Investasi PLTSa Legok Nangka Rp7,4 Triliun, Dedi Mulyadi Bidik Operasi 2029

Investasi PLTSa Legok Nangka mencapai Rp7,4 triliun. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menargetkan pembangkit listrik tenaga sampah tersebut mulai beroperasi pad

Investasi PLTSa Legok Nangka Rp7,4 Triliun, Dedi Mulyadi Bidik Operasi 2029
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi

INILAHKORAN.ID - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi membeberkan komitmen pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Legok Nangka di Kabupaten Bandung, bersama investor asal Jepang. Proyek dengan nilai investasi sekitar Rp7,4 triliun itu ditargetkan mulai beroperasi pada 2029-2030.

Komitmen tersebut disampaikan Dedi, setelah bertemu dengan salah satu investor yang terlibat dalam pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik tersebut.

"Ini kita sudah bertemu dengan salah satu investor yang membangun pembangkit listrik tenaga sampah di Legok Nangka dan kita sudah berkomitmen untuk melaksanakan pembangunan," ujar Dedi dikutip dari akun media sosialnya, Jumat (9/10/2026).

Ia menjelaskan, PLTSa Legok Nangka akan mengolah sampah dari enam daerah di Jawa Barat, yakni Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, Kabupaten Garut, dan Kabupaten Sumedang. Sampah dari wilayah tersebut akan diproses menjadi energi listrik di fasilitas Legok Nangka.

"Nanti masyarakat Bandung, Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Cimahi, Garut, Sumedang, sampahnya diproduksi menjadi listrik di Legok Nangka dan ini yang punya modalnya," ucapnya.

Ia memastikan investor yang ditemuinya berasal dari Jepang.

"Teman saya dari Jepang," kata Dedi.

Berdasarkan grafis proyek yang dibagikan Dedi, pembangunan PLTSa Legok Nangka membutuhkan investasi sekitar Rp7,4 triliun. Pendanaan tersebut terdiri atas Rp5 triliun dari investor, Rp2 triliun hibah Pemerintah Pusat, serta Rp350 miliar hibah Pemerintah Belanda.

Proyek ini menggunakan skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), dengan Pemprov Jawa Barat sebagai Penanggung Jawab Proyek Kerja Sama (PJPK).

Pelaksana proyek adalah PT Jabar Environmental Solutions (PT JES), konsorsium yang terdiri atas Sumitomo, EPN, Kanadevia, dan Kyuden.

Mengacu pada informasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), PLTSa Legok Nangka dirancang mengolah hingga 2.131 ton sampah per hari, dengan kapasitas pembangkitan listrik mencapai 40,79 megawatt (MW).

Fasilitas ini diharapkan menjadi salah satu solusi untuk menekan volume sampah yang harus dibuang ke tempat pemrosesan akhir (TPA), terutama di kawasan Bandung Raya yang selama ini bergantung pada TPA Sarimukti.

Melalui konsep waste to energy, sampah diolah menjadi sumber energi sehingga penanganannya tidak hanya berorientasi pada pembuangan, tetapi juga pemanfaatan kembali sebagai bahan baku pembangkit listrik.

Dalam grafis proyek yang dibagikan Dedi, pembangunan fasilitas tersebut diperkirakan memerlukan waktu 41 bulan. Target operasi komersial atau Commercial Operation Date (COD) ditetapkan pada kuartal IV 2029 atau kuartal I 2030.

Selain mengurangi beban pengelolaan sampah, proyek ini diharapkan menghasilkan manfaat berupa penyediaan energi listrik, penciptaan lapangan kerja, pengurangan emisi, dan perbaikan kualitas lingkungan.

Dedi sebelumnya menyebut, pembangunan PLTSa Legok Nangka memiliki tiga tujuan utama, yakni membantu mengatasi persoalan sampah Bandung Raya, menyediakan listrik bagi masyarakat dan industri, serta mewujudkan lingkungan yang lebih bersih.

Dengan target operasi pada 2029-2030, proyek Legok Nangka menjadi bagian dari upaya Pemprov Jabar mendorong pengelolaan sampah berbasis teknologi, sekaligus mengubah limbah menjadi sumber energi yang bernilai ekonomi. 


Editor : Ahmad Sayuti