Kerja Sama dengan Hijau, Combiphar Perusahaan Healthycare Pertama yang Gunakan Panel Surya di KBB

Emisi dari sektor energi di Indonesia pada 2023 mencapai 701,4 juta ton setara karbon dioksida. Hal ini menjadikan Indonesia masuk 10 negara penghasil emisi sepanjang 2023. Angka tersebut berdasarkan laporan lembaga think tank Energy Institute berjudul Statistical Review of World Energy 2024.

Kerja Sama dengan Hijau, Combiphar Perusahaan Healthycare Pertama yang Gunakan Panel Surya di KBB
Kondisi tersebut menjadi perhatian sejumlah pihak, salah satunya Combiphar. Perusahaan yang bergerak di bidang healthcare ini melakukan pemasangan panel surya dengan kapasitas 601,9 kWp yang digunakan untuk menjalankan fasilitas produksinya. (agus satia negara)

INILAHKORAN, Ngamprah - Emisi dari sektor energi di Indonesia pada 2023 mencapai 701,4 juta ton setara karbon dioksida. Hal ini menjadikan Indonesia masuk 10 negara penghasil emisi sepanjang 2023. Angka tersebut berdasarkan laporan lembaga think tank Energy Institute berjudul Statistical Review of World Energy 2024.

Kondisi tersebut menjadi perhatian sejumlah pihak, salah satunya Combiphar. Perusahaan yang bergerak di bidang healthcare ini melakukan pemasangan panel surya dengan kapasitas 601,9 kWp yang digunakan untuk menjalankan fasilitas produksinya.

"Pemasangan panel surya ini merupakan wujud komitmen kami terhadap keberlanjutan dengan mengadopsi energi hijau," kata Senior Vice President Manufacture Combiphar Delano Lusikooy dalam acara Signing Ceremony Rooftop Solar PV in Combiphar di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Senin 3 Januari 2024. 

Delano menjelaskan, langkah strategis ini dilakukan sebagai upaya dari Perusahaan dalam mengurangi jejak karbon, meningkatkan efisiensi energi, dan mendukung target bauran energi terbarukan nasional. 

"Proyek ini merupakan hasil kerja sama dengan PT Investasi Hijau Selaras, yang memiliki keahlian dalam pengembangan solusi energi terbarukan," jelasnya.

Menurutnya, sebagai perusahaan yang memiliki kebutuhan energi yang tinggi, transisi penggunaan energi terbarukan menjadi prioritas. 

Dengan pemanfaatan energi matahari, Combiphar tidak hanya menekan ketergantungan terhadap listrik berbasis fosil, tetapi juga mengurangi emisi karbon secara signifikan.

“Sebagai perusahaan yang berkomitmen terhadap kesehatan masyarakat, kami percaya bahwa melindungi lingkungan adalah bagian tak terpisahkan dari misi kami," ujarnya.

Sedangkan, Deputy President Director Combiphar Group Lim Soeyantho menerangkan implementasi panel surya ini merupakan langkah konkret dalam mendukung transisi menuju energi hijau dan memastikan operasional kami semakin ramah lingkungan.

“Pemasangan panel surya ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam menerapkan praktik bisnis berkelanjutan,” kata Lim.

Sementara itu, Direktur Utama PT Investasi Hijau Selaras Victor Samuel menuturkan proyek ini bukan hanya investasi dalam keberlanjutan tetapi juga dalam efisiensi jangka panjang. 

“Teknologi yang kami gunakan dirancang untuk memberikan efisiensi energi yang optimal," katanya 

Dengan solusi ini, sambung Viktor, Combiphar tak hanya mengurangi jejak karbonnya tetapi juga mendapatkan manfaat ekonomis yang signifikan dari penghematan biaya energi.
Selain itu, pemasangan panel surya ini mengadopsi sistem on-grid, yang terhubung langsung dengan jaringan listrik PLN. 

"Jadi sistem ini memungkinkan Combiphar menggunakan energi matahari secara optimal tanpa memerlukan baterai penyimpanan," katanya.

Saat produksi listrik dari panel surya lebih rendah dari kebutuhan, listrik tambahan dapat diperoleh dari PLN. Sebaliknya, jika produksi listrik lebih tinggi, energi yang berlebih tersebut dapat dialirkan kembali ke jaringan nasional sesuai dengan regulasi yang berlaku.

"Untuk memastikan pemantauan yang optimal, proyek ini dilengkapi dengan Sistem Pemantauan Energi Real-Time , yang memungkinkan Combiphar memantau produksi listrik secara langsung," bebernya.

Dengan sistem ini, ungkap Viktor, perusahaan dapat melakukan analisis data energi secara lebih akurat, memastikan efisiensi operasional, serta meningkatkan efektivitas dalam pengelolaan konsumsi listrik harian.

"Langkah ini juga melengkapi berbagai inisiatif keberlanjutan lain yang telah diterapkan Combiphar, termasuk penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sejak April 2024," ungkapnya.

Dengan kombinasi strategi energi hijau ini, sebut Viktor, Combiphar semakin mengukuhkan posisinya sebagai perusahaan farmasi yang tidak hanya berorientasi pada kesehatan masyarakat, tetapi juga pada pelestarian lingkungan.

"Dengan meningkatnya kesadaran global terhadap perubahan iklim, investasi dalam energi bersih menjadi kebutuhan yang semakin mendesak," sebutnya.

"Combiphar dan Hijau berharap bahwa keberhasilan proyek ini dapat menjadi inspirasi bagi lebih banyak perusahaan untuk berinvestasi dalam solusi energi terbarukan," tandasnya.


Editor : Doni Ramdhani