Langkah Nyata Lindungi Keluarga
PENANGGUL-ANGAN tuberkulosis (TBC) di Indonesia tidak cukup hanya dengan menemukan dan mengobati penderita. Pencegahan jadi urgensi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh : Nunung Nurohman
Di sebuah sudut RW 15, Kelurahan Cilembang, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya, riuh warga berkumpul bukan untuk sekadar mengobrol.
Pagi itu, Selasa (22/9), mereka mengantre dengan tertib demi satu tujuan penting: memeriksa kesehatan dan memastikan lingkungan mereka bebas dari bayang-bayang Tuberkulosis (TBC).
Memerangi TBC di Indonesia ternyata tidak cukup hanya dengan mengobati mereka yang sudah telanjur sakit.
Kunci utamanya justru ada pada kepedulian untuk melindungi orang-orang terdekat di sekitar pasien melalui pelacakan kontak erat.
Pesan mendalam ini dibawa langsung oleh Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus, saat turun langsung menyapa warga Tasikmalaya.
Tidak sendirian, ia didampingi oleh Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus dan Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan untuk melihat dari dekat bagaimana kader kesehatan bergerak di lapangan.
Di hadapan warga, Benjamin menyelipkan secercah harapan. Beliau menegaskan bahwa TBC bukanlah akhir dari segalanya.
Penyakit menular ini bisa disembuhkan total, bahkan peluang kesembuhannya mencapai 95 persen. Syaratnya hanya satu: pasien harus disiplin dan patuh minum obat hingga tuntas.
Tantangan ini menjadi sangat mendesak mengingat Indonesia saat ini berada di peringkat kedua di dunia untuk kasus TBC.
Sebuah realitas yang mengetuk pintu hati siapa saja untuk lebih peduli. “Orang yang di rumahnya ada penderita TBC harus screening, harus dapat dan minum obat pencegahan,” ujar Benjamin mengingatkan.
Strategi “jemput bola” dengan mengetuk pintu-pintu rumah warga kini menjadi ujung tombak agar penularan tidak meluas di dalam keluarga.
Kabar baiknya, kerja keras para petugas kesehatan di Jawa Barat mulai membuahkan hasil yang manis. Provinsi ini dinilai sangat responsif dalam melacak dan menemukan warganya yang sakit.
Dari estimasi 231 ribu kasus yang ada di Jawa Barat:Angka penemuan kasus baru sudah mencapai 97 persen.
Tingkat keberhasilan pengobatan pasien telah menyentuh lebih dari 93 persen.Meski tren kasus mulai menyusut berkat deteksi dini yang baik, pemerintah tidak ingin lengah. Fokus kini dialihkan untuk memperkuat benteng pertahanan.
“Mencegahnya ini masih kalah sama ngobatinnya. Sekarang kita (fokus) mencegahnya,” pungkas Benjamin.
Lewat gerakan tracking terintegrasi seperti di Cilembang ini, pemerintah berharap masyarakat tidak lagi takut atau malu. Sebab, setiap pintu rumah yang terbuka untuk pemeriksaan adalah satu langkah nyata menyelamatkan satu keluarga dari bahaya TBC.
Penguatan Puskesmas Sementara itu, pemeriksaan TBC di Kota Tasikmalaya akan diarahkan semakin mudah dijangkau masyarakat. Pemerintah berencana memperkuat fasilitas pemeriksaan di seluruh puskesmas di Kota Tasikmalaya.
Benjamin mengatakan, pemerintah tengah menyiapkan metode pemeriksaan TBC yang lebih praktis. Salah satunya melalui pengembangan pemeriksaan dengan metode usap atau swab sehingga masyarakat tidak lagi bergantung pada pemeriksaan dahak seperti yang selama ini dikenal.
“Nanti ke depan pemeriksaan TBC akan lebih mudah, pemeriksaan dahak cuma ditoel aja di mulut, swab, memudahkan. Saya yakin 2027 akan jauh lebih bagus karena alatnya akan tersebar,” kata Benjamin.
Menurut dia, pemerataan peralatan pemeriksaan menjadi bagian dari upaya mempercepat penemuan kasus. Pemeriksaan yang semakin mudah diharapkan mendukung kegiatan pelacakan hingga ke lingkungan masyarakat.
“Nanti bulan depan kita minta 22 puskesmas di Kota Tasik semua dikasih satu,” ujarnya.
Benjamin mengatakan, penguatan pemeriksaan perlu berjalan bersamaan dengan upaya pelacakan terhadap orang yang memiliki kontak dengan penderita TBC. Pasalnya, penyakit tersebut dapat menular tetapi juga dapat diobati. (bsf)
Editor : Inilahkoran

