Miris, Rumput Stadion Watubelah Mengering

Miris, Rumput Stadion Watubelah Mengering
RUSAK: Rumput di GOR Watubelah Kabupaten Cirebon, terlihat menguning dan mengering.(INILAH/MAMAN SUHARMAN)

INILAH, Cirebon- Kondisi lapangan utama Stadion Watubelah, Kabupaten Cirebon, menuai sorotan masyarakat. Rumput yang sebelumnya terlihat hijau kini berubah menjadi kuning kecokelatan dan mengering hampir di seluruh permukaan lapangan sepak bola.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas pemeliharaan fasilitas olahraga yang pengelolaannya berada di bawah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Cirebon.

Berdasarkan pantauan di lokasi, Minggu 18 Oktober 2026, hamparan rumput lapangan utama terlihat menguning secara luas. Kondisi tersebut dilaporkan telah berlangsung lebih dari satu bulan.

Aktivis Cirebon, Kang Ohim, menilai perubahan kondisi rumput tersebut patut menjadi perhatian serius. Menurutnya, keberadaan pengelola seharusnya dapat menjamin pemeliharaan fasilitas olahraga tetap berjalan, termasuk ketika memasuki musim kemarau.

“Ini sih pembiaran. Tidak ada yang mengurus,” kata Ohim.

Ohim mempertanyakan pengelolaan kawasan Stadion Watubelah yang mencakup lapangan sepak bola dan area parkir. Pasalnya, masyarakat yang berkunjung ke kawasan tersebut disebut harus mengeluarkan biaya untuk parkir maupun memasuki area stadion.

Menurutnya, penerimaan dari aktivitas kawasan stadion semestinya dapat dijelaskan secara transparan, terutama berkaitan dengan pembiayaan operasional dan pemeliharaan fasilitas.

“Warga sudah bayar karcis parkir. Masuk ke stadion juga ditarif lagi, harus membayar,” ujarnya.

Dia mempertanyakan sejauh mana pendapatan dari pengelolaan kawasan stadion digunakan untuk menjaga kualitas lapangan sepak bola.

“Mana buktinya. Kenapa rumput lapangan yang menghabiskan banyak anggaran itu tidak di-maintenance,” katanya.

Ohim mengaku memperoleh informasi bahwa pemeliharaan rumput telah dilakukan melalui penyiraman dan pemupukan. Namun, kondisi lapangan saat ini membuatnya mempertanyakan efektivitas perawatan tersebut.

“Katanya diurus. Disiram, dipupuk. Buktinya mana. Jangan jadikan kemarau sebagai alasan,” tegasnya.

Menurut Ohim, musim kemarau seharusnya telah diperhitungkan dalam sistem pemeliharaan rumput stadion. Terlebih, lapangan sepak bola membutuhkan perawatan rutin agar kualitas permukaannya tetap terjaga.

(maman suharman)


Editor : Inilahkoran