Mengolah Sampah Merawat Lingkungan

Mengolah Sampah Merawat Lingkungan
SAMPAH MANDIRI: Pansus XXI mendorong pengelolaan sampah mandiri oleh masyarakat, kala meninjau Greenday Maggot BSF Farm.(INILAH/YULIANTONO)

INILAH, Karawang - Sampah yang menumpuk di tempat pembuangan akhir tidak selalu harus mengakhiri perjalanannya di sana. Dari rumah-rumah warga, sampah organik masih bisa diolah menjadi sesuatu yang berguna, salah satunya melalui budidaya maggot yang menawarkan jalan bagi pengurangan sampah sekaligus peluang ekonomi.

Namun, jalan menuju pengelolaan sampah mandiri di Kabupaten Karawang masih panjang. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH), kontribusi pengolahan sampah secara mandiri baru sekitar 0,5 persen dari total volume sampah yang dihasilkan.

Angka tersebut menjadi perhatian Panitia Khusus (Pansus) XXI DPRD Jawa Barat. Di tengah persoalan sampah yang terus membutuhkan penanganan, keterlibatan masyarakat dari tingkat rumah tangga dinilai perlu diperkuat agar sampah dapat diselesaikan sejak dari sumbernya.

Salah satu praktik yang menarik perhatian ialah budidaya maggot di Greenday Maggot BSF Farm, Kabupaten Karawang. Tempat itu menjadi salah satu lokasi yang dikunjungi Pansus XXI DPRD Jabar pada Selasa (20/10) untuk melihat pengolahan sampah organik berbasis masyarakat.

Ketua Pansus XXI DPRD Jabar Tom Maskun menilai, inisiatif warga seperti itu merupakan modal penting dalam membangun pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan. Meski kontribusinya terhadap pengurangan sampah masih kecil, kesadaran masyarakat untuk mengolah sampah sendiri perlu terus tumbuh.

"Paling tidak kita sudah bisa menangkap kesadaran dan semangat masyarakat bagaimana mengolah sampah berbasis rumah tangga, khususnya sampah organik untuk budidaya maggot. Maggot ini bukan sekadar budidaya, tapi niat utamanya adalah memutus mata rantai sampah agar selesai di sumbernya," ujar Tom.

Maggot atau larva lalat tentara hitam (black soldier fly/BSF) dapat dimanfaatkan untuk mengolah sampah organik. Hasil budidayanya pun berpotensi memiliki nilai ekonomi karena dapat digunakan sebagai pakan ternak dan ikan. Sementara itu, pengolahan sampah organik juga dapat menghasilkan pupuk organik cair (POC).

Dengan cara tersebut, sampah tidak sekadar dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Bahan organik yang semula berpotensi menambah timbunan dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat.

Potensi itu belum sepenuhnya berkembang. Pengelolaan sampah berbasis komunitas masih menghadapi kendala, mulai dari keterbatasan modal hingga persoalan legalitas. Akses perizinan dan kepastian hukum produk juga menjadi tantangan bagi pelaku usaha yang ingin memperluas pemasaran hasil pengolahan sampah. (yuliantono/gin)


Editor : Inilahkoran