Membuka Asa dari Pasar Lansia

Membuka Asa dari Pasar Lansia
PELUANG: Keberadaan lansia disebut membuka peluang dalam sektor kesehatan, perawatan, teknologi digital, jasa keuangan, hunian, pariwisata, hingga industri pangan dan gaya hidup sehat.(ANTARA FOTO)

WAKIL Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Wakil Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Febrian Alphyanto Ruddyard mengatakan bertambahnya penduduk lanjut usia (lansia) dapat menciptakan pasar baru “Selama ini, bertambahnya penduduk lansia sering dipandang sebagai beban ekonomi. Padahal, perubahan demografi ternyata juga menciptakan pasar, investasi, lapangan kerja, dan sumber pertumbuhan ekonomi,” katanya dalam agenda Peluncuran Buku "Muda Menata, Tua Berdaya" dan Kick Off Pengembangan Desain Ekonomi Perak Indonesia di Jakarta, Rabu (21/10).

Menurut dia, keberadaan lansia disebut membuka peluang dalam sektor kesehatan, perawatan, teknologi digital, jasa keuangan, hunian, pariwisata, hingga industri pangan dan gaya hidup sehat.

Karena itu, ia mengatakan perubahan paradigma diperlukan guna memahami bahwa ekonomi perak (aktivitas ekonomi, produk, dan layanan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan kelompok penduduk lansia.

Dalam bahasa lain, ekonomi perak tak boleh hanya menciptakan bagi kelompok lansia yang memiliki daya beli, tetapi investasi dan inovasi harus berjalan bersama dengan peningkatan aksesibilitas, keterjangkauan, serta perlindungan bagi seluruh lansia.

“Dengan demikian, ekonomi perak dapat menjadi sumber pertumbuhan baru yang sekaligus juga upaya untuk mengurangi kepingan,” kata Febrian.

Pada kesempatan tersebut, ia menyampaikan bagaimana negara Jepang mampu mendukung kelompok lansia, sehingga industri kesehatan semakin berkembang, teknologi pendukung kehidupan lansia kian dibutuhkan, layanan perawatan menciptakan lapangan kerja, hingga berbagai produk maupun jasa mulai dirancang khusus untuk masyarakat lansia.

Berkaca dari Jepang, Febrian menilai Indonesia berpeluang untuk mengembangkan ekonomi perak sebagai ekonomi baru. Pihaknya memproyeksikan penduduk berusia 65 tahun ke atas akan mencapai 50 juta orang pada 2050 atau 16 persen dari total populasi.

Berdasarkan konteks tersebut, ia mengharapkan momen “Kick Off Pengembangan Desain Ekonomi Perak Indonesia” bisa mengubah cara memandang kelanjutusiaan dari sekedar persoalan perlindungan sosial menjadi bagian dari strategi pembangunan manusia dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Dia menekankan bahwa umur panjang penduduk merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan, yang berarti adanya kemajuan dalam aspek kesehatan hingga pendidikan yang membuat hidup masyarakat menjadi lebih lama. (bsf)


Editor : Inilahkoran