Mengungkap Makna di Balik Hajat Cai, Tradisi Warga Sirnajaya Gununghalu Bukti Penghormatan untuk Para Leluhur
tradisi Hajat Cai yang kerap dilakukan warga Desa Sirnajaya, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat (KBB) sebelum memasuki masa panen.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Sudah tak diragukan lagi, Kabupaten Bandung Barat (KBB) merupakan salah satu daerah di Jawa Barat yang tak hanya kaya akan sumber daya alam, namun juga kaya akan budaya, seni dan tradisi.
Tak ingin hilang ditelan zaman, warga Bandung Barat secara turun temurun konsisten untuk melestarikan warisan seni, budaya hingga tradisi dari para leluhurnya.
Salah satunya, tradisi Hajat Cai yang kerap dilakukan warga Desa Sirnajaya, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat (KBB) sebelum memasuki masa panen.
Ratusan warga dari empat kampung, yakni Kampung Babakan Resmi, Kampung Cibuluh, Kampung Cicurug dan Kampung Sukalaksana berbondong-bondong membersihkan kawasan Sungai Pasirpogor sekitar 800 meter.
Dikenal oleh warga setempat sebagai Hajat Cai, tradisi tersebut kerap dilakukan masyarakat setiap 6 bulan sekali menjelang masa panen.
Tak hanya membawa perkakas, masyarakat yang hadir juga membawa berbagai sesajen hingga nasi tumpeng sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang telah memberikan rizki dan karunia yang luar biasa bagi makhluk-Nya.
Ritual diawali dengan doa yang dipimpin sesepuh kampung dan ulama setempat. Suasana hening dan khusyuk langsung merasuk ke dalam kalbu bagi siapa saja yang mendengar lantunan kalimat-kalimat doa yang dibacakan.
Hal itu kian menguatkan keyakinan mereka kepada Sang Khaliq bahwa semua karunia yang diciptakan di sekelilingnya wajib disyukuri dan dijaga lantaran semuanya saling berkaitan.
Usai berdoa, para warga secara bergotong royong membersihkan sampah hingga gulma yang kerap menghambat maupun menyumbat aliran air yang mengalir ke sawah-sawah warga.
Tak perlu menunggu lama, dalam waktu kurang dari 30 menit kawasan Sungai Pasirpogor sudah bersih.
Kemudian, acara pun dilanjutkan dengan makan bersama nasi tumpeng yang dibawa sejumlah warga. Suasana kian lengkap dengan adanya suguhan kesenian Tarawangsa dan seni pencak silat.
Seolah tak dirasa, hanya tawa, senda gurau yang terukir di wajah masyarakat seolah menghilangkan rasa lelah usai bekerja membersihkan sungai.
"Tradisi Hajat Cai ini memang sudah menjadi tradisi yang dilaksanakan dua kali dalam setahun, khususnya menjelang masa panen," kata salah satu tokoh Kampung Babakan Resmi RW16, Riska Ayu Sari saat ditemui di lokasi, Sabtu 21 Juni 2025.
Riska menjelaskan, tradisi Hajat Cai ini merupakan bentuk rasa syukur warga kepada Sang Pencipta yang diwujudkan dengan cara menjaga dan membersihkan sungai dari berbagai kotoran, seperti sampah dan gulma yang kerap menghambat aliran air.
"Kita jaga dan lestarikan Sungai Pasirpogor ini karena sungai merupakan urat nadi kehidupan masyarakat di sini. Kadang kita lupa bahwa apapun yang Allah ciptakan semuanya memberikan manfaat," jelasnya yang juga sebagai Ketua RW16 perempuan satu-satunya di Desa Sirnajaya.
"Karena kami sadar bahwa kami tinggal menggunakan dan menjaga agar tetap lestari," ucapnya.
Dulu, beber Riska, konon katanya dulu Sungai Pasirpogor dibuat oleh karuhun dan leluhur dengan menggunakan cangkul kayu agar bisa membuat aliran sungai yang bisa mengaliri lahan persawahan.
"Jadi, dulu itu kata orangtua kami, air sungai tidak mengalir deras ke kampung kami. Bahkan, masyarakat kerap saling berkonflik agar bisa mendapatkan aliran air," bebernya.
Melihat hal itu, sambung Riska, para sesepuh terdahulu kemudian berinisiatif untuk membuat aliran sungai dengan menerobos Gunung Kendeung yang berbatasan dengan Kabupaten Cianjur.
"Sesepuh kami dulu inisiatif membuka jalur dan menerobos gunung untuk membuat aliran sungai. Alhamdulillah, sampai hari ini terbukti kita bisa bertani dan menggarap pesawahan," ujarnya.
Oleh karena itu, ungkap Riska, doa-doa dikirimkan para warga kepada para leluhur dan sesepuh sebagai ungkapan terima kasih atas jasa-jasa mereka.
"Kami kirimkan doa-doa secara khusus kepada para sesepuh yang berjasa, sehingga kami bisa terus menikmati hasil jerih payah mereka," ungkapnya.
Dikatakan Riska, semua hal yang dikerjakan atas inisiatif secara swadaya. Bahkan mereka urunan untuk bisa melaksanakan tradisi Hajat Cai ini.
"Tradisi Hajat Cai ini kami lakukan secara swadaya. Kami lakukan atas dasar kesadaran," tuturnya.
Riska menyebut, Sungai Pasirpogor ini mengairi ratusan hektare lahan persawahan yang ada di Desa Sirnajaya.
"Keberadaan Sungai Pasirpogor ini memberikan banyak manfaat untuk warga Desa Sirnajaya Gununghalu," sebutnya.
Tak hanya Hajat Cai, sambung Riska, tradisi lainnya seperti kesenian tarawangsa dan pencak silat pun juga turut dijaga.
"Sebab kalau bukan kita, siapa lagi yang akan melestarikan tradisi, seni dan budaya leluhur," katanya.
Riska berharap, tradisi Hajat Cai ini bisa terus dilestarikan, sehingga generasi selanjutnya bisa memahami bagaimana cara menjaga dan merawat alam.
"Mudah-mudahan tradisi ini bisa terus dilestarikan oleh anak cucu kita di tengah era teknologi yang terus berkembang," tandasnya. *** (agus satia negara)
Editor : Firda Rachmawati
