Merajut Persaudaraan lewat Olahraga
ASIH Putera Festival Orthea menyatukan pelajar Cimahi. Sportivitas menjadi kunci pembentukan karakter.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Lapangan olahraga menjadi ruang pertemuan bagi ratusan pelajar dari berbagai sekolah di Kota Cimahi. Mereka datang bukan hanya untuk mengejar kemenangan, tetapi juga menjalin persahabatan, mengasah kemampuan, dan belajar menghargai satu sama lain melalui Asih Putera Festival Orthea.
Antusiasme peserta terlihat dari ramainya dukungan pelatih, keluarga, dan suporter yang memadati lokasi kegiatan sejak pagi. Festival ini dirancang bukan sekadar menjadi ajang kompetisi, melainkan juga wadah pembinaan karakter dan prestasi generasi muda.
Wali Kota Cimahi Ngatiyana, saat membuka festival tersebut pada Senin (12/10), mengingatkan olahraga harus berjalan beriringan dengan pendidikan. Bagi pelajar, menuntaskan pendidikan tetap menjadi prioritas, sementara olahraga berperan mendukung kesehatan dan kebugaran agar proses belajar berlangsung optimal.
"Tujuan utama seorang pelajar tetaplah menuntut ilmu dan menyelesaikan pendidikan setinggi-tingginya. Olahraga, termasuk sepak bola, adalah pendukung penting untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh agar proses belajar berjalan optimal, bukan untuk dijadikan alasan mengorbankan waktu belajar," kata Ngatiyana.
Lebih dari soal skor pertandingan, Ngatiyana memandang festival tersebut sebagai jembatan komunikasi antarpelajar dari sekolah dan wilayah berbeda. Pertemuan di lapangan diharapkan memperluas persaudaraan sekaligus memperkuat kebersamaan di Kota Cimahi.
Dia pun mengingatkan peserta agar menerima hasil pertandingan dengan lapang dada. Kemenangan bukan alasan untuk menyombongkan diri, sedangkan kekalahan tidak seharusnya menjadi pemicu untuk mencari kesalahan pihak lain.
"Kalau kalah ya akui kalah, yang menang ya jangan sombong. Karena yang kalah masih banyak kesempatan yang akan datang. Akuilah prestasi orang lain yang memenangkan pertandingan," ungkapnya.
Ngatiyana menegaskan, sportivitas harus tetap dijunjung meski pertandingan berlangsung ketat dan menguras tenaga. Emosi perlu dikendalikan karena lawan di lapangan sejatinya merupakan teman dan saudara sesama pelajar Cimahi.
"Jangan mencari-cari kesalahan atau alasan apapun. Karena saat ini kita kalah, itulah memang prestasi kita belum gemilang," tegasnya.
Di hadapan para peserta, Ngatiyana juga membagikan pengalaman masa mudanya ketika berlatih sepak bola dengan berbagai keterbatasan. Ia pernah berlatih di sawah dan kebun karena tidak memiliki lapangan yang layak, bahkan menggunakan bola plastik dan menghadapi risiko cedera.
(agus satia negara/gin)
Editor : Inilahkoran
