Menjaring Potensi Lokal dari Industri Halal

Menjaring Potensi Lokal dari Industri Halal
PIAGAM: Suhartono bersama Bupati Cirebon Imron menunjukkan piagam penghargaan IHYA 2026. Pemkab Cirebon raih peringkat ketiga tingkat nasional (INILAH/MAMAN SUHARMAN)

INILAH, Cirebon- Di balik penghargaan tingkat nasional yang diraih Kabupaten Cirebon, ada upaya panjang membangun ekosistem industri halal.

Nantinya, ekosistem tersebut diharapkan mampu membuka lebih banyak peluang bagi pelaku usaha lokal, terutama industri kecil dan menengah (IKM).

Kabupaten Cirebon berhasil meraih peringkat ketiga nasional dalam Indonesia Halal Industry Award (IHYA) 2026 yang diselenggarakan Kementerian Perindustrian RI.

Capaian ini sekaligus menjadikan Kabupaten Cirebon satu-satunya daerah di Jawa Barat yang masuk dalam kategori pemerintah daerah kabupaten/kota dengan dukungan program halal terbaik.

Penghargaan tersebut diraih melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kabupaten Cirebon, pada kategori Lembaga Pemerintahan, Subkategori Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota yang Memberikan Dukungan Program Halal Terbaik.

Kepala Disperdagin Kabupaten Cirebon, Suhartono, mengatakan penghargaan itu menjadi bukti bahwa upaya membangun industri halal di daerah terus menunjukkan perkembangan. Kabupaten Cirebon harus melewati sejumlah tahapan penilaian, mulai dari seleksi administrasi, verifikasi, hingga penjurian.

“Alhamdulillah, Kabupaten Cirebon meraih peringkat ketiga terbaik tingkat nasional. Kita berhasil menyisihkan daerah lain dari 514 kabupaten/kota di Indonesia,” kata Suhartono, Kamis, 22 Oktober 2026.

Bagi Kabupaten Cirebon, prestasi tersebut bukanlah hal baru. Penghargaan serupa pernah diraih pada 2021, 2022, dan 2025. Konsistensi itu menunjukkan bahwa pengembangan industri halal telah menjadi salah satu upaya yang terus dijalankan pemerintah daerah.

Namun, keberhasilan membangun industri halal tidak semata-mata soal penghargaan. Lebih dari itu, penguatan ekosistem halal diharapkan dapat membantu pelaku usaha lokal meningkatkan daya saing, memperluas pasar, serta membangun kepercayaan konsumen terhadap produk yang mereka hasilkan.

Suhartono menyebut, salah satu modal Kabupaten Cirebon dalam mengembangkan industri halal adalah dukungan sumber daya manusia dan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi.

Kolaborasi tersebut diperkuat melalui berbagai kegiatan promosi dan edukasi, salah satunya Cirebon Halal Festival (Cihafest) yang rutin digelar. Kegiatan ini menjadi ruang untuk memperkenalkan produk halal sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat dan pelaku usaha mengenai industri halal.

Dalam Cihafest, berbagai agenda digelar, mulai dari ekspo produk halal, olimpiade halal, hingga peragaan batik halal. Ragam kegiatan tersebut menjadi cara untuk memperluas pemahaman bahwa industri halal tidak terbatas pada produk makanan dan minuman, tetapi juga dapat berkembang di sektor usaha lainnya.

Meski demikian, Suhartono mengakui masih ada tantangan yang perlu diselesaikan. Salah satunya adalah belum tersedianya pusat halal di Kabupaten Cirebon yang dapat menjadi sarana pendukung pengembangan industri secara terpadu.

Keberadaan pusat halal dinilai penting untuk memperkuat ekosistem yang sudah dibangun, terutama agar pelaku usaha lebih mudah mendapatkan informasi, pendampingan, dan akses terhadap layanan yang dibutuhkan untuk mengembangkan produknya. (maman suharman)


Editor : Inilahkoran