Merancang Jalan Obat Menuju Sasaran
MENEMUKAN zat aktif bukan akhir perjalanan obat. Yedi Herdiana meneliti cara mengantarkannya tepat sasaran.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Obat tidak serta-merta bekerja setelah masuk ke dalam tubuh. Ada perjalanan panjang yang harus dilalui zat aktif sebelum mencapai sasaran pengobatan. Persoalan inilah yang menjadi perhatian Yedi Herdiana, dosen Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran (Unpad), dalam mengembangkan teknologi penghantaran obat.
Bagi Yedi, menemukan zat aktif hanyalah satu bagian dari proses panjang pengembangan obat. Tantangan berikutnya adalah merancang formulasi yang mampu membantu zat tersebut mencapai bagian tubuh yang dituju, sekaligus menekan dampak yang tidak diinginkan.
“Bidang kepakaran saya adalah teknologi farmasi, terutama bagaimana memformulasikan obat dan mengembangkan sistem penghantarannya. Zat aktif tidak bekerja begitu saja setelah masuk ke dalam tubuh. Ada banyak proses yang harus dilalui sebelum zat tersebut mencapai sasaran pengobatan,” jelas Yedi, seperti dikutip dari kanal resmi Unpad.
Sebagai dosen Departemen Farmasetika dan Teknologi Farmasi Fakultas Farmasi Unpad, Yedi menaruh perhatian pada sistem penghantaran obat atau *drug delivery system*. Bidang ini mempelajari bagaimana suatu zat aktif diformulasikan dan dihantarkan agar dapat bekerja sesuai sasaran terapi.
Perhatian tersebut menjadi penting dalam pengembangan terapi kanker. Salah satu tantangannya adalah meningkatkan penghantaran zat aktif menuju sel kanker, sekaligus membatasi paparan terhadap sel sehat. Tubuh memiliki mekanisme yang memengaruhi distribusi dan eliminasi zat yang masuk ke dalam darah. Karena itu, sistem penghantaran obat terus dikembangkan untuk membantu mengatasi berbagai hambatan tersebut.
Yedi mengkaji penggunaan material yang berpotensi mendukung proses penghantaran itu. Salah satunya kitosan, polimer alam yang dapat diperoleh dari cangkang udang dan memiliki karakteristik menarik untuk dikembangkan dalam formulasi farmasi, termasuk sistem penghantaran obat berbasis nanopartikel.
“Yang menjadi perhatian saya bukan hanya obatnya, tetapi bagaimana sistem penghantarannya. Bagaimana zat aktif dapat mencapai sasaran pengobatan merupakan persoalan penting dalam pengembangan teknologi farmasi,” ungkapnya.
Pendekatan tersebut membuka ruang bagi pengembangan formulasi yang dirancang untuk meningkatkan efektivitas penghantaran zat aktif. Meski demikian, potensi suatu material tidak serta-merta menjadikannya solusi bagi terapi kanker. Keamanan, efektivitas, dan karakteristik formulasi tetap harus dibuktikan melalui tahapan pengujian dan penelitian lebih lanjut.
Kekayaan sumber daya alam Indonesia menjadi peluang lain yang ingin didorong melalui penelitian teknologi farmasi. Selain kitosan dari cangkang udang, Yedi melihat potensi material alam lain, seperti kolagen ikan dan alginat, untuk dikaji sesuai kebutuhan formulasi.
Material dari sumber daya lokal tersebut tidak cukup hanya tersedia dalam jumlah melimpah. Diperlukan penelitian terukur untuk memahami karakteristiknya, menentukan cara pengolahannya, serta menilai kemungkinan pemanfaatannya dalam pengembangan sediaan farmasi.
“Indonesia memiliki sumber daya alam yang berlimpah. Tantangannya adalah bagaimana material tersebut dapat dikembangkan melalui penelitian yang terukur, sehingga berpotensi dimanfaatkan dalam teknologi farmasi,” ujar Yedi. (gin)
Editor : Inilahkoran
