Api Mengganas Karhutla Meluas

Api Mengganas Karhutla Meluas
PADAMKAN KARHUTLA: Petugas tampak berusaha memadamkan karhutla di KBB. INILAH/Agus Satia Negara

INILAH, Bandung - Musim kemarau masih menyisakan bara di banyak sudut Jawa Barat. Hingga pertengahan Oktober 2026, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah menghanguskan 833,78 hektare lahan. Api tercatat menyala dalam 451 kejadian yang tersebar di 177 kecamatan dan 331 desa/kelurahan.

Catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat itu menggambarkan luasnya ancaman kebakaran di berbagai wilayah. Lahan yang terbakar bukan hanya menjadi hamparan yang menghitam, tetapi juga mengingatkan bahwa risiko kebakaran belum sepenuhnya berakhir.

Kabupaten Sumedang menjadi daerah dengan frekuensi karhutla tertinggi, yakni 75 kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai 141,56 hektare. Kabupaten Subang menyusul dengan luas area terdampak 113,63 hektare.

Kabupaten Ciamis mencatat 55 kejadian yang membakar 86,47 hektare lahan. Sementara itu, Kabupaten Sukabumi mengalami 38 kejadian dengan luas kebakaran 71,07 hektare.

Di Kota Banjar, karhutla terjadi sebanyak 33 kali dengan luas lahan terbakar 45,19 hektare. Adapun Kabupaten Bandung mencatat 32 kejadian yang menghanguskan 36,45 hektare lahan.

Angka-angka tersebut memperlihatkan, kebakaran tersebar di berbagai daerah, dengan tingkat kejadian dan luas dampak yang berbeda. Di tengah kondisi kemarau dan fenomena El Nino, kewaspadaan terhadap titik-titik rawan kebakaran menjadi penting agar api tidak terus meluas.

Ancaman itu tidak hanya menyasar hutan dan lahan terbuka. Fasilitas pengelolaan sampah pun menghadapi risiko serupa. Di Kabupaten Garut, kebakaran di tempat pemrosesan akhir (TPA) mendorong pemerintah daerah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari.

Kepala Pelaksana BPBD Jawa Barat Teten Ali Mulku Engkun mengatakan, kebakaran di TPA Garut bermula dari kebakaran lahan. Penanganannya membutuhkan perhatian khusus karena api dapat bertahan di bagian bawah timbunan sampah, bahkan ketika kobaran di permukaan telah padam.

"Di Garut juga terjadi kebakaran lahan. Kebakaran sebenarnya terjadi di TPA, tetapi bermula dari kebakaran lahan," ujar Teten, Rabu (14/10). 

Karakteristik kebakaran di TPA membuat proses pemadaman tidak sederhana. Api yang merambat di bawah tumpukan sampah bisa sulit terdeteksi dan berpotensi kembali muncul setelah permukaan terlihat aman. Keberadaan gas metana dari timbunan sampah juga menjadi faktor yang perlu diwaspadai.

"Api di bawah permukaan terkadang masih menyala meskipun api di atas sudah padam. Kemudian, api bisa muncul kembali karena adanya gas metana," ucapnya.

Bahaya kebakaran semacam ini tidak berhenti pada kemungkinan api kembali menyala. Asap yang dihasilkan juga dapat mengganggu kesehatan warga di sekitar lokasi, terutama sistem pernapasan. Salah satu risiko yang perlu diantisipasi ialah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

"Dampaknya juga berkaitan dengan kesehatan, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Hal-hal seperti ini yang harus diantisipasi," katanya.

Meski demikian, BPBD Jabar belum mengungkapkan jumlah warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat kebakaran TPA Garut maupun luas area fasilitas yang terbakar. Informasi tersebut diperlukan untuk memberikan gambaran lebih utuh mengenai dampak kebakaran terhadap masyarakat dan fasilitas pengelolaan sampah.

Mengenai penyebab kebakaran, Teten menyebut kelalaian manusia kerap menjadi salah satu faktor pemicu berdasarkan pengalaman penanganan kejadian sebelumnya. Namun, penyebab pasti kebakaran di Garut belum dapat dipastikan karena pemeriksaan belum dilakukan.

"Kami belum melakukan pemeriksaan. Biasanya penyebab kebakaran di Jawa Barat antara lain puntung rokok atau aktivitas membakar sesuatu," ujarnya.

Kebakaran TPA di tengah musim kemarau yang disertai fenomena El Nino juga terjadi di TPA Galuga, Kabupaten Bogor. Kejadian tersebut menambah perhatian terhadap risiko kebakaran di fasilitas pengelolaan sampah, di tengah ratusan peristiwa karhutla yang tersebar di berbagai wilayah Jawa Barat. (yuliantono/gin)


Editor : Inilahkoran