Melawan AI dengan Nalar

Melawan AI  dengan Nalar
PEMANFAATAN AI: Pelaksana Tugas Kepala Disdikpora Bantul Titik Sunarti Widyaningsih memaparkan tentang pemanfaatan AI.(ANTARA/AGUNG DWI PRAKOSO)

INILAH, Bantul – Jawaban tugas sekolah kini bisa diperoleh dalam hitungan detik. Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) seperti ChatGPT memudahkan siswa mencari informasi, merangkum materi, hingga menyusun tulisan. Namun, kemudahan itu menyimpan tantangan: jangan sampai siswa berhenti berpikir karena terlalu bergantung pada teknologi.

Di tengah perkembangan tersebut, Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mendorong guru memperkuat kemampuan berpikir kritis dan argumentatif siswa. Pemanfaatan AI dalam pembelajaran perlu dibarengi pemahaman etika agar teknologi menjadi alat bantu belajar, bukan jalan pintas untuk menyelesaikan tugas.

Pelaksana Tugas Kepala Disdikpora Bantul Titik Sunarti Widyaningsih mengatakan, guru perlu memahami penggunaan AI sekaligus membimbing siswa agar mampu memanfaatkannya secara tepat.

"Kalau kami, mengoptimalkan bagaimana proses pembelajaran di kelas itu pemanfaatan AI untuk tugas-tugas. Misalnya dengan penggunaan ChatGPT dan sebagainya, pemanfaatannya juga harus dipahami betul oleh guru," katanya di Bantul, seperti dikutip dari ANTARA, Senin (19/10).

Menurut Titik, kehadiran AI menuntut guru memberikan batasan yang jelas. Siswa perlu memahami bahwa jawaban yang dihasilkan teknologi tidak serta-merta menjadi hasil pemikiran mereka sendiri. Informasi yang diperoleh tetap perlu dibaca, diperiksa, diolah, dan dipahami sebelum digunakan untuk mengerjakan tugas.

Tanpa proses tersebut, siswa berisiko terbiasa menyalin jawaban tanpa memahami materi. Praktik semacam itu bukan hanya berkaitan dengan plagiarisme, tetapi juga dapat menghambat perkembangan kemampuan berpikir dan menyusun pendapat.

Karena itu, guru diminta menanamkan etika penggunaan AI dan media sosial sejak dini. Siswa perlu mengetahui konsekuensi plagiarisme sekaligus memahami pentingnya kejujuran dalam proses belajar.

"Guru harus memberikan rambu-rambu etika bermedia sosial, etika penggunaan AI, dan sebagainya. Itu harus dipahamkan betul, dampak plagiarisme itu seperti apa," ujar Titik.

Bagi Disdikpora Bantul, tantangan pembelajaran di era AI bukan semata-mata membatasi penggunaan teknologi. Hal yang lebih penting adalah memastikan siswa tetap terlibat aktif dalam proses belajar, mulai dari memahami persoalan hingga menyusun kesimpulan berdasarkan penalarannya sendiri.

Titik berharap siswa mampu mengembangkan pemikiran argumentatif. Mereka tidak cukup hanya memberikan jawaban, tetapi juga harus bisa menjelaskan alasan, menunjukkan dasar pemikiran, dan menguraikan bagaimana sebuah kesimpulan diperoleh.

"Harapan kami, anak-anak cenderung ke arah berpikir argumentatif. Jadi, tidak sekadar apa yang ditulis, tetapi nanti ada penggalian lebih dalam lagi, argumentasi anak-anak seperti apa," katanya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, guru perlu mengembangkan metode pembelajaran yang mendorong siswa bertanya, menganalisis, dan mempertanggungjawabkan jawaban mereka. Pertanyaan yang diajukan tidak berhenti pada apa jawaban yang benar, tetapi juga mengapa jawaban itu dipilih dan bagaimana siswa sampai pada kesimpulan tersebut. (gin)


Editor : Inilahkoran