Ketika sang Dewa Penjaga Menundukkan Kepala

Ketika sang Dewa Penjaga Menundukkan Kepala
Net

MANUEL Neuer, legenda hidup di bawah mistar gawang FC Bayern München, menelan pil pahit setelah melakukan blunder fatal yang berujung pada gol tercepat sepanjang sejarah Bundesliga.

Bagi jutaan pencinta sepak bola, Manuel Neuer adalah definisi dari kesempurnaan seorang penjaga gawang. Ia adalah pionir gaya bermain sweeper-keeper, tembok kokoh yang memenangkan Piala Dunia, dan kapten yang karismatik.

Namun, pada detik ke- 8,37 dalam laga melawan FC Augsburg, Minggu (11/10) dini hari WIB waktu seolah berhenti di WWK Arena.

Sang “Dewa Penjaga” menunjukkan bahwa di balik deretan trofi dan reputasi besarnya, ia tetaplah seorang manusia yang bisa melakukan kesalahan.

Peluit pertama baru saja ditiup oleh wasit. Bola bergulir ke belakang dari tendangan mula (kick-off) menuju kaki Neuer. Sebuah skenario rutin yang sudah ia lakukan ribuan kali sepanjang kariernya.

Namun, sore itu, sentuhan pertamanya agak terlalu deras. Di depannya, gelandang Augsburg, Robin Fellhauer, berlari kencang melakukan tekanan.

Alih-alih menyapu bola dengan kaki kirinya, insting Neuer memilih opsi yang terlampau berani: mencoba melakukan chip santai di atas Fellhauer.

Bola justru membentur punggung sang gelandang, memantul kembali ke jalur lari Fellhauer, yang dengan mudah menceploskannya ke gawang kosong. Jam di papan skor baru menunjukkan 8,4 detik.

Rekor gol tercepat dalam sejarah Bundesliga pun tercipta, lahir dari kaki seorang legenda yang malam itu harus menundukkan kepala.

Di usianya yang telah menginjak 40 tahun, Neuer berada di senja kariernya.

Tekanan publik dan kritik tajam langsung mengalir deras. Banyak yang mulai berbisik bahwa masanya telah habis.

Momen buruknya kian bertambah ketika ia dianggap kurang sempurna menepis bola di babak kedua, yang berujung pada gol kedua Augsburg. Laga berakhir imbang 2-2 berkat gol penyelamat Nathaniel Brown di menit-menit akhir.

Namun, esensi sejati dari seorang manusia berjiwa besar tidak dinilai dari bagaimana ia jatuh, melainkan bagaimana ia berdiri dan mengakui kesalahannya. Seusai laga, Neuer tidak mencari kambing hitam. Ia tidak menyalahkan lapangan, cuaca, ataupun rekan setimnya.

“Itu adalah kesalahan konyol dari saya,” aku Neuer dengan jujur kepada media.

“Saya seharusnya mengambil keputusan yang berbeda dan menggeser bola ke kaki kiri karena ditekan lawan.

Saya bertanggung jawab penuh atas situasi pertama itu. (bsf)


Editor : Inilahkoran