Menjemput Masa Depan dari Ruang Praktik

PERUBAHAN teknologi menuntut SMK menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan industri. Pembaruan kurikulum, fasilitas praktik, dan kompetensi guru menjadi kunci.

Menjemput Masa Depan dari Ruang Praktik
LULUSAN SMK: Salah satu kegiatan SMK di Jawa Barat. Kesenjangan keterampilan lulusan SMK dengan kebutuhan industri, menjadi pekerjaan rumah dalam pengembangan pendidikan vokasi.(Foto ILUSTRASI)

Perkembangan teknologi bergerak semakin cepat. Kecerdasan buatan (AI) dan kendaraan listrik mulai mengubah kebutuhan dunia kerja, sementara pendidikan vokasi dituntut menyiapkan lulusan dengan keterampilan yang sesuai.

Di Jawa Barat, kesenjangan antara kemampuan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan kebutuhan industri masih menjadi pekerjaan rumah.

Wakil Ketua Komisi V DPRD Jawa Barat, Siti Muntamah, menilai persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengubah kurikulum. Pembaruan peralatan praktik dan peningkatan kompetensi guru juga diperlukan agar pembelajaran di sekolah tidak tertinggal dari perkembangan industri.

“Jangan sampai muncul lagi anggapan, bahwa SMK menjadi penyumbang pengangguran. Persoalannya bukan pada SMK sebagai penyumbang pengangguran, melainkan masih adanya kesenjangan antara kebutuhan industri dan keterampilan yang dimiliki lulusan,” ujar Siti, Senin (12/10).

Menurut dia, kurikulum SMK perlu diperbarui secara berkala mengikuti perubahan kebutuhan industri. Jika tuntutan keterampilan berubah setiap tahun, materi pembelajaran pun harus menyesuaikan.

Mempertahankan pola belajar lama berisiko membuat kompetensi lulusan tidak lagi relevan dengan kebutuhan pasar kerja.

“Kalau kebutuhannya setahun sekali, setahun sekali harus disesuaikan dengan kebutuhan. Jangan dengan pola belajar yang lama,” ucapnya.

Perubahan di sektor otomotif menjadi salah satu contoh nyata. Peralihan dari kendaraan berbahan bakar bensin menuju kendaraan listrik menuntut sekolah menyesuaikan materi dan fasilitas praktik. Siswa tidak cukup hanya mempelajari teknologi konvensional ketika industri mulai menggunakan sistem yang lebih modern. (yuliantono/gin)


Editor : Inilahkoran