Vanya Ilva Barlian: Menumbuhkan Mimpi Bersama bank bjb
KADANG, hidup berubah bukan karena keputusan besar. Satu kabar kecil yang datang tanpa rencana justru membuka arah baru. Begitulah yang dirasakan Vanya Ilva Barlian (33), owner Kervan Gelato & Dessert di Jalan Laswi Kota Bandung.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
KADANG, hidup berubah bukan karena keputusan besar. Satu kabar kecil yang datang tanpa rencana justru membuka arah baru. Begitulah yang dirasakan Vanya Ilva Barlian (33), owner Kervan Gelato & Dessert di Jalan Laswi Kota Bandung. Sebuah kabar ringan dari seorang teman menjadi awal dari perubahan besar dalam hidupnya.
Vanya tidak lahir dari keluarga pemilik modal besar. Dia membawa mimpi dan keberanian dari nol — dengan tabungan seadanya, semangat tanpa batas, dan keyakinan bahwa usaha yang dijalankan dengan hati tidak akan sia-sia. Namun, jalan menuju “manis” ternyata tidak selalu manis.
“Awal buka toko itu, semua uang saya habis untuk pembangunan. Bahkan ada yang main dengan dana saya. Mesin impian harus tertunda. Saya cuma mampu beli mesin kecil, seharga 27 juta, itu pun sudah paling murah yang bisa mutar,” kenangnya.
Meski dengan segala keterbatasan, Gelato buatannya mulai dikenal. Rasa-rasa segar dan jujur itu membuat pelanggan berdatangan, antre, dan kembali lagi. Produksi meningkat, tapi mesin tua mulai kelelahan.
Di tengah kebingungan mencari cara agar usaha tetap berputar tanpa mengorbankan uang operasional, teman-teman menyarankan satu hal: coba ajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) bank bjb.
“Aku sempat ragu,” ucapnya sambil tersenyum. “Aku nggak punya rumah, nggak punya mobil, nggak punya apa pun buat diagunkan. Tapi ternyata bjb punya KUR tanpa agunan di bawah seratus juta. Dari situ hidupku berubah.”
Beberapa malam dia berpikir. Dia bukan pebisnis besar, tak punya jaminan apa pun selain keyakinan bahwa usahanya masih pantas diperjuangkan. Namun di saat pilihan makin sempit, keberanian sering muncul dari hal paling sederhana: mencoba.
Vanya pun melangkah ke kantor bjb terdekat, membawa harapan yang diam-diam dia rawat. Petugas di sana menjelaskan bahwa bjb memang memiliki KUR tanpa agunan di bawah seratus juta rupiah, dengan proses mudah dan pencairan cepat. Tak sampai seminggu, telepon itu datang, pengajuannya disetujui.
“Begitu ACC, uang langsung cair. Cuma sejam. Rasanya seperti dikasih perahu setelah lama berenang sendirian,” ujar Vanya.
Dari dana itu, Vanya membeli mesin baru dan memperbaiki fasilitas toko. Cicilannya ringan — sekitar dua juta rupiah per bulan — dan makin kecil seiring berjalannya waktu. Dia kini mencicil dengan tenang, karena tahu setiap cicilan adalah bagian dari perjalanan untuk bertahan.
Namun yang paling berkesan bagi Vanya bukan hanya kemudahan akses pinjaman, melainkan cara bjb hadir setelahnya. Bank itu tak berhenti di pencairan dana — mereka datang lagi, menawarkan pelatihan dan pendampingan lewat Sentra UMKM bjb.
“Bukan cuma kasih modal,” ujarnya. “Mereka ngajarin cara baca usaha kita sendiri. Dari situ aku baru sadar, selama ini aku jalan tanpa peta.”
Melalui program itu, Vanya belajar mencatat keuangan dengan rapi, menilai arus kas, dan memahami strategi harga. Dia mulai menata laporan keuangan, bukan sekadar untuk bank, tapi untuk dirinya sendiri. Kini, setiap angka bukan lagi beban, melainkan petunjuk arah.
“Bayangkan, aku lulusan akuntansi tapi nggak pernah kerja di bidang itu,” katanya sambil tertawa. “Di pelatihan itu aku belajar lagi, praktik langsung. Mereka bahkan sering mampir ke toko cuma buat nanya kabar: ‘Teh Vanya gimana usahanya? Aman?’ Dukungan moril kayak gitu berharga banget.”
Vanya menyebut dirinya sebagai “bjb Mania.” Bukan karena slogannya, tapi karena pengalaman nyata. Dia pernah berada di titik hampir menyerah, dan bank bjb datang bukan hanya membawa pinjaman, tapi juga kepercayaan.
“Banyak orang kasih kita nasi, tapi minta ikan sebagai gantinya,” katanya sambil tertawa kecil. “Kalau bjb itu beda. Mereka kasih nasi, tapi juga kasih alat pancing dan danau. ‘Nih, cari ikannya,’ kata mereka. Itu yang bikin aku cinta banget sama bjb.”
Perlahan tapi pasti, usahanya mulai tumbuh. Hujan bukan lagi tanda redupnya rezeki —hanya jeda dari langit untuk menguji sabar.
Vanya tahu, hidup selalu memberi ujian. Tapi dia juga tahu, setiap kesulitan punya bentuk bantuan yang kadang datang tanpa disangka. “Buat aku, bjb itu kayak jawaban dari doa,” ujarnya pelan. “Datang tepat saat aku butuh, tanpa harus aku berteriak.”
Kini, setiap Gelato yang dia sajikan membawa cerita tentang perjuangan dan syukur — tentang seorang perempuan yang tak menyerah pada keadaan, dan tentang sebuah bank yang tak hanya menyalurkan dana, tapi menyalakan semangat.
Seperti Gelato yang perlahan mencair di lidah, perjalanan Vanya pun terus mengalir lembut — meninggalkan rasa manis, bertahan lebih lama dari yang pernah dia bayangkan. ***
Editor : Gin gin T Ginulur

