Ketika Gen Z Hidup di Tengah Derasnya Arus Media

DERASNYA media digital membuat Gen Z rentan. Literasi media menjadi bekal penting.

Ketika Gen Z Hidup di Tengah Derasnya Arus Media
LITERASI KUAT: Ketua KPID Jawa Barat, Adiyana Slamet menilai, derasnya penetrasi media berbasis internet di kalangan Gen Z perlu diimbangi dengan penguatan literasi dan regulasi.(INILAH/YULIANTONO)

Nyaris tak ada jarak antara Gen Z dan dunia digital. Media berbasis internet telah menembus kehidupan mereka hingga 99,8 persen.

Angka itu sekaligus menjadi penanda bahwa ruang digital bukan lagi sekadar tempat mencari informasi dan hiburan. Di balik kemudahannya, tersimpan berbagai ancaman yang menyentuh banyak sisi kehidupan, mulai dari sosial, ekonomi, budaya hingga kesehatan mental.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat. Bersama Kwartir Daerah (Kwarda) Pramuka Jawa Barat, KPID Jabar membahas persoalan itu melalui program literasi media bertajuk penyiaran perspektif 5+1 di Bandung Creative Hub, Kota Bandung, Selasa (6/10).

Ketua KPID Jawa Barat, Adiyana Slamet mengatakan, dampak media terhadap masyarakat perlu dilihat dari enam aspek. Yakni ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan, serta psikologi.

Enam aspek tersebut menjadi penting karena karakter media penyiaran seperti televisi dan radio berbeda dengan media sosial berbasis internet.

Televisi dan radio memiliki regulasi yang mengikat. Fungsi informasi dan edukasi pun berada dalam kerangka aturan yang membuat konten lebih terkontrol.

“Televisi dan radio ini menyelamatkan aspek-aspek ideologi hingga psikologi karena regulasinya sudah ada dan punya andil menyuguhkan edukasi. Sementara di media berbasis internet, riset kami menunjukkan 62,3 persen Gen Z terganggu tingkat religiusitasnya akibat konten di media sosial,” ujar Adiyana.

Persoalan di ruang digital tidak berhenti pada isi informasi. Media sosial telah berkembang menjadi arena perebutan informasi yang rentan disinformasi dan misinformasi.

Di ruang yang sama, muncul fenomena filter bubble. Pengguna dapat terus-menerus menerima informasi yang sesuai dengan pandangan atau minatnya sehingga perspektif menjadi semakin sempit. Dalam kondisi tertentu, situasi tersebut dapat memicu konflik sosial.

(yuliantono/gin)


Editor : Inilahkoran