Menjaga Denyut UMKM: Cara bank bjb Menyulam Harapan dari Usaha Kecil

DI tengah gempuran ekonomi digital dan bayang-bayang krisis yang belum sepenuhnya sirna sejak pandemi, bjb memilih satu arah yang tak banyak bank tempuh: mendekat, membimbing, dan membersamai pelaku UMKM dari hulu ke hilir.

Menjaga Denyut UMKM: Cara bank bjb Menyulam Harapan dari Usaha Kecil
Eka Yudistira, Sentra UMKM Wilayah bank bjb. (Foto: Syamsuddin Nasoetion/InilahKoran)

DI tengah gempuran ekonomi digital dan bayang-bayang krisis yang belum sepenuhnya sirna sejak pandemi, bjb memilih satu arah yang tak banyak bank tempuh: mendekat, membimbing, dan membersamai pelaku UMKM dari hulu ke hilir.

“Tujuan kami sederhana,” ujar Eka Yudistira, Sentra UMKM Wilayah bank bjb, membuka percakapan siang itu. “Ketika usaha mereka tumbuh, otomatis ekonomi daerah dan negara pun ikut bergerak.”

Bank bjb tak lahir dari ruang steril. Sejarah krisis moneter 1998 dan pandemi Covid-19 mengajarkan satu hal penting: ketika sektor besar tumbang, UMKM justru menjadi jangkar terakhir ekonomi rakyat.

“Itu yang kami lihat. Dua kali ekonomi goyah, dan dua kali pula UMKM yang membuat kita kembali berdiri. Karena itu, kami menempatkan mereka di pusat strategi kami,” kata Eka.

Melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR), bjb bukan hanya menyalurkan dana, tapi juga membuka ruang pembelajaran. “Kami ingin mereka tidak berhenti di pinjaman. Kami ingin mereka naik kelas,” lanjutnya.

Program KUR bjb dikenal dengan keunggulannya: tanpa agunan. Sebuah kebijakan yang terdengar berani bagi perbankan konvensional. Namun Eka menjelaskan, keberanian itu bukan tanpa perhitungan.

“Risiko pasti ada. Tapi kami punya cara untuk menjaganya. Salah satunya dengan benar-benar mengenali usaha mereka,” ujar Eka.

Menurut Eka, bank bjb mensyaratkan minimal enam bulan usia usaha agar tim lapangan dapat menilai kelayakan dengan jujur—apakah bisnis itu tumbuh, stagnan, atau justru mundur.

“Kadang, usaha mereka sendiri adalah jaminannya. Yang penting kita paham betul seperti apa denyutnya,” tambahnya.

Namun di balik pinjaman itu, bjb menyiapkan hal lain yang lebih substansial: pendampingan. Melalui program Pesat (Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Terpadu), bank daerah ini membangun ekosistem yang membuat pelaku UMKM tidak berjalan sendirian.

“Kami punya 16 orang yang tersertifikasi oleh ILO sebagai trainer dan coach,” jelas Eka. “Kami ajarkan manajemen keuangan, strategi pemasaran, dan manajemen usaha. Kami ingin mereka paham bagaimana mengelola bisnisnya, bukan sekadar meminjam uang.”

Bagi bjb, nasabah UMKM bukan sekadar debitur, tapi keluarga. “Begitu mereka bergabung dengan kami, artinya mereka sudah jadi bagian dari keluarga besar Bank BJB,” ujar Eka. “Dan keluarga harus dijaga. Kami bimbing, kami edukasi, kami bukakan kesempatan.”

Cerita sukses lahir dari pendekatan seperti ini. Eka mencontohkan, salah satu pelaku usaha yang memulai pinjaman kecil, berhasil menembus pasar ekspor.

“Kemarin itu sampai ke Singapura. Kami bantu dari promosi sampai pengurusan dokumen. Sekarang produk mereka bisa bersaing di luar negeri,” ujarnya bangga.

Pendekatan itu bukan kebetulan. Bank bjb secara rutin mengadakan program ‘Bincang Jumat Bisnis’, pelatihan online mingguan yang menghadirkan pelaku UMKM sukses sebagai pembicara.

“Kami percaya inspirasi terbaik datang dari pengalaman nyata. Misalnya Batagor Honeymoon, mitra kami sejak 2009, kini ikut melatih pelaku usaha baru,” katanya.

Lebih lanjut Eka menambahkan, bank bjb juga membuka pintu luas bagi pelaku usaha lintas usia. Syaratnya sederhana: berusia di atas 21 tahun (atau 17 tahun jika sudah menikah) dan belum mencapai usia pensiun, yakni 55 tahun. “Selama semangat dan usahanya jalan, kami akan bantu,” kata Eka.

Pada akhirnya, program UMKM Bank BJB bukan sekadar tentang kredit, tapi empati yang dijalankan secara sistematis. Tentang melihat peluang di balik kegigihan pengusaha kecil. Tentang meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi sejati berawal dari tangan-tangan yang tak menyerah.

“Kadang orang pikir bank itu cuma urusan angka. Padahal bagi kami, ini urusan manusia—dan bagaimana kita tumbuh bersama,” ujar Eka menutup wawancara. ***


Editor : Gin gin T Ginulur