Vanya Ilva Barlian: Menakar Harapan dari Sendok Gelato

UDARA pagi Bandung terasa manis di depan sebuah kedai kecil Jalan Laswi. Di balik kaca bening, barisan wadah stainless berisi gelato warna-warni berjajar rapi — mulai dari Crocan, Siam Orange, Vanilla, hingga Mixed Berries.

Vanya Ilva Barlian: Menakar Harapan dari Sendok Gelato
Vanya Ilva Barlian (33), pemilik Kervan Gelato & Dessert — usaha rumahan yang kini tumbuh menjadi salah satu gerai gelato bercita rasa autentik Turki di Bandung. (Foto: Syamsuddin Nasoetion/InilahKoran)

UDARA pagi Bandung terasa manis di depan sebuah kedai kecil Jalan Laswi. Di balik kaca bening, barisan wadah stainless berisi Gelato warna-warni berjajar rapi — mulai dari Crocan, Siam Orange, Vanilla, hingga Mixed Berries.

Di antara dinginnya mesin pendingin, seorang perempuan muda berdiri di belakang etalase, menata topping dengan teliti. Senyumnya tenang, tapi sorot matanya tajam — seperti seseorang yang tahu betul arti kerja keras di balik setiap sendok Gelato yang ia sajikan.

Perempuan itu Vanya Ilva Barlian (33), pemilik Kervan Gelato & Dessert — usaha rumahan yang kini tumbuh menjadi salah satu gerai Gelato bercita rasa autentik Turki di Bandung.

Sekilas, gerainya tampak seperti toko dessert modern biasa. Namun di balik kelembutan tekstur Gelato yang disajikannya, tersimpan kisah hidup yang panjang dan berliku — kisah tentang keberanian, kehilangan, dan keyakinan untuk terus berdiri.

“Awalnya aku cuma istri yang ikut suami ke Turki,” kenang Vanya sambil menyandarkan punggung di kursi tokonya. “Tapi aku orangnya nggak bisa diam. Setelah tiga bulan di rumah, aku ngerasa kok hidup gini-gini aja.”

Rasa bosan itu perlahan berubah jadi rasa ingin tahu. Dia mulai memperhatikan dapur keluarga suaminya — tempat suara mesin Gelato berputar, aroma susu segar merebak, dan orang-orang bekerja dengan disiplin khas Turki. Dari situlah, tanpa rencana, perjalanan Vanya dimulai.

Namun jalan belajarnya tak instan. Dia tak langsung diberi kesempatan membuat Gelato. “Aku kira begitu bilang mau belajar langsung dikasih resep. Ternyata enggak,” katanya sambil tertawa kecil. “Mulainya dari cuci piring dulu, lama banget. Sampai tangan merah-merah.”

Berbulan-bulan dia habiskan di sudut dapur, menggosok loyang dan sendok besar tanpa henti. Tapi bagi Vanya, itu bukan pekerjaan kecil. “Dari situ aku belajar disiplin. Kalau kamu nggak menghargai tahap paling rendah, kamu nggak akan naik ke tahap berikutnya,” katanya.

Setelah cukup waktu, dia naik tingkat — dari pencuci piring menjadi pencuci buah. “Ceri itu kecil banget, tapi harus dicuci satu-satu. Nggak boleh ada biji yang ketinggalan,” ujarnya. “Dari buah-buahan itulah aku belajar sabar dan teliti.”

Baru kemudian Vanya diperbolehkan mengolah susu — bagian paling krusial dalam pembuatan Gelato. “Susu itu gampang gosong, harus dijaga terus. Kalau sekali lewat, rusak semua bahan,” jelasnya. Proses itu, katanya, adalah bentuk meditasi rasa. “Gelato itu bukan cuma resep. Ini soal waktu, suhu, dan hati.”

Vanya bukan lulusan sekolah kuliner. Dia sarjana ekonomi yang terbiasa belajar dari pengalaman. “Aku orang autodidak,” katanya. “Dulu jadi MC, presenter, semuanya tanpa kursus. Jadi waktu belajar Gelato, aku udah tahu ritme belajar mandiri kayak gimana.”

Mentornya adalah keluarga suami, terutama sepupunya — pembuat Gelato berpengalaman di Turki. “Dia ngajarin aku dari nol banget. Bahkan kalau gak ada termometer, diajarin cara ukur panas pakai tangan,” ujarnya bangga. Pelajaran itu bukan cuma soal teknik, tapi juga filosofi: kesabaran dan kejujuran rasa.

Tahun 2022, kabar duka datang dari Tanah Air. Ayahnya meninggal dunia, dan dia tak sempat melihat jenazahnya. “Itu titik terendahku,” ucapnya pelan. “Suamiku bilang, aku masih punya ibu. Jangan sampai kehilangan dua kali.”

Dalam kondisi hamil tujuh bulan, Vanya dan suaminya, Ugur Yilmaz (46), memutuskan kembali ke Indonesia. Mereka membawa satu mimpi sederhana: membuka kedai Gelato di Bandung, kota yang dulu dia tinggalkan.

Berdua mereka berkeliling naik motor, mencari tempat sewa yang pas. “Gak ada rencana matang, gak ada survei. Aku cuma berdoa, ‘Ya Allah, tunjukin yang terbaik.’ Dan tempat di Laswi ini, entah kenapa, semua prosesnya lancar,” ujarnya.

Kervan Gelato & Dessert resmi dibuka pada Maret 2023, bertepatan dengan bulan Ramadan. “Awal buka sepi banget. Orang puasa, mana ada yang mau makan Gelato,” kenangnya sambil tertawa getir. “Pendapatan cuma dua ratus ribu sehari. Tapi suamiku tetap semangat, bahkan tidur di toko.”

Perlahan, keadaan berubah. Setelah Lebaran, pengunjung mulai berdatangan, dan nama Kervan mulai dikenal. “Dari situ kami sadar, bisnis itu memang harus dijalani dengan sabar. Kadang nggak langsung untung, tapi kalau terus kerja, Tuhan kasih jalan.”

Pengalaman hidup di Turki membuat Vanya melihat Gelato dengan cara berbeda. “Aku dulu nggak suka es krim karena rasanya bikin pahang di tenggorokan. Tapi setelah tahu proses Gelato, aku baru paham kenapa orang Turki bilang ini dessert paling sehat.”

Gelato, katanya, dibuat dari bahan alami: susu murni, buah segar, dan gula asli. “Nggak ada bahan kimia, nggak bikin sakit tenggorokan,” ujarnya. Dari situ, dia membawa misi baru: memperkenalkan Gelato sehat untuk keluarga Indonesia.

“Aku pengin anak-anak bisa dapat vitamin dan kalsium dari sesuatu yang mereka suka,” ucapnya dengan mata berbinar.

Kini, Kervan Gelato & Dessert tak lagi sekadar usaha kecil di Jalan Laswi. Dia menjadi ruang yang menampung kerja keras, cinta, dan keyakinan seorang perempuan yang belajar dari kehilangan. ***


Editor : Gin gin T Ginulur