Jelang Musda Golkar Jabar 2026, Ahmad Hidayat Menguat di Bursa Ketua

Menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Jabar awal April 2026, Ahmad Hidayat kian menguat sebagai representasi kader yang menjadi ketua.

Jelang Musda Golkar Jabar 2026, Ahmad Hidayat Menguat di Bursa Ketua
Ahmad Hidayat bersama Ketua DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia dan Gubernur Jabar Dedi Mulyadi. (istimewa)

INILAHKORAN.ID - Menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Jabar awal April 2026, Ahmad Hidayat kian menguat sebagai representasi kader yang menjadi ketua.

Tim pemenangan Ahmad Hidayat, Deden Y Hidayat menuturkan secara formal pihaknya telah mendaftarkan diri sebagai calon Ketua DPD Golkar Jabar ke panitia.

Ahmad Hidayat siap bertarung pada Musda Golkar Jabar yang diagendakan di Trans Hotel Bandung, pada Rabu-Kamis (1-3/4/2026). Pendaftaran itu sekaligus menepis isu yang menyebut Ahmad Hidayat mundur dari pencalonan.

“Isu tidak tidak benar. Itu isu yang menyesatkan. Ahmad Hidayat tidak mundur dari pencalonan, itu hanya manuver dari lawan-lawan politik di lapangan,” tegas Deden, Rabu (1/4/2026).

Menurutnya, di tengah dinamika internal partai Ahmad Hidayat tampil dengan narasi berbeda, kaderisasi panjang, loyalitas struktural, dan kedekatan dengan akar rumput. Karier politiknya dibangun dari level daerah hingga provinsi, menciptakan jejaring organik yang kini menjadi modal utama dalam perebutan kursi pimpinan.

Posisinya sebagai anggota DPRD Jabar sekaligus ketua AMPI Jabar mempertegas konsistensinya dalam pembinaan kader. Di internal partai, Ahmad Hidayat dikenal sebagai figur yang tidak hanya hadir dalam momentum politik, tetapi juga aktif menjaga ritme organisasi.

Relasi politiknya dengan Gubernur Jabar Dedi Mulyadi turut menjadi sorotan. Ahmad kerap disebut sebagai 'adik politis' yang selama ini berada dalam orbit dukungan terhadap perjalanan karier Dedi, sebuah kedekatan yang memberi nilai tambah sekaligus dinamika tersendiri dalam kontestasi.

Rekam jejak kepemimpinannya sudah terbentuk sejak masa kampus di Universitas Islam Bandung (Unisba). Saat itu, Ahmad aktif sebagai aktivis dan pernah menjabat Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), menjadi fondasi awal pembentukan karakter kepemimpinannya.

Secara politik, peta dukungan mulai mengerucut. Hingga kini, Ahmad telah mengantongi dukungan dari 11 DPD kabupaten/kota, angka yang menempatkannya sebagai kandidat terdepan. Basis struktural yang solid dan loyalitas kader daerah dinilai menjadi kekuatan utama yang sulit ditandingi.

Pendekatan berbasis organisasi yang diusung Ahmad menjadi pembeda di tengah kompetisi. Ia tidak sekadar menawarkan kepemimpinan, tetapi juga arah konsolidasi partai yang bertumpu pada kekuatan internal.

Dalam perebutan kursi Ketua DPD Golkar Jabar ini, Ahmad bukan tanpa pesaing. Rival utamanya, Daniel Mutaqien Syafiuddin hadir membawa kekuatan berbeda, jejaring nasional dan pengalaman politik di level pusat. Sebagai anggota DPR, Daniel mengandalkan relasi elite serta rekam jejak lintas organisasi sebagai daya tawar.

Pertarungan ini pun membelah dua pendekatan besar, kekuatan kader berbasis struktur versus jejaring elite nasional. Keduanya sama-sama memiliki peluang, sekaligus risiko dalam memimpin arah partai ke depan.

Musda Golkar Jabar kali ini tak lagi sekadar pergantian kepemimpinan. Lebih dari itu, forum ini akan menjadi penentu arah strategis partai dalam menghadapi agenda politik mendatang, termasuk konsolidasi menuju kontestasi elektoral berikutnya di Jabar. 


Editor : Doni Ramdhani