Jelang Peringatan Setahun Genosida Gaza, Rumah Zakat Lakukan Long March dan Diskusi Kemerdekaan Palestina

Jelang setahun peringatan genosida Gaza oleh kebiadaban Israel, Rumah Zakat bersama komunitas melakukan long march dan diskusi terkait kemerdekaan Palestina di Kota Bandung, Jumat 4 Oktober 2024.

Jelang Peringatan Setahun Genosida Gaza, Rumah Zakat Lakukan Long March dan Diskusi Kemerdekaan Palestina
CEO Rumah Zakat Irvan Nugraha menuturkan, penjajahan Israel terhadap Palestina sudah berlangsung selama 76 tahun. Tapi belum ada langkah konkret negara global, untuk menghentikan kejahatan kemanusiaan tersebut. (yuliantono)

INILAHKORAN, Bandung - Jelang setahun peringatan genosida Gaza oleh kebiadaban Israel, Rumah Zakat bersama komunitas melakukan long march dan diskusi terkait kemerdekaan Palestina di Kota Bandung, Jumat 4 Oktober 2024.

Berbagai gagasan mengenai strategi, didiskusikan Rumah Zakat secara mendalam guna mendukung terwujudnya kemerdekaan Palestina.

CEO Rumah Zakat Irvan Nugraha menuturkan, penjajahan Israel terhadap Palestina sudah berlangsung selama 76 tahun. Tapi belum ada langkah konkret negara global, untuk menghentikan kejahatan kemanusiaan tersebut.

"Total korban jiwa sejak 1948 hingga 2023 sudah mencapai lebih dari 100 ribu jiwa. Rumah Zakat mendukung langkah-langkah pemerintah Republik Indonesia, dalam upaya menyuarakan untuk mewujudkan kemerdekaan Palestina,” kata Irvan.

Sejak terjadinya tragedi genosida dan blokade Israel pada 7 Oktober 2023 silam, Rumah Zakat kata dia, sebagai lembaga amil zakat dan kemanusiaan terus berkolaborasi dengan masyarakat serta pemerintah Indonesia, dalam mendistribusikan bantuan kemanusiaan untuk Palestina. 

Hingga September 2024, Rumah Zakat telah mendistribusikan bantuan kepada 838.643 penerima manfaat di Gaza.

Adapun bantuan yang diberikan berupa makanan, air bersih, obat-obatan, pakaian, hingga daging kurban.

“Kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan dari para donatur yang telah mengamanahkan dana zakat, infak dan sedekahnya untuk membantu Palestina,” tutur Irvan.

Dia melanjutkan, menyikapi keputusan Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) pada 18 September 2024, dimana mengeluarkan resolusi yang memutuskan bahwa Israel harus tinggalkan Palestina dalam kurun waktu satu tahun, memberi angin segar.

Resolusi tak mengikat tersebut disahkan melalui pemungutan suara. Hasil pemungutan suara menunjukkan 124 negara mendukung, 14 negara menolak, dan 43 lainnya abstain.
Resolusi PBB tersebut merupakan peluang, bagi terwujudnya kemerdekaan Palestina. Meski diakui Irvan, tidak akan pernah tahu apakah Israel akan benar-benar keluar dari wilayah Palestina dalam kurun waktu satu tahun ini.

Namun hal ini menurutnya perlu dipersiapkan bersama, guna membantu masyarakat Palestina agar dapat hidup seperti sebelumnya. Apalagi PBB memprediksi pembangunan Kembali Gaza membutuhkan biaya Rp643 triliun dalam waktu selama 15 tahun.

Maka dari itu kata Irvan, Rumah Zakat telah memiliki sejumlah rencana untuk merevitalisasi kawasan Gaza yang luluhlantak akibat serangan biadab Israel.

“Insya Allah kita akan berupaya membangun hunian sementara bagi masyarakat Gaza. Selain itu ada pula sekolah darurat, masjid darurat, hingga tempat bermain bagi anak-anak di Gaza. Doakan supaya rencana ini dapat berjalan dengan lancar,” ungkap Irvan.

Rencananya akan dibangun 500 shelter berukuran luas 21 meter untuk keluarga besar, 500 shelter ukuran luas 21 m untuk keluarga yang lebih kecil. Seluruh rumah sudah dilengkapi fasilitas rumah tangga lengkap dan juga kebutuhan air bersih serta listrik dari solar panel, sebesar 3.300 watt dan 4.400 watt. 


Editor : Doni Ramdhani