Forum Grup Discussion (FGD) dengan tema "Mengembangkan Kepemimpinan yang Responsif, Inklusif dan Berorientasi pada Pembangunan Berkelanjutan di kabupaten bandung", di Bojongsoang, Kabupaten Bandung.
FGD dihadiri oleh berbagai elemen, mulai dari ormas Islam, budayawan, akademisi, kelompok tani hingga pemuda. Para tokoh di Kabupaten Bandung ini berdiskusi dengan fokus mengevaluasi kepemimpinan Kabupaten Bandung selama 3,5 tahun terakhir.
Sekretaris PCNU Kabupaten Bandung, Imron Rosyadi, memberikan pandangannya tentang kepemimpinan Bupati Dadang Supriatna. Ia menyampaikan bahwa Bupati DS telah menerapkan konsep kepemimpinan "inner beauty" yang berbasis pada nilai-nilai Qur’ani, yaitu kepemimpinan yang mengedepankan spiritualitas.
Menurut Imron, gaya kepemimpinan Bupati DS dapat dilihat dari kemampuannya untuk merangkul masyarakat secara lebih humanis. "Kepemimpinan Bupati DS mampu menciptakan kedamaian dan kerukunan, yang seharusnya menjadi bagian dari kepemimpinan berbasis nilai-nilai agama," ujar H. Imron.
Sekretaris Muhammadiyah Kabupaten Bandung, Feisal Kertapermana, menyoroti dua aspek utama dalam demokrasi, yaitu prosedural dan substansial. Dalam hal ini, Feisal memberikan apresiasi terhadap beberapa kebijakan Bupati DS yang dinilai positif, terutama dalam peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan kebijakan anggaran yang berpihak pada pembangunan berkelanjutan.
Namun, ia juga menekankan perlunya evaluasi terhadap birokrasi di tingkat pemerintahan Kabupaten Bandung. "Penting untuk memastikan bahwa pejabat di setiap tingkat pemerintahan ditempatkan berdasarkan prestasi dan rekam jejak mereka," ujar Feisal.
Sementara itu, PD Persis Kabupaten Bandung, Ustadz Yosep Saeful Akbar mengungkapkan pandangannya mengenai kinerja Bupati DS. Ia memberikan apresiasi terhadap komunikasi yang terjalin harmonis antara pemerintah daerah dengan berbagai organisasi masyarakat. Namun, ia juga menekankan pentingnya peningkatan koordinasi dalam kerukunan umat beragama.
Dalam kesempatan yang sama, perwakilan dari Syarikat Islam Kabupaten Bandung, Ali Hamzah, memberikan pandangan positif mengenai karakter kepemimpinan Bupati DS. Menurutnya, meski berasal dari ormas tertentu, Bupati DS memiliki sikap inklusif yang mampu mengayomi semua elemen masyarakat Kabupaten Bandung. Ali menilai, kepemimpinan Bupati DS sangat merakyat dan mampu menciptakan suasana yang inklusif bagi masyarakat yang memiliki latar belakang berbeda.
Selain itu, dalam forum tersebut, Praktisi media sekaligus Sekretaris PWI Jawa Barat, Tantan Sulthon B, turut memberikan pandangannya mengenai kepemimpinan di Kabupaten Bandung dan proses demokrasi secara umum.
Menurut Tantan, ada dua hal yang sangat ditekankan dalam pemilihan calon pemimpin daerah: pertama, calon harus memiliki popularitas dan syarat maskulin, dan kedua, yang tak kalah penting adalah akseptabilitas yang tinggi. "Calon yang akan dipilih tidak hanya berbasis popularitas semata, tetapi harus memiliki gagasan dan cita-cita luhur untuk masyarakat Kabupaten Bandung," jelasnya.
Tantan juga menekankan bahwa keberlanjutan popularitas dan investasi sosial sangat penting dalam menciptakan pemimpin yang berdampak positif bagi masyarakat.
"Masyarakat tidak hanya bisa memilih berdasarkan popularitas semata. Kita sebagai kalangan intelektual memiliki kewajiban memberikan literasi yang tepat, agar masyarakat memilih berdasarkan kualitas dan substansi," tambahnya.
Menurutnya, track record seorang calon pemimpin sangat penting untuk menjadi pertimbangan masyarakat. "Intelektual punya tugas untuk mentransformasikan pemahaman ini kepada masyarakat. Jangan sampai kita hanya memilih berdasarkan tampang atau viralitas. Kita perlu memilih berdasarkan visi dan komitmen seorang calon pemimpin," tegas Tantan.
Tantan juga mengingatkan bahwa seorang pemimpin yang baik harus memiliki mimpi besar, gagasan yang cerdas, serta mampu melaksanakan visi tersebut dengan konsisten. "Jika pemimpin memiliki kualitas dan komitmen untuk mewujudkan gagasan mereka, maka mimpi itu akan menjadi kenyataan," ujarnya.
Di sisi lain, budayawan Danni Sugiri Martadinata memberikan pandangannya terkait kepemimpinan Bupati DS. Danni menyebut Bupati DS sebagai pemimpin yang memahami dinamika masyarakat dengan pendekatan budaya.
Namun, Danni juga menyoroti dua isu besar yang perlu disikapi secara serius, yaitu geng motor dan sampah. Menurut Danni, kedua masalah tersebut dapat mencemari karakter budaya Kabupaten Bandung.
"Isu geng motor dan sampah perlu menjadi perhatian utama, karena ini mencerminkan bagaimana budaya kita dihadapi oleh tantangan modernitas yang tidak sesuai dengan karakter budaya yang kita jaga," jelas Danni.
Ghani As-Syauqi, seorang tokoh pemuda, juga memberikan pandangannya. Ghani memuji berbagai program pemerintah yang pro-pemuda, seperti pelaksanaan job fair dan beasiswa.
Namun, ia menyoroti tingginya angka pengangguran di kalangan pemuda dan berharap program-program tersebut dapat ditingkatkan dan lebih efektif.
"Walaupun ada program pro-pemuda, tingkat pengangguran masih tinggi. Diharapkan, program-program tersebut dapat lebih meningkatkan kesempatan kerja dan mengurangi angka pengangguran di kalangan pemuda," ujar Ghani.
Melalui diskusi ini, Al-Furqon Institute berharap dapat memberikan masukan konstruktif bagi pemerintah daerah dan mendorong terciptanya kebijakan yang lebih baik ke depannya.
Diharapkan, Kabupaten Bandung dapat terus berkembang dengan mempertahankan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan, dan keberagaman yang menjadi landasan utama dalam pemerintahan yang inklusif.
Editor : tantan
