Kota Bandung Uji Air Sungai Cikapundung Jadi Air Bersih

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, air Sungai Cikapundung berpeluang dimanfaatkan sebagai sumber air bersih kebutuhan nonkonsumsi.

Kota Bandung Uji Air Sungai Cikapundung Jadi Air Bersih
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, air Sungai Cikapundung berpeluang dimanfaatkan sebagai sumber air bersih kebutuhan nonkonsumsi.

INILAHKORAN.ID - Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, air sungai Cikapundung berpeluang dimanfaatkan sebagai sumber air bersih kebutuhan nonkonsumsi. Saat ini, pengolahan air sungai tersebut masih dalam tahap uji coba.

Menurutnya, air hasil penyulingan atau filtrasi. Nantinya tidak akan digunakan sebagai air minum. Melainkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci dan aktivitas rumah tangga lainnya.

"Kita sedang melakukan percobaan penyulingan air, atau filterisasi air Sungai Cikapundung yang akan digunakan sebagai air bersih untuk kepentingan nonkonsumsi. Bersih-bersih, mandi dan lain-lain sebagainya," kata Farhan, Rabu (1/7/2026).

Dia menjelaskan, uji coba tersebut menjadi salah satu langkah yang ditempuh menambah ketersediaan air bersih di Kota Bandung. Pasalnya hingga kini, cakupan layanan Perumda Tirtawening masih berada di angka sekitar 38 persen.

Farhan mengakui, perluasan layanan air bersih tidak dapat dilakukan secara cepat karena Kota Bandung sudah tidak memiliki sumber air baku yang memadai. Selama ini, kebutuhan air baku dipasok dari pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten.

"Kenapa kita nggak bisa langsung ke 100 persen? Karena air baku, sumber air baku di Kota Bandung sudah enggak ada. Kita beli semua dari provinsi dan dari kabupaten, itu sumber utamanya," ucapnya.

Selain mengembangkan pemanfaatan air Sungai Cikapundung, pihaknya juga masih melanjutkan pembahasan investasi pembangunan jaringan pipa dari Waduk Saguling dan Waduk Cirata menuju Kota Bandung dengan kapasitas sekitar 3.500 liter per detik.

Namun, rencana tersebut hingga kini masih terkendala persetujuan dari Indonesia Power. Kondisi debit air di waduk, terutama saat musim kemarau menjadi salah satu pertimbangan dalam proses tersebut.

"Semuanya sudah siap. Tapi sampai hari ini, kami belum mendapatkan persetujuan dari Indonesia Power. Karena dalam keadaan musim kemarau, kalau air di Indonesia Power kurang, ya kita enggak bisa dapat air. Maka itu masih jadi pembicaraan secara teknis yang tidak mudah sama sekali," ujar dia.

Farhan menyebut, tingkat kebocoran air yang sebelumnya mencapai sekitar 40 persen. Kini, berhasil ditekan menjadi 37 persen melalui kerja sama dengan sejumlah perusahaan termasuk dukungan dari Pemerintah Jepang.***


Editor : JakaPermana